Suamiku Si Cowok Cantik

Suamiku Si Cowok Cantik
Part 3


__ADS_3

Sekitar jam delapan malam aku dan Delova baru saja sampai di apartemen sederhana kami. Tadi sepulang sekolah aku terpaksa


ikut dengan Delova yang masih harus meeting bersama beberapa petinggi perusahaan. Sangat membosankan


memang, tapi apalah dayaku yang penakut


ini.


"Capeknya,"


Keluhku seraya merebahkan tubuh diatas


sofa. Sepatu dan tas ransel kuletakan asal-


asalan di lantai.


"Gue mandi dulu ya Nad,"


Delova bergegas masuk ke dalam kamar


mandi. Ah, cowok cantik itu rajin sekali, apa


dia tidak merasa lelah?


"Hah,"


Aku menghela nafas kasar. Disaat sunyi begini, mendadak aku kembali teringat pada Briyan, mantan kekasihku yang ketahuan berselingkuh dengan sahabatku sendiri, Mila.


Tak kusangka dua orang yang memiliki


tempat spesial dihatiku itu malah yang menciptakan goresan luka menganga


disana.


Aku tidak ingin lari dari kenyataan. Namun perasaan sakit ini membuatku tak kunjung membukakan pintu maaf untuk mereka. Ya Briyan dan Mila selalu minta maaf


kepadaku, sementara aku hanya dapat menghindar. Aku terlalu takut kecewa ketika melihat keduanya bersama.


"Nad? mandi gih,"


Delova yang cepat mandi atau aku


yang kelamaan melamun sih? dia sudah


terlihat segar saja dengan T-shirt putih


berlengan pendek dan celana santai hitam


selutut.


"Nadira?"


panggil Delova sambil mengguncang pelan

__ADS_1


bahuku. Saat ini aku sedang berpura-pura


ketiduran.


"Nadira! Bangun kebo!"


Tangan halusnya menepuk-nepuk pipiku.


Sebelum mandi ku rasa tidak ada salahnya


mengerjai Delova sebentar.


Secara tiba-tiba aku bangkit dan mendorong Delova hingga dia yang semula duduk kini terbaring di sofa. Tidak membuang kesempatan, aku langsung melancarkan aksi


menindih tubuhnya. Wow, empuk, seperti boneka beruang.


"Nad-Nadira! Lo-lo apa-apaan sih?! Mi-


minggir.


Cowok berparas cantik tersebut nampak


panik luar biasa. Lucunya dia tidak bisa


memberontak, bahkan tangan Delova yang


berusaha menyingkirkan aku dari atas


tubuhnya malah gemetaran.


ujarku sambil menenggelamkan wajah di perpotongan leher Delova. Karena risih dia mendongak, padahal itu semakin


mempermudah aku untuk mengendus


lehernya yang putih mulus. Delova wangi strawberry.


"Engh..."


Aku menelan ludah ketika mendengar Delova sedikit mendesah. Ini kenapa kesannya jadi


seperti aku yang mesum.


Melihat reaksi Delova yang sangat gugup,


gelisah, dan ketakutan setengah mati, aku yakin sekali dengan ucapan Mama Delova wakti itu, kalau anaknya ini memang benar-benar belum pernah bersentuhan dengan seorang cewek. Betapa beruntungnya aku.


Ketika aku mendongak, wajah Delova terlihat merah padam, dia menggit bibirnya dengan


mata terpejam. Duh, pasrah sekali.


"Va?"


panggilku Delova membuka matanya, lalu memalingkan wajah. Apa kali ini aku keterlaluan?

__ADS_1


Dengan posisiku yang masih menindihinya


aku memegang dagu Delova agar dia mau


menatapku. Entah apa yang merasuki


pikiranku, karena setelahnya aku malah ******* bibir merah ranum Delova.


Hanya dalam hitungan detik aku tersadar, kemudian aku bangkit berlari dan menuju kamar mandi. Hadeh! ini sangat Memalukan.


..


..


..


..


Selama hampir satu jam mendekam di


dalam kamar mandi, akhirnya aku


melangkah keluar dengan hadapan semoga


Delova sudah tertidur di kamar. Tetapi ternyata dia masih menungguku di meja makan. Aih! kami kan memang belum


mengisi perut.


"Makan dulu Nad,"


katanya. Syukurlah Delova tidak mengungkit-ngungkit kejadian tidak terduga barusan.


"Hehe,"


cengirku seraya duduk di hadapannya.


Delova menatapku dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Dasar cewek mesum!"


Perkataan itu dibarengi dengan


mendaratnya sebuah sendok tepat di


kepalaku. Siapa lagi yang melempar kalau bukan Delova.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon maaf kalau gak berkenan di hati :')


__ADS_2