
"Kak, ini gimana caranya sih?!" Ku lirik Lavino yang tengah mengerjakan soal matematika dengan bantuan Nafio. Mereka berencana menghabiskan libur akhir pekan di apartemen ku dan Delova.
"Udah deh lanjut di sekolah gue aja," ujar ku yang langsung mendapat delikan tajam dari Lavino.
"Gak usah kebiasaan matahin semangat orang, Kak Nad! Kalo gue sukses kan elo juga yang bangga," cerocos nya sembari kembali berkutat pada soal-soal yang sudah lebih dahulu di beri penjelasan oleh Nafio.
Adik sepupu Delova itu benar-benar pintar. Dia juga dengan sangat perhatian mengajari Lavino yang tak kunjung paham.
"Coba gue liat," Nafio mengambil buku coretan Lavino. Keduanya sedang tiarap di karpet, sementara aku duduk manis di sofa.
"Kak Fio, Lo kayak boneka barbie yang kebule-bulean ya?" pertanyaan yang terdengar polos tetapi sedikit kurang ajar tersebut membuat Nafio tertawa dan menatap Lavino yang kini memandangnya.
"Lo kaya Buto ijo," balas Nafio yang sontak saja membuat ku tertawa, sedangkan Lavino tampak cemberut.
Hanya saat bersama dengan Lavino, si misterius Nafio dapat bertingkah biasa. Bahkan ketika ada Delova, dia tak pernah mengumbar candaan.
"Mana ada Buto ijo yang ganteng dan maskulin macem gue!" Lavino menyombongkan diri sembari menaikkan poni rambut hitam nya ke atas. Ya ampun, sok tampan sekali.
"Mau ngerjain lagi gak?" tanya Nafio. Tangan putih nya mengacak rambut Lavino dengan gemas. Mungkin karena dia tidak memiliki seorang adik, makanya Nafio jadi semakin dekat dengan Lavino. Yeah, Ibu tiri Nafio tidak bisa memberi keturunan.
"Udah dulu dong! Pangeran Edward Cullen laper banget nih," tawa renyah Nafio kembali terdengar saat Lavino merajuk. Mereka berdua terlihat seperti sepasang kakak-beradik yang sangat akur, rukun, dan sejahtera.
"Edward Cullen itu vampir!" Aku menyela dengan tampang bosan setengah mati. Ya Tuhan, suami mungil ku kenapa lama sekali sih ke mini marketnya? Aku kan sedang ingin melakukan yang iya-iya. Maksud ku yang romantis-romantisan agar dua makhluk tengil di hadapan ku iri, siapa lagi kalau bukan Lavino dan Nafio.
"Yang penting Edward ganteng. Lagian main nyambung aja Lo kayak tukang kebon!" Astaga memang apa hubungannya menyahuti pembicaraan dengan tukang berkebun? Dasar Lavino!
Mata biru Nafio melirik aku yang sedang menahan dongkol. "Kak Va gak ngabarin?" Aku menggelengkan kepala.
"Nyusulin, ana kuy?" ajak Lavino bersemangat.
"Males jalan, pengen di gendong!" kata ku pada Lavino.
"Gue tendang aja biar cepet," Jahat! Untung adik kandung ku itu tampan, coba kalau tidak, sudah ku lempar ke sungai yang banyak buaya nya. Ngomong-ngomong ikatan kakak-beradik bisa di ceraikan tidak sih?
__ADS_1
"Bukan adek gue lagi!" sebal ku, kemudian melangkah keluar apartemen di ikuti Nafio dan Lavino yang durhaka nya malah tertawa terbahak-bahak.
MyBeautifulHusband
Di sepanjang trotoar, aku dan dua upil yang tidak ada hentinya mengoceh ini sibuk melihat-lihat sekitar. Sebab kami tidak menemukan Delova di minimarket.
"Nadira!" Tak kusangka akan kembali bertemu dengan Briyan. Dia yang tidak pernah muncul di sekolah, kini menghampiri ku seraya menggunakan tongkat untuk menopang tubuh nya. Ternyata kaki Briyan patah sungguhan.
"Apa kabar, Dir?" setelah susah payah mendekati ku yang terpaksa berhenti.
"Baik," ketus ku. Senyuman pilu terlihat di wajah tampan Briyan. Sementara Lavino dan Nafio tampak mengamati interaksi kami dengan tajam, seolah bersiap menghajar Briyan jika dia berani macam-macam kepada ku.
"Dir, semua yang menimpa Lo itu akar permasalahannya ada sama Delova. Termasuk perselingkuhan gue sama Mila yang sebenarnya gak pernah kami lakuin. Saat gue coba jelasin segalanya ke elo, dia nekat ngehalalin cara apapun buat ngebekuk gue." Briyan menatap ku lama. " Delova terobsesi sama Lo, Dir."
Penjelasa Briyan yang tak ingin ku percaya malah terasa menusuk perasaan ku.
Benarkah?
"Bri! Ayo pulang," Mila berlari menuju kami dengan membawa Briyan menjauh dengan sebelumnya memberiku sebuah senyuman pilu.
"Bayarin?"
"Apa sih yang enggak buat Mak lampir tercinta?" canda Lavino yang refleks ku cubit lengannya.
Aku, Nafio dan Lavino mulai melangkah lagi. Mereka yang tadi nya di belakang sekarang mengiringi langkah ku sambil menggenggam tangan ini, seakan takut kalau aku tiba-tiba saja menghilang.
"Kenapa kalian keluar?!" belum mencapai kafe, kami dikejutkan dengan kehadiran Delova yang muncul dengan luka lebam di sudut bibirnya.
"Ikut gue pulang!" tanpa berniat menjelaskan Delova, dengan tergesa menarikku dan memberi sinyal kepada Lavino serta Nafio supaya mengekor.
"Brengsek." Umpat Delova setelah kami memasuki mobil sport putihnya. Aku yang tak mengerti hanya memandang bingung.
Mesin mobil menyala, tetapi kehadiran sosok Guntur yang berdiri di samping kaca tempat dudukku membuat Delova tidak jadi melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Cepet Lo juga naik!" titah cowok berparas cantik natural itu. Aku yakin dia baru saja menyuruh Guntur. Namun, Guntur malah menggeleng tegas.
Guntur terluka cukup parah. Dan aku merasa sangat khawatir.
"Kalo gue pergi sama Lo, mereka pasti pasti bakal tau dimana tempat tinggal Nadira. Gue disini aja, mencegah pergerakan mereka!" Delova mentap tajam Guntur dengan pandangan tak terima. Sedangkan Aku, Nafio, dan Lavino yang tidak paham hanya menatap keduanya bergantian.
"Mereka gak akan ngelepasin Lo, Tur! Kita sama-sama gak bisa minta bantuan anggota geng kita karena mereka semua udah ditangkap!" seru Delova. Raut wajah nya yang serius menambah kesan memikat.
"Kalo gue ikut, potensi kita buat ketangkep itu malah lebih besar. Gue gak mau bahayain nyawa Nadira." Guntur bersikeras menolak. Perkataannya membuatku terharu, seberarti itu kah aku baginya?
"Gue tau, kita musuh. Tapi kita sama-sama pengen ngelindungin Nadira. Seenggaknya kalau elo yang selamet, Nadira masih bisa bahagia," ujar Guntur lalu beralih menatapku.
Dia babak belur dan aku merasa tidak sanggup melihat senyuman manis yang tersungging di wajah penuh luka nya.
"Asal Lo bahagia, maka gue juga pasti bakal bahagia, Nad. Meskipun kebahagiaan Lo dengan membuat gue kecewa," dari kaca mobil yang tidak tertutup, Guntur mengulurkan tangannya mengusap kepalaku.
"Tolong jaga Nadira," lirih Guntur nyaris tak dapat ku dengar.
"Gue janji," sahut Delova dengan tenang.
Sebelum Guntur beranjak menjauh, aku dapat melihat matanya yang menatap ku mulai merah dan berkaca-kaca.
'Aku cinta kamu.' Bibir Guntur bergerak seakan mengungkapkan rasa tanpa bersuara.
Setelah mobil yang kami naiki melaju pergi, ku lihat ke arah belakang di mana kumpulan preman sangar menyeret Guntur.
.
.
.
.
__ADS_1
.