
Aku mencintai Delova tanpa pernah merasa bosan. Begitu jatuh cinta hingga aku slalu takut kehilangan dirinya.
"Kak Nad, mau makan apa Lo?" mataku menatap fokus pada Lavino yang kini tengah duduk santai disofa, dia bertugas menemaniku di apartemen selama Delova tidak ada.
Tadi Delova mendapat panggilan dari Abas. Aku tidak tau pasti apa permasalahan mereka, yang jelas aku sangat mengkhawatirkan Delova karena dia pergi dalam keadaan sebagai ketua The Vision.
"Makan jantungmu boleh gak?" Lavino bergidik ngeri lalu melemparkan bantalan sofa kearahku yang duduk berselonjor dikarpet.
"Gue nanya beneran, Kak. Umm, gimana kalo kita makan dikafe depan?"
"Elo yang bayarin?" tanyaku sembari cengengesan.
"Dasar pengabdi gratisan!" cibirnya dengan wajah cemberut.
Meskipun begitu Lavino tetap bergegas mengajakku makan. Dia itu perhatian, tetapi tidak bisa mengutarakan dengan jelas apa maksudnya.
"Dingin," gumamku ketika aku baru saja melangkah keluar dari lobby apartemen.
Sekitar jam delapan malam masih terlihat ramai kumpulan orang-orang yang berlalu lalang.
"Kalo mau panas ke neraka noh!" Aku menjitak kepala bersurai hitam lengan milik Lavino. Seperti biasa, dia selalu asal berbicara saat bersamaku.
"Sakit tau!" protesnya seraya terus melangkah.
Setelah hampir mencapai kafe yang letaknya yang memang tidak jauh dari apartemen, Lavino secara tiba-tiba saja menggenggam tanganku dengan erat.
Aku mengerti, ternyata diluar area kafe yang terdapat tempat khusus untuk menongkrong, sekarang ini sedang digunakan oleh gerombolannya Fender Sanjaya.
"Itu orangnya, Bos!" salah satu diantara mereka ada yang menunjukku denagn lancang.
Lavino mempercepat langkah, tepat ketika kami sampai di pintu kafe, Fander dan kawannya menghadang.
"Jangan ganggu kami!" seru Lavino
Beberapa pengunjung yang ada didalam mulai memperhatikan kami. Setidaknya disini ramai, aku dan Lavino bisa meminta bantuan.
"Kita gak ganggu. Cuman mau kenalan sama bonekanya si Monster. Kok kayak gak asing yah?" Debaran jantungku menggebu kala mendengar penuturan Fander.
Aku takut jika dia nekat menyakitiku dan aku juga takut kalau Fander mengingat kejadian memalukan di trotoar saat aku dan Delova yang tengah menyamar menjadi wanita berciuman.
"Bedebah! Kakak gue bukan boneka!" amuk Lavino.
Kali ini dia berbeda dibanding saat melawan para preman digang buntu waktu itu. Lavino tampak benar-benar marah, dia tidak terima aku dikatai boneka.
"Kalo kalian gak ngasih kami jalan, gua bakal teriak minta tolong!" ancamku begitu menyadari bahwa kerumunan orang mulai memandang kami dengan waspada.
"Oke," Fander mengisyaratkan anak buahnya untuk mundur.
Dengan segera aku menarik Lavino agar memasuki kafe. Kami mengambil tempat paling pojok disebelah dinding kafe yang hanya berlapis kaca bening.
__ADS_1
"Udah, gak usah kebawa emosi. Entar kepala Lo mendidih," dia mentapku tajam dan tak menghiraukan pelayan kafe yang bertanya mengenai pesanan kami.
"Gue gak terima Lo dianggap boneka sama mereka!"
"Gue haus," ucapku seraya mengalihkan pembicaraan.
"Ice americano dan jus alpukat," ujarnya.
"Makanannya apa kak?"
"Gak nafsu," gumamku.
Lavino kembali berbicara pada pelayan kafe, sedangkan aku memaku pandangan keluar kaca.
"Ngaada yang boleh ngehina Lo," suara Lavino membuatku menoleh."Kecuali kak Delova, gue, Mami, Papi, sama mertua Lo," lanjutnya yang langsung kuhadiahi cubitan ditangan. Posisi kami memang duduk saling menghadap.
"*** gue udah baper," tawa Lavino terdengar merdu dan dia terlihat sangat tampan.
Adik kecilku yang dulu menggemaskan minta ampun, kini telah tumbuh menjadi sosok remaja tampan serta keren dengan berjuta pesona.
"Sebagai adik laki-laki, gue harus ngelindungin elo, kak Nad. Gue seneng Lo nikah sama kak Delova. Karena gue percaya kalau dia bakal slalu ngejagain Lo dan dengan begitu gak ada yang perlu gue khawatirin."
Aku tertegun. Bahkan tak kurasa ketika air mata berlinang tanpa sebab membasahi pipiku.
"Lo abis makan gula ya? manis amat omongannya," gerutuku seraya mengusap air mata.
"Jangan pernah ngelupain malam ini, Kak Nad. Soalnya Adek Lo yang gantengnya luar biasa pengen ngomongin sesuatu," ujarnya dengan tawa menawan.
"Pertama dan terakhir kalinya gue bakal bilang ke elo, kalo sebenarnya....."Dia mentapku intens, kemudian berkata "Lavino Griselda sayang banget sama Kak Nadira Avanya."
Kulihat Lavino meraih jemari tanganku yang berada dimeja, lalu menggenggamnya.
Aku tidak tau harus bagaimana. Ada perasaan asing yang mengusik hatiku. Entah kenapa, segalanya menjadi terasa berat.
"Kalo gitu Lo harus janji, Lo jangan pernah ninggalin gue! Tetap disisi gue sampek semua masalah ini selesai," seruku mengabaikan berpasang-pasang mata yang kemungkinan salah paham pada kami.
Terlebih Lavino tingginya hampir sama denganku, tentu saja mereka akan menyimpulkan jika kami sepasang kekasih.
"Gak usah rakus! Kak Delova kan bakal selalu disamping Kak Nad, Sementara gue punya urusan pribadi. Contohnya, belajar. Lo tau kalo adek Lo yang ganteng ini pengen lanjut ke SMA elit," dia melepaskan pegangan tangan kami, kemudian menghapus air mata yang masih sesekali mengalir di pipiku.
Pintu kafe terbuka, aku tersenyum kala mendapati Delova yang masuk ditemani oleh Abas dan Rifan.
"Lama?" tanya Delova yang sudah duduk di sebelahku dan merangkul bahuku dengan posessif.
"Uh, jadi pengen. Bang Fan peluk dedek," canda Abas yang langsung dipelototi Rifan.
''Najis!" umpat Rifan.
"Kalian gak pesen makanan?" tanya Delova saat melihat hanya ada minuman dimeja kami.
__ADS_1
"Gak. Liat aja udah kenyang," godaku yang menciptakan semburat merah jambu di wajah imutnya Delova.
"Entar Lo sakit," bisik Delova sembari mengecup singkat pipiku.
"Tumben," lirihku dengan seringai tipis.
Delova mentapku tajam ketika tanganku mulai mengusap pahanya yang berbalut tripped jeans biru navy.
Ponsel Lavino berbunyi, secara serentak kami refleks memandangnya yang telah mengangkat telepon.
"Hallo? Lavino Griselda disini, ada yang bisa gue penggal?"
Aku tertawa mendengar ucapannya, begitu pula dengan yang lain. Lavino tampak menyimak perkataan dari seberang telepon.
"Gue ada urusan sebentar sama temen sekelas," ujar Lavino setelah sambungan telepon tersebut berakhir.
Dia bangkit dari duduknya, lalu berdiri dihadapan Delova.
"Kak Delova, gue titip Kakak gue sama Lo, ya? Jangan biarin dia kenapa-napa, jangan berpikir buat ninggalin dia, dan jangan pernah bikin dia nangis. Kalo Kak Nad nakal, cubit aja pipinya."
Dasar Lavino! Aku malah menangis karena kalimatnya. Bocah ini menyebalkan sekali.
"Lo bisa percayaiin Nadira sama gue," jawab Delova dengan tenang. Lavino beralih menatapku, kemudian tersenyum teduh.
"Jaga diri Lo baik-baik, Kak Nad."
Setelah mengatakan hal yang membuatku merasa seperti tengah tertusuk ribuan paku beracun, dia melangkah pergi begitu saja. Tanpa menungguku mengucap,
'Gue juga sayang banget sama Lo, Lavino."
Sesak. Air mataku terus berjatuhan. Kupandangi punggung Lavino yang semakin menjauh lewat kaca transparan kafe.
Dia hendak menyebrang jalan raya. Dan yang tidak pernah kuduga...
Sebuah mobil hitam yang melaju kencang menabrak tubuh Lavino tepat didepan mataku.
'Pertama dan yang terakhir kalinya gue bakal bilang gini ke elo, Kalo sebenarnya...Lavino Griselda sayang banget sama Kak Nadira Avanya'
Kata-kata itu melintasi pikiranku sesaat sebelum kesadaran ku menghilang.
Ya Tuhan, aku mati rasa.
.
.
.
.
__ADS_1
.