Suamiku Si Cowok Cantik

Suamiku Si Cowok Cantik
Part 5


__ADS_3

Karena kondisi tubuhku sudah membaik, aku menemani Delova yang kini tengah sibuk berkutat dengan berkas-berkas perusahaan Aryadiraga Corp's.


Ada beberapa foto keluarga disini, termasuk foto pernikahan kami. Dan yang membuatnya sangat tertarik adalah piagam penghargaan Delova yang berjumlah tidak sedikit entah itu karate, basket, maupun olimpiade dalam berbagai bidang mata pelajaran.


Sayang sekali ku dengar dia sudah


menetapkan pilihannya pada perusahaan.


Ya, Delova berhenti mengikuti kegiatan


ekskul yang kebanyakan berasal dari pihak


sekolah sejak masuk di jenjang


tahun terakhir SMA.


"Va! Bosen. Ngadem ke cafe kuy?"


ajakku. Sumpah jika tau akan di abaikan


begini, lebih baik aku tetap tinggal di


apartemen saja.


"Ngadem di sini aja, naikin tuh volume AC-


nya."


sahut Delova enteng. Aku menghentakan


kaki kesal, padahal dia tahu aku belum benar-benar pulih, tapi kenapa sih dia malah cuek bebek seperti ini.


"Gue mau keluar aja! Jangan cegah gue!"


Dia meliriku sekilas, kemudian fokusnya kembali pada tumpukan berkas yang berada di atas meja.


"Ya udah, sana keluar,"


ucapnya. Ya ampun! Kupikir Delova akan mencegahku dan mengiyakan ajakanku bersantai di cafe.


"Oke!"


seruku seraya berlalu pergi dari ruang


kerjanya. Dasar cowok cantik! Kamu


sungguh tidak punya perasaan! Tega-


teganya kamu menyakiti perasaan cewek


seimut aku!


"Nadira,"


aku menoleh ketika ada seseorang yang memanggilku namaku di halaman kantor.


Dia Briyan...manusia yang selama ini


aku hindari.


"Lo kenapa gak sekolah Dir?


Nyatanya aku masih menyukai bagaimana


cara sosok tampan ini mengkhawatirkan


aku. Sesak, namun juga terbesit rindu yang

__ADS_1


membuncah kala aku balas menatap


matanya.


" Bukan urusan lo!"


ketusku. Briyan tersenyum teduh, ada gurat menyesal dibalik wajah tampan itu.


"Kita pacaran udah sampai satu tahun Dir,


apa lo gak bisa maafin satu kesalahan yang gue perbuat?"


Satu kesalahan yang teramat sangat fatal!


Seharusnya dia berfikir dengan siapa dia menghianatiku.


"Gimana kalau elo jadi gue?! Apa lo bakal


maafin gue kalau tau gue selingkuh


sama sahabat lo sendiri?!"


Aku berseru tanpa menghiraukan tatapan


heran dari orang-orang yang berlalu lalang di sekitar kami. Sementara Briyan hanya menunduk dan terdiam.


Saat aku memalingkan pandangan ke arah lain, kulihat Delova yang melangkah masuk


kedalam mobil dan melajukan mobilnya


meninggalkan aku begitu saja.


"Dengar ya Briyan Fernandez, lo gak perlu minta maaf lagi sama gue, karna gue udah


gak peduli dengan segala hal yang


Gue udah nyaman dan bahagia dengan pemilik hati gue yang sekarang.


Setelah berbicara begitu, aku pun bergegas


menuju pinggiran jalan raya dan memberhentikan salah satu taksi.


..


..


..


Setibanya di apartemen aku, menghampiri Delova yang meringkuk di atas sofa. Aku kesal sekali dengan cowok cantik ini! Kenapa dia seenaknya aja meninggalkan aku?!


" Delova! Lo ngapain tinggalin gue hah?!"


semburku yang saat ini tengah berdiri di


hadapan Delova. Aku tertenggun ketika


melihatnya memandangku dengan tatapan


yang tidak kumengerti.


"Lo kenapa sih?"


tanyaku. Sedangkan Delova malah


menjatuhkan pandangannya ke bawah. Aku kan jadi ingin menggigitnya.


"Cowok yang sama lo tadi....Siapa?"

__ADS_1


Hah! jangan-jangan dia cemburu saat


melihatku bersama Briyan.


"Lo gak suka ngeliat gue sama cowok laen?"


tanyaku. Delova mengangguk, kemudian


memalingkan wajahnya yang mulai merah merona. Cute! Dia benar-benar sangat imut


"Makanya jangan nyuekin gue dong,"


kataku seraya memeluknya dari samping.


Delova nampak berjengik kaget, tetapi setelahnya dia hanya diam. Wow apa ini sinyal kalu aku boleh melakukan yang iya-


iya?


"Kalau cemburu ya bilang, Delova. Jangan kayak anak kucing kurang belaian gini,"


Aku kembali berujar sembri mengelus


pahanya yang masih dibalut jeans hitam.


Kesempatan jarang datang dua kali!


Manfaatkan saja ah, mumpung Delova pasrah.


Aku menarik dagu Delova, kemudian


******* bibirnya tepat ketika dia


mendongak. Rasanya tidak pernah berubah,


kenyal dan manis. Yeuwh, aku jadi jijik sendiri dengan pikiran kotorku yang semakin


melenceng kemana-mana.


"Na-nad..."


Delova melenguh saat aku mendengus


perpotongan lehernya. Aduh, suaranya


kenapa seksi begitu sih?


"Aww!"


ringisku ketika mendapat geplakan di kepala.


"Dasar tukang nyari kesempatan!"


seru Delova sambil melangkah pergi


menjauhiku. Yah, gagal! padahal kan tinggal sedikit lagi.


.


.


.


.


Mohon maaf kalau gak berkenan


Special Thanks buat yang udah ninggalin jejak:')

__ADS_1


__ADS_2