
Karena kondisi tubuhku sudah membaik, aku menemani Delova yang kini tengah sibuk berkutat dengan berkas-berkas perusahaan Aryadiraga Corp's.
Ada beberapa foto keluarga disini, termasuk foto pernikahan kami. Dan yang membuatnya sangat tertarik adalah piagam penghargaan Delova yang berjumlah tidak sedikit entah itu karate, basket, maupun olimpiade dalam berbagai bidang mata pelajaran.
Sayang sekali ku dengar dia sudah
menetapkan pilihannya pada perusahaan.
Ya, Delova berhenti mengikuti kegiatan
ekskul yang kebanyakan berasal dari pihak
sekolah sejak masuk di jenjang
tahun terakhir SMA.
"Va! Bosen. Ngadem ke cafe kuy?"
ajakku. Sumpah jika tau akan di abaikan
begini, lebih baik aku tetap tinggal di
apartemen saja.
"Ngadem di sini aja, naikin tuh volume AC-
nya."
sahut Delova enteng. Aku menghentakan
kaki kesal, padahal dia tahu aku belum benar-benar pulih, tapi kenapa sih dia malah cuek bebek seperti ini.
"Gue mau keluar aja! Jangan cegah gue!"
Dia meliriku sekilas, kemudian fokusnya kembali pada tumpukan berkas yang berada di atas meja.
"Ya udah, sana keluar,"
ucapnya. Ya ampun! Kupikir Delova akan mencegahku dan mengiyakan ajakanku bersantai di cafe.
"Oke!"
seruku seraya berlalu pergi dari ruang
kerjanya. Dasar cowok cantik! Kamu
sungguh tidak punya perasaan! Tega-
teganya kamu menyakiti perasaan cewek
seimut aku!
"Nadira,"
aku menoleh ketika ada seseorang yang memanggilku namaku di halaman kantor.
Dia Briyan...manusia yang selama ini
aku hindari.
"Lo kenapa gak sekolah Dir?
Nyatanya aku masih menyukai bagaimana
cara sosok tampan ini mengkhawatirkan
aku. Sesak, namun juga terbesit rindu yang
__ADS_1
membuncah kala aku balas menatap
matanya.
" Bukan urusan lo!"
ketusku. Briyan tersenyum teduh, ada gurat menyesal dibalik wajah tampan itu.
"Kita pacaran udah sampai satu tahun Dir,
apa lo gak bisa maafin satu kesalahan yang gue perbuat?"
Satu kesalahan yang teramat sangat fatal!
Seharusnya dia berfikir dengan siapa dia menghianatiku.
"Gimana kalau elo jadi gue?! Apa lo bakal
maafin gue kalau tau gue selingkuh
sama sahabat lo sendiri?!"
Aku berseru tanpa menghiraukan tatapan
heran dari orang-orang yang berlalu lalang di sekitar kami. Sementara Briyan hanya menunduk dan terdiam.
Saat aku memalingkan pandangan ke arah lain, kulihat Delova yang melangkah masuk
kedalam mobil dan melajukan mobilnya
meninggalkan aku begitu saja.
"Dengar ya Briyan Fernandez, lo gak perlu minta maaf lagi sama gue, karna gue udah
gak peduli dengan segala hal yang
Gue udah nyaman dan bahagia dengan pemilik hati gue yang sekarang.
Setelah berbicara begitu, aku pun bergegas
menuju pinggiran jalan raya dan memberhentikan salah satu taksi.
..
..
..
Setibanya di apartemen aku, menghampiri Delova yang meringkuk di atas sofa. Aku kesal sekali dengan cowok cantik ini! Kenapa dia seenaknya aja meninggalkan aku?!
" Delova! Lo ngapain tinggalin gue hah?!"
semburku yang saat ini tengah berdiri di
hadapan Delova. Aku tertenggun ketika
melihatnya memandangku dengan tatapan
yang tidak kumengerti.
"Lo kenapa sih?"
tanyaku. Sedangkan Delova malah
menjatuhkan pandangannya ke bawah. Aku kan jadi ingin menggigitnya.
"Cowok yang sama lo tadi....Siapa?"
__ADS_1
Hah! jangan-jangan dia cemburu saat
melihatku bersama Briyan.
"Lo gak suka ngeliat gue sama cowok laen?"
tanyaku. Delova mengangguk, kemudian
memalingkan wajahnya yang mulai merah merona. Cute! Dia benar-benar sangat imut
"Makanya jangan nyuekin gue dong,"
kataku seraya memeluknya dari samping.
Delova nampak berjengik kaget, tetapi setelahnya dia hanya diam. Wow apa ini sinyal kalu aku boleh melakukan yang iya-
iya?
"Kalau cemburu ya bilang, Delova. Jangan kayak anak kucing kurang belaian gini,"
Aku kembali berujar sembri mengelus
pahanya yang masih dibalut jeans hitam.
Kesempatan jarang datang dua kali!
Manfaatkan saja ah, mumpung Delova pasrah.
Aku menarik dagu Delova, kemudian
******* bibirnya tepat ketika dia
mendongak. Rasanya tidak pernah berubah,
kenyal dan manis. Yeuwh, aku jadi jijik sendiri dengan pikiran kotorku yang semakin
melenceng kemana-mana.
"Na-nad..."
Delova melenguh saat aku mendengus
perpotongan lehernya. Aduh, suaranya
kenapa seksi begitu sih?
"Aww!"
ringisku ketika mendapat geplakan di kepala.
"Dasar tukang nyari kesempatan!"
seru Delova sambil melangkah pergi
menjauhiku. Yah, gagal! padahal kan tinggal sedikit lagi.
.
.
.
.
Mohon maaf kalau gak berkenan
Special Thanks buat yang udah ninggalin jejak:')
__ADS_1