
"Gue cinta elo."
Aku tersenyum ketika Delova mengungkapkan perasaannya padaku.
"Gue juga cinta elo.'' balasku tanpa menutupi kebahagiaan yang kurasa. Padahal ini bukan pertama kalinya kami menyatakan cinta.
Delova tersipu manis dengan raut wajah tersipu, kemudian berkata," Gue bener-bener cinta sama elo... Anita."
DEG!
Mataku yang semula terpejam langsung terbuka.
Mimpi.
Bahkan dalam mimpi pun nama Anita selalu mengganggu ketenangan ku.
"Etdah, Nad! Lo molor dikelas ya? Anak kelas 12 udah boleh pulang tau." Isman menghampiriku yang sedari tadi merebahkan kepala diatas meja kelas hingga tertidur dan memimpikan hal buruk.
Setelah simulasi di lab komputer, aku yang dari awal tidak fokus mengerjakan soal, bergegas ke kelas guna menghilangkan rasa penat yang mendera.
"Terus ngapain Lo balik kemari?"
Cowok berperawakan janngkung itu menghela nafas kasar.
"Disuruh calon Isti gue buat ngebangunin Lo, soalnya dia pulang duluan karena udah dijemput," sahut Isman yang telah duduk di kursi depan.
Calon Istri yang dia maksud adalah sahabatku, Ulva. Beberapa waktu lalu mereka sudah resmi berpacaran.
"Thanks," aku bangkit dari tempat duduk, lalu melirik Isman yang juga beranjak pergi." Mau pulang juga?"
"Iya lah, Lo kira gue hantu penunggu kelas?"
Tawaku meledak saat mendengar jawaban Isman.
Kami melangkah beriringan sampai akhirnya keluar dari kelas, Kemudian aku mempercepat jalanku ketika melihat Delova menghampiri kami.
Buaagh!
Aku terkejut dengan tindakan Delova yang tiba-tiba saja melayangkan tinjunya pada Isman.
''Jangan deketin Nadira, Brengsek!" umpat Delova.
Meski aku sudah berusaha menjaga jarak dari Isman, rupanya dia masih tetap salah paham.
Pandangan para mata siswa/siswi yang berlalu lalang mulai memperhatikan kami, membuatku sesegera mungkin menyeret Delova agar menjauh dari koridor.
__ADS_1
"Lo apaan si Va?!" seruku setelah mencapai luar area sekolah.
Ekspresi wajah imutnya mengeras, menunjukan gurat tidak suka yang jelas terlihat.
"Elo yang ala-apaan?! Kenapa Lo bareng cowok sialan tadi?!"
Tidak kusangka Delova balas berseru marah.
Tentu saja aku takut, terlebih ketika mengingat bahwa cowok berparas cantik natural ini menyimpan banyak rahasia.
"Dia pacarnya temen gue!"
Well, bukan aku namanya kalau dibentak langsung mengalah.
"Jadi, Lo jalan sama pacar temen Lo? Cih!" sinis Delova sambil mendecih, seolah tengah mengatakan kalau aku murahan.
"Gak usah ngerendahin gue kalo nyatanya Lo deket sama Anita!" geramku," Semalem dia ngehubungin Lo dan ngajak Lo buat pacaran! Tapi sayangnya gue yang ngangkat, terpaksa deh kalian gagal pacaran."
Delova menatapku dengan sorot tajam kala aku mencemooh. Sejak pagi memang hubungan kami tidak baik-baik saja, karena aku menghindarinya.
" Udah ketemuan disekolah kan? Pasti kalian sekarang resmi jadian, selamet ya," cibirku tak memperdulikan perubahan raut wajah Delova yang mengintimidasi.
"CUMA ELO YANG GUE CINTA!" teriak Delova, mengabaikan kerumunan orang yang mulai memandang kami dengan penasaran. Dasar kepo!
''Jangan karena Anita ngejar-ngejar gue, terus elo berpikir kalo gue bakal ngebales perasaan dia! Apa Lo gak ngeliat perbedaan sikap gue saat memperlakuin elo sama orang lain? Lo gak liat sekasar apa gue sama mereka sementara gue selalu nurutin kemauan Lo? Mata Lo buta ya?"
"Emang salah kalau gue gak suka ada cewek lain yang berusaha ngrebut elo dari gue?"
Aku hanya bergumam, terlalu lemah untuk sekedar berseru. Sedangkan Delova memandangku dengan tatapan yang sedikit melunak.
"Kita bicaraiin diapartemen," lirihnya seraya menggenggam tanganku.
"Untuk semetara ini kita gak perlu bicara, gue sama Lo masih dalam keadaan emosi, dan gue gak mau kalo salah satu diantara kita menyesali keputusan yang akan kita ambil," ujarku sedewasa mungkin.
Kulepaskan genggaman tangan Delova, lalu melangkah pergi tanpa tujuan yang jelas.
.....
Ngomong-ngomong, aku mendadak teringat Isman. Bagaiman kondisinya saat kami tinggal pergi begitu saja?
Duh, aku harus minta maaf pada Ulva nanti.
Langkahku terhenti kala melihat sekumpulan preman yang membawa balok kayu serta senjata tajam nampak mentapku dengan seksama.
Sial! Sejak kapan jalan menuju rumah orang tuaku jadi tempat perkumpulan makhluk sangar begini?
__ADS_1
"Bener, cewek itu orangnya. Setelah kita ngelenyapin dia, Bos Anita bakalan ngasih bayarin full."
Samar-samar kudengar suara dari seorang preman yang luka dipipi. Mereka orang bayaran Anita untuk melenyapkan ku?
Demi apa?! Sialan sekali wanita licik itu!
Kenapa semakin hari hidupku terasa makin seperti dalam drama saja sih?! Pokoknya aku muak.
Aku berlari sekencang-kencangnya kala gerombolan pembunuh itu mengejarku.
Sepi, tidak ada satu orang pun yang bisa kumintai tolong. Bagaiman nasibku nantinya? Apa aku akan berakhir disini? Aku bahkan belum melakukan yang iya-iya dengan Delova.
Kalau aku jadi hantu gentayangan, akan kucekik leher Anita!
Daghh!
Lemparan balok kayu preman itu mengenai kakiku hingga tubuhku terjatuh seketika.
Nyeri sekali rasanya. Mami tolong Nadira! Sakit Mi...
"Ga bisa lari lagi ya?"
Aku tercengang mendengar ucapan salah satu dari mereka. Kurasa preman-preman sialan itu serius memiliki niatan untuk membunuhku.
"DELOVA!" teriakku.
Berharap sosok munginya akan datang dan melindungi ku.
Nyatanya nihil! Tidak ada tanda-tanda pergerakan seseorang di gang yang sepi sunyi ini.
Kucoba menahan sakit dikaki dan kembali menjauh.
"Va...Delova! Va..."panggilku disepanjang aku menyeret langkah.
Para preman itu hanya mengikuti dari belakang, sambil sesekali tertawa, menghina keadaanku yang sekali tebas saja akan langsung semaput.
Tubuhku melemah dengan tatapan kosong.
Ya Tuhan...gang buntu.
.
.
.
__ADS_1
.
.