
Sesudah mandi dan memakai pakaian biasa,
aku melangkah mendekati Delova yang tertidur di atas sofa. Kurasa dia sangat kelelahan karena tadi malam masih harus mengerjakan berbagai macam dokumen perusahaan hingga larut. Makanya setelah melaksanakan sholat shubuh, cowok cantik itu jadi ketiduran di sofa.
Tidurnya benar-benar anggun dia hanya sesekali bergerak dan menggeliat. Tidak seperti aku saat tidur akan berputar dikasur bagaikan gasing.
"Pangeran tidur ini mah,"
ucapku ketika melihat wajah damai Delova
yang nampak menggemaskan sekali.
"Udah hampir jam tujuh, bangunin ah!"
Aku duduk di pinggir sofa
seraya memasang senyum secerah mentari.
Sebab aku telah menemukan ide untuk
membangunkan Delova dengan adegan ala Snowhite. Sungguh menguntungkan.
"Ganggu aja sih Nad,"
racau Delova. Tangan nya mendorong pelan
dahiku agar menjauh dari wajah nya yang imut-imut.
"Pangeran sudah bangun? Syukurlah.
Sekarang Pangeran akan kubawa ke kekerajaan supaya dapat ku nikahi,
__ADS_1
tuturku yang baru saja mengarang naskah drama seakan kami adalah pasangan dari kerajaan. Sementara Delova malah memandangku dengan tatapan yang seolah
berkata lo-sinting-apa-gila.
" Gue kan cuma mau bangunin elo!"
seruku. Delova langsung bangun dan mendudukan diri lalu mengusap rambutku sebentar.
"Makasih udah bangunin gue, Lain kali pake
cara yang lebih normal yah?"
Hih! Maksudnya aku membangunkan dia dengan cara yang tidak normal?
"Bodo amat! Kan udah halal!"
jawabku, lalu memeluk nya dari samping.
Meskipun belum mandi, tubuh Delova masih tetap segar dan wangi.
Delova melepas pelukanku. Begitu ia melihat jam, cowok cantik itu langsung pontang- panting mengambil seragam sekolah dan bergegas masuk kedalam kamar mandi.
..
..
..
Saat tengah asyik menonton televisi dengan cemilan ditangan. Kulihat Delova yang barusan keluar dari kamar mandi nampak sibuk memakai dasi.
"Nad kalau mau makan cari di luar aja ya?
__ADS_1
gue takut terlambat,"
ujar Delova karena selama ini memang dialah yang selalu masak untuk kami, sedangkan aku hanya dapat menghancurkan dapur.
''Oke,"
seraya menggunakan sepatunya, Delova menatapku lekat-lekat.
"Lo gak sekolah?"
tanyanya dan lekas ku anggukan.
"Gak lulus baru tau rasa lo! Bentar lagi anak 12 bakalan simulasi loh Nad. Elo kok santai amat sih jadi manusia,"
gerutu Delova. Aku membalasnya dengan cengiran seindah iklan pasta gigi.
"Gue berangkat,"
pamit Delova ketika aku menyalaminya.
Setelah cowok cantik tersebut sudah benar-benar pergi dari apatemen, tawa yang sedari tadi aku tahan akhirnya pecah dan menggelegar.
Tidak berlangsung lama karena debaman keras dari pintu memaksaku menghentikan tawa. Rupanya Delova sudah kembali dengan raut wajah masam seraya memberiku tatapan sengit.
"NADIRA! KENAPA LO TUH GAK BILANG SAMA GUE KALAU INI TUH HARI MINGGU?!"
dan hari minggu kami diawali dengan kekacauan mengguncang dunia, eh?
.
.
__ADS_1
.
.