Suamiku Si Cowok Cantik

Suamiku Si Cowok Cantik
Part 21


__ADS_3

"Masih sakit?"


Delova memandang kaki kananku yang telah diperban. Sebelum kembali ke apartemen, aku dan Lavino dibawa menuju rumah sakit terdekat oleh Delova yang dibantu anggota The Vision. Untungnya kami hanya mengalami cedera biasa dan tidak perlu rawat inap.


"Agak nyeri," jawabku tanpa menutup-nutupi.


Aku tak mau berpura-pura kuat dengan mengatakan bahwa kakiku tidak sakit.


Rasanya nyeri dan panas


"Semlikum."


Pintu apartemen yang memang tidak terkunci terbuka bersamaan dengan ucapan salam yang terdengar absurd.


Dua sahabat Delova masuk dengan menenteng berbagai macam kresek yang terisi penuh. Wow, apa mereka membawakan kami makanan?


"Kalo ngucap salam tuh yang bener, Dodol!" tegurku ketika mereka sudah duduk di sofa dengan kresek yang diletakkan dimeja.


Semetara aku dan Delova duduk berselonjor dikarpet.


"Kalo soal ngucap salam gak tau kenapa gue gak bisa bener, tapi untuk mencintai Lo, pasti gue beneran kok," sahut cowok bermata panda yang langsung mendapat tatapan mematikan dari Delova.


"Canda Mulu elo, Bas! liat noh pawangnya bentar lagi ngamuk," kali ini giliran cowok berwajah bule yang menimpali dengan tawa renyahnya sambil melirik Delova yang dia maksud sebagai pawangku.


"Dedek cuma bercanda, Bang. Jangan ngeliatin gitu terus ah! Entar jatuh cinta sama pesona dedek Loh."


Aku tertawa mendengar ucapan sang pemilik lingkaran hitam dikelopak matanya yang kutahu bernama, Muhammad Basofi alias Abas. Sedangkan sosok tinggi berwajah bule adalah Rifan Gilbert. Dan yeah, mereka berdua merupakan anggota The Vision.


"Najisin!" umpat Delova yang malah disambut dengan tawa keduanya, seakan mereka sudah menduga kalau Delova akan berbicara seperti itu.


"Mentang-mentang sudah punya penggantiku, sekarang kamu jadi kejam begini, Roma!" seru Abas dengan raut terluka.


Aku tidak dapat menahan tawa. Jadi, begini kelakuan monster terkenal menguasai jalanan? Aduh! receh sekali.


"Gila Lo kapan kadaluarsanya, Bambang?" Rifan menjitak kepala Abas dengan penuh kasih sayang.


"Sialan Lo Fan!" Abas mengelus kepalanya, kemudian berkata, "Jangan panggil gue Bambang! Karena nama gue Justin Bieber."


Aku dan Delova yang posisinya duduk dibawah terus mendongak, menatap mereka yang berada di sofa. Well, sepertinya hanya aku yang telah mendongak, sebab Delova tidak menggubris kelakuan konyol keduanya dan malah asik menatapku.


"Jam enam sore, Lo pada langsung pulang! titah Delova yang spontan diangguki Abas dan Rifan.


"GUE NGIKUT PULANG, BANG!"


Kami semua serentak menoleh kearah pintu kamar mandi yang baru saja memunculkan sosok cengengesan Lavino.


Dia menggunakan jeans dan Hoodie milik Delova.


"Masih setengah jam lagi. Sana bikinin kita berdua minuman dulu, tuan rumahnya lagi sibuk sayang-sayangan!"

__ADS_1


Lavino mengerunyutkan bibirnya sebal saat mendengar perkataan Rifan.


"Kenapa anak kecil slalu dianiaya? Dasar orang gede! Kerjaannya nyuruh yang muda Mulu," gerutu Lavino, "Mau minum apa?!" Abas dan Rifan tertawa, karena pada akhirnya Lavino tetap menurut.


"Terserah," jawab mereka kompak.


"Oke, air selokan." Setelah mengatakan kalimat tersebut Lavino bergegas kedapur, mengabaikan tatapan horor dari Abas dan Rifan.


.


.


.


.


Menjelang tidur, aku menatap wajah cantik Delova yang sudah berbaring disisiku.


Ada banyak sekali hal yang ingin kutanyakan.


Namun, apa ini saat yang tepat untuk membicarakannya? Baru beberapa jam kami saling berbaikan dan aku tak mau bertengkar lagi dengan Delova.


"Lo mau tanya apa?"


Deg!


Aih! Gula saja kalah manis.


Eh! ngomong-ngomong ternyata dia sangat peka. Aku mendadak gugup, haruskah bertanya sekarang? Tentang dirinya dan juga The Vision.


"Gue cuma..."


Suaraku tercekat di tenggorokan. Aku kehilangan kata-kata.


"Cuma apa?" dia tidur menyamping menghadap ke arahku, membuat jantungku semakin berdebar.


Mengapa menanyakan sosok Delova harus sesulit ini sih? Ya ampun!


Kurasa aku membutuhkan latian khusus suapaya tidak mudah gugup.


"Cuma pengen bilang kalo gue sayang sama Lo."


Kenapa malah menyatakan perasaan begini? Yang benar saja! Delova pasti menganggapku berlebihan dan alay sekali.


"Gue juga sayang sama Lo, Nadira," Delova berbisik, " Sayang banget. Kata-kata aja gak akan pernah cukup buat ngungkapin perasaan gue."


Detak jantungku menggebu. Tak kusangka dia menanggapi ucapan ku dengan serius. Uh, jadi ingin muntah pelangi.


"Maaf."

__ADS_1


Aku menatap bingung Delova yang tiba-tiba saja meminta maaf.


"Hah?"


"Maaf, gue udah ngecewain Lo berulang kali," katanya dengan kepala tertunduk.


Karena kakiku masih sakit, aku tidak bisa tidur menyamping, hingga kepala dan tubuh bagian atas saja yang sedikit memutar menghadap Delova.


Kuangkat dagunya dengan tangan, kemudian tanpa berkata aku lekas memagut bibir ranumnya. Delova memiringkan kepala, memberi akses lebih padaku untuk mendominasi.


"Lo gak salah. Emang dasar Anita aja yang gila," ujarku setelah pagutan bibit kami terlepas.


"Lo tenang aja, kita tinggal nunggu kabar di rumah sakit mana Anita akan dirawat."


Delova menyeringai keji, membuatku tanpa sadar menahan nafas. Pokoknya seringai Delova terlihat begitu keren.


"Tidur gih, udah malem."


Tangannya bergerak mengusap kepalaku dengan perhatian.


"Va?" jujur saja masih ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Hubungan antara Delova dan Guntur, yang sama sekali tidak kumengerti. Bukankah mereka pernah berteman?


"Apa, sayang?"


***. Baper aku tuh!


Delova kenapa jadi bersikap manis sekali?


Apa dia keracunan makanan yang tadi dibawa Abas dan Rifan?


"Gue cium lagi ya?"


Sumpah gue sedang tidak memikirkan yang aneh-aneh! Aku tidak tau mengapa pertanyaan laknat itu yang keluar dari mulutku.


Delova terpaku dengan semburat merah dipipi dan bola mata yang membuat lucu.


"Se-sejak kapan Lo pake nanya? Biasanya kan asal nyosor."


******! Mempermalukan diri sendiri.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2