Suamiku Si Cowok Cantik

Suamiku Si Cowok Cantik
Part 15


__ADS_3

"Kencan kuy?"


Aku yang sedang meminum jus jeruk langsung tersedak begitu mendengar ajakan Delova.


Minggu pagi ini, kami berdua memang hanya berdiam diri di apartemen.


"Terus gue nanti dilabrak sama cewek-cewek penggila Lo?" ogah deh!" tolakku mentah-mentah.


Bukan tanpa sebab aku menolak ajakannya, tentu saja kami pernah berkencan dan berakhir dengan aku yang ribut dikamar mandi kafe karena menghadapi fans gila cowok cantik tersebut.


"Kok jahat?"


Mentertawakan suami sendiri dosa tidak sih?


Aku benar-benar gemas ingin mengecup bibir tipis Delova yang kini mengerucut sebal.


"Penggemar Lo yang jahat," elakku.


Delova duduk di depanku dengan pandangan sendu.


"Ada satu cara agar kita bisa kencan dengan aman," ucapku tiba-tiba sambil tersenyum penuh arti.


"Apa?"


Aduh, mama! kenapa dia imut sekali!


Sebelum kembali berbicara aku sempat aku sempat mencium singkat bibir ranumnya.


"Lo harus nyamar jadi cewek,"


Dengan begini Delova pasti tidak akan mau.


"Oke,"


WHAT?!


Aku tidak salah dengar kan? Delova serius ingin menyamar menjadi perempuan untuk berkencan denganku.


"Ciyus? Miapa?," tanyaku tak percaya.


"Iya, gue siap-siap dulu!"


Setelah itu Delova segera masuk ke kamar kami.


Ya Tuhan, kepalaku mendadak terasa sakit sekali. Padahal kan aku sangat malas melangkah keluar. Dasar Delova!


...


Sekitar 15 menit aku menunggu Delova berdandan, sekarang ia sudah berdiri di depan mataku dengan penampilan luar biasa.


Dia cantik! Bahkan nampak cantik sempurna hingga rasanya aku minder sendiri.


Delova mengenakan Hoodie biru kebesaran di tubuh mungilnya, rok hitam di atas lutut yang sebenarnya adalah milikku, rambut palsu panjang bergelombang dibagian bawah, dan sebuah bianie atau kupluk sebagi pelengkap di kepala.

__ADS_1


"Wig punya siapa tuh?"


Dia tersenyum manis membuatku lagi-lagi melongo karena tingkahnya yang sudah seperti cewek sungguhan.


"Punya elo," sahutnya santai dengan suara lemah lembut yang tidak dibuat-buat.


Well aku memang menyimpan rambut palsu yang merupakan hadiah dari tanteku. Tak pernah ku pakai sebab rambutku sendiri panjangnya telah sebatas pinggang.


"Kenapa lo lebih cantik dari gue?" ceplosku.


Habisnya cowok itu tidak menggunakan polesan apapun diwajahnya. Hanya ditambah rambut panjang, dan dia sukses terlihat cantik natural.


"Gue ganteng!" jawab Delova ketus.


Yang semakin membuatku gagal fokus yaitu kaki jenjangnya yang, well the kill? kenapa bisa mulus, putih, ramping seperti itu.


Delova persis boneka Barbie.


"Kaki Lo mulus amat njiir," jujurku.


Delova menatapku dengan tatapan jengah.


"Kaki Lo juga,"


"Tapi gue cewek! ya wajar dong."


Aku menyela dengan cepat, mengabaikan sorot mata Delova.


Penampilan ku sendiri tampak biasa, dengan Hoodie merah dan jeans biru navy yang longgar. Aku tidak suka pakaian yang terlalu ketat, apalagi tubuhku terkesan rata untuk ukuran cewek. Bagimana kalau memakai yang pas di body? Mungki aku akan terlihat seperti papan triplek berjalan.


..


..


..


..


Disepanjang trotoar jalan raya, aku dan Delova melangkah beriringan dengan tenang. Kami memutuskan untuk berjalan kaki mengelilingi pusat kota yang terletak tidak jauh dari tempat kami memarkirkan mobil.


BUGH!


Delova berbalik dan menghantamkan tinjuan pada seorang pria tua yang berjalan tepat di belakangnya.


"Sialan! berani banget Lo ngeraba paha gue! ngajak gulat?!" amuk Delova seraya menunjuk pria tua yang sudah berdiri dengan seringai penuh nafsu.


Belum sampai satu jam Delova menyamar sebagai cewek, tetapi dia sudah mendapatkan pelecehan saja.


"Gulat dikamar hotel?"


Kurasakan atmosfir kebencian dari Delova saat mendengar ucapan pria yang sudah berumur tua.


"Bapak mau saya laporin polisi ya?!" bentakku.

__ADS_1


Sementara tangan Delova nampak mengepal erat.


"Dia sangat menggoda," jawab si pria sambil menunjuk Delova dengan dagunya.


DUAGH!


Aku dan Delova tertenggun kala cowok ganteng melepaskan tinjuannya terhadap pria tersebut.


" Bawa pergi orang gak tau malu ini!" serunya pada sekelompok pemuda yang refleks menyeret pria tua yang kini terkapar.


Kurasa mereka adalah anak buahnya.


"Kalian gak apa-apakan?" tanyanya pada kami tetapi dengan mata yang tidak berpaling dari wajah cantik Delova yang saat ini tampak datar.


"Gak papa," sahutku karena Delova memilih untuk diam.


Ngomong-ngomong aku ingat siapa mereka! Tidak salah lagi mereka merupakan lawan The Vision di gang sempit beberapa waktu yang lalu.


"Nama gue Fander Sanjaya, kalo boleh tau siapa nama Lo?"


Fander mengulurkan tangannya pada Delova dengan senyuman yang kuakui sangat-sangat manis.


"Cih! Gak penting."


Tanpa kuduga Delova menepis kasar tangan Fander, lalu menarikku agar menjauh pergi.


"Tunggu!"


Aku harus apa kalo situasinya begini?


Kulihat tangan Fander meraih pergelangan tangan Delova. Sebagai cewek aku paham betul, jika Fander kemungkin jatuh hati pada Delova.


"Lepas atau gue abisin Lo!" gertak Delova.


Bukannya menurut, Fander malah melempar senyuman.


"Cantik tapi galak. Lo bener-bener tipe idaman gue."


Sabar Nadira, Ini bukan saat yang tepat untuk tertawa terbahak-bahak.


"Lo gak ngerti bahasa manusia rupanya!" geram Delova.


Dia menghempaskan tangan Fander, Kemudian melakukan hal yang membuatku merasa ingin bunuh diri.


"Ka-kalian pasangan lesbi?!" tanya Fander yang tersentak kaget melihat Delova mencium bibirku lama. Meskipun hanya sebatas menempelkan tanpa ada unsur *******, tetap saja ini memalukan sekali.


Ya Tuhan tenggelamkan lah aku kedalam lautan.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2