
Sekitar jam delapan malam aku dan Delova baru saja sampai di apartemen sederhana kami. Tadi sepulang sekolah aku terpaksa
ikut dengan Delova yang masih harus meeting bersama beberapa petinggi perusahaan. Sangat membosankan
memang, tapi apalah dayaku yang penakut
ini.
"Capeknya,"
Keluhku seraya merebahkan tubuh diatas
sofa. Sepatu dan tas ransel kuletakan asal-
asalan di lantai.
"Gue mandi dulu ya Nad,"
Delova bergegas masuk ke dalam kamar
mandi. Ah, cowok cantik itu rajin sekali, apa
dia tidak merasa lelah?
"Hah,"
Aku menghela nafas kasar. Disaat sunyi begini, mendadak aku kembali teringat pada Briyan, mantan kekasihku yang ketahuan berselingkuh dengan sahabatku sendiri, Mila.
Tak kusangka dua orang yang memiliki
tempat spesial dihatiku itu malah yang menciptakan goresan luka menganga
disana.
Aku tidak ingin lari dari kenyataan. Namun perasaan sakit ini membuatku tak kunjung membukakan pintu maaf untuk mereka. Ya Briyan dan Mila selalu minta maaf
kepadaku, sementara aku hanya dapat menghindar. Aku terlalu takut kecewa ketika melihat keduanya bersama.
"Nad? mandi gih,"
Delova yang cepat mandi atau aku
yang kelamaan melamun sih? dia sudah
terlihat segar saja dengan T-shirt putih
berlengan pendek dan celana santai hitam
selutut.
"Nadira?"
panggil Delova sambil mengguncang pelan
__ADS_1
bahuku. Saat ini aku sedang berpura-pura
ketiduran.
"Nadira! Bangun kebo!"
Tangan halusnya menepuk-nepuk pipiku.
Sebelum mandi ku rasa tidak ada salahnya
mengerjai Delova sebentar.
Secara tiba-tiba aku bangkit dan mendorong Delova hingga dia yang semula duduk kini terbaring di sofa. Tidak membuang kesempatan, aku langsung melancarkan aksi
menindih tubuhnya. Wow, empuk, seperti boneka beruang.
"Nad-Nadira! Lo-lo apa-apaan sih?! Mi-
minggir.
Cowok berparas cantik tersebut nampak
panik luar biasa. Lucunya dia tidak bisa
memberontak, bahkan tangan Delova yang
berusaha menyingkirkan aku dari atas
tubuhnya malah gemetaran.
ujarku sambil menenggelamkan wajah di perpotongan leher Delova. Karena risih dia mendongak, padahal itu semakin
mempermudah aku untuk mengendus
lehernya yang putih mulus. Delova wangi strawberry.
"Engh..."
Aku menelan ludah ketika mendengar Delova sedikit mendesah. Ini kenapa kesannya jadi
seperti aku yang mesum.
Melihat reaksi Delova yang sangat gugup,
gelisah, dan ketakutan setengah mati, aku yakin sekali dengan ucapan Mama Delova wakti itu, kalau anaknya ini memang benar-benar belum pernah bersentuhan dengan seorang cewek. Betapa beruntungnya aku.
Ketika aku mendongak, wajah Delova terlihat merah padam, dia menggit bibirnya dengan
mata terpejam. Duh, pasrah sekali.
"Va?"
panggilku Delova membuka matanya, lalu memalingkan wajah. Apa kali ini aku keterlaluan?
__ADS_1
Dengan posisiku yang masih menindihinya
aku memegang dagu Delova agar dia mau
menatapku. Entah apa yang merasuki
pikiranku, karena setelahnya aku malah ******* bibir merah ranum Delova.
Hanya dalam hitungan detik aku tersadar, kemudian aku bangkit berlari dan menuju kamar mandi. Hadeh! ini sangat Memalukan.
..
..
..
..
Selama hampir satu jam mendekam di
dalam kamar mandi, akhirnya aku
melangkah keluar dengan hadapan semoga
Delova sudah tertidur di kamar. Tetapi ternyata dia masih menungguku di meja makan. Aih! kami kan memang belum
mengisi perut.
"Makan dulu Nad,"
katanya. Syukurlah Delova tidak mengungkit-ngungkit kejadian tidak terduga barusan.
"Hehe,"
cengirku seraya duduk di hadapannya.
Delova menatapku dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Dasar cewek mesum!"
Perkataan itu dibarengi dengan
mendaratnya sebuah sendok tepat di
kepalaku. Siapa lagi yang melempar kalau bukan Delova.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon maaf kalau gak berkenan di hati :')