
Pagi ini aku telah duduk dengan tenang di dalam kelas bersama teman-temanku yang lain.
"Pagi Nad,"
sapa Guntur yang baru saja memasuki kelas. Wajah tampannya yang babak belur nampak menyunggingkan senyum ramah.
"Lo masih idup?"
tanyaku dengan ekspresi tak percaya.
Sementara Guntur bukannya kebelakang dia malah seenaknya duduk di kursi depan namun menghadap ke arahku.
"Kalo gue mati lo khawatir?"
Yeuwh, dasar preman sinting!
"Gue malah bersyukur, kan bisa makan
daging ayam gratis.
Cowok itu langsung menjitak kepalaku.
" Suwek lo!"
umpatku seraya mengelus-elus bekas jitakannya. Guntur melempar tawa renyah mengabaikan aku yang mendengus sebal.
"Gitu doang udah kesakitan, gimana kalo jadi gue yang kemaren di keroyok?"
Hah? Kemaren Guntur benar-benar di keroyok?
"Lo di keroyok sama geng The Vision?"
tanyaku antusias. Mengingat kemaren aku berlari pergi meninggalkannya begitu saja.
"Benar! Selamat anda mendapatkan uang sebesar dua juta rupiah tanpa di potong pajak."
Aku melongo. Apakah ini dampak atau akibat dari perkelahiannya kemaren? Lantas di manakah setengah otak Guntur tertinggal?
"Situ waras?"
Guntur memutar bola matanya bosan ketika mendengar pertanyaanku. Hih! Seharusnya kan aku yang jengah karena jawaban dia yang gak nyambung!
"Nad, elo bukan sih cewek sinting yang pernah nekat nyelip kedalem tawuran cuma gara-gara mau nolongin anak kucing?"
Memangnya benar sih aku pernah nekat membahayakan nyawa untuk menyelamatkan anak kucing, tetapi dia tidak perlu menyebutku sinting dong!
"Jangan-jangan lo terlibat ya?!"
tanyaku dengan pandangan menyelidik.
"Ternyata cewek itu beneran elo Nad? Pantes Delova bisa suka sama lo,"
Kenapa sih Guntur kerap sekali mengatakan hal yang tidak ku mengerti? Apa hubungan Delova dengan kejadian satu tahun lalu?
__ADS_1
"Maksud lo?
Guntur bangkit dari duduknya seraya mengusap rambutku sebentar. Sebelum benar-benar menjauh dari kelas, Guntur sempat berkata.
" Nadira, terkadang apa yang lo anggap baik, belum tentu itu yang sebenarnya."
Aku...Terlalu bingung. Hingga tak menyadari bayangan Guntur telah menghilang diambang pintu kelas.
"Woi, Pagi-pagi udah mojok bae lo! Gimana kalo Delova tau?"
Ulva menyemburku begitu tidak lagi melihat sosok Guntur.
"Gak bakal tau kalo elo gak ember,"
jawabku kalem yang tentu saja membuat Ulva mendelik menatapku tajam.
"Ulva mah bukan ember, dia gentong minyak!"
sahut Isman yang kebetulan berada tidak jauh dari kami.
"Gak usah ikut campur! Ini masalah cewek! Emangnya cowok tau apa?!"
cerocos Ulva. Sedangkan Isman malah memasang headphone ke telinga, kemudian menjulurkan lidah mengejek Ulva.
"Kalo saling suka bilang aja kalik!"
Devi yang baru tiba di dalam kelas spontan menjuluti Isman dan Ulva. Teman sekelas yang juga hadir ikut menimbrung dan sesekali bersiul jahil.
"Eh, Nad! Lo ditungguin sama Delova di depan gerbang sekolah!"
Hah! Mau apa Delova kemari?
"Lo masih marah?"
tanya Delova tepat ketika aku masih berdiri di hadapannya. Well, aku memang sedang kesal pada cowok cantik ini, sebab tadi malam kami tengah makan di cafe, ada beberapa penggemar Delova di sana dan dengan sengaja menghinaku.
Makanya aku berangkat sekolah sendiri tanpa menghiraukan Delova yang tadi menyuruhku sarapan.
"Siapa yang marah?!"
seruku tak terima. Aduh! Padahal jelas kelihatan sekali nada kesal di suaraku.
Bagaimana tidak marah jika penggemar Delova seenak jidatnya mengatai aku tidak pantas menjadi kekasih Delova?! Mereka berbicara seolah Delova adalah seorang pangeran, sementara aku hanyalah rakyat biasa.
"Kan gue udah marahin mereka Nad,"
Tetap saja rasa jengkelnya masih tersisa dihati. Kulihat Delova yang menatapku sendu sambil menggembungkan pipi. Kalau tidak ingat sedang ngambek, aku pasti akan langsung mengecup bibir merah ranumnya. Ya ampun dia imut sekali!
"Sana pergi kesekolah lo!"
usirku. Delova memandangku pilu. Duh, jadi tidak tega.
"Soalnya gue gak marah lagi sama lo,"
__ADS_1
lanjutku, sambil mencubit gemas pipi tirusnya yang halus dan lembut.
"Baguslah, Kalo ngeliat lo marah tuh rasanya kayak ngeliat seekor tikus botak yang berkeliaraan mencari bulunya,"
Belum ada satu menit, dan cowok cantik tersebut sudah bikin kesal setengah mati.
"Tapi pas gue marah elo kangen kan?"
ledekku yang membuat semburat merah jambu muncul di permukaan wajah putih Delova.
"Iya, gue kangen,"
Aku tertawa senang mendengar
jawabannya.
"Karena mata lo, hidung lo, dan segala yang ada di dalam diri lo mirip sama hewan peliharaan gue yang udah lama tutup usia," Ingin ku berkata kasar saat mendengar kalimat selanjutnya Delova.
"Jangan sentuh aku! Pokoknya aku jijik!"
seruku sedramatis mungkin. Sementara Delova nampak tertawa geli dengan kepala tertunduk.
Angin menyibak surai rambutnya, memperlihatkan bentuk wajah Delova yang terpahat indah.
Benar kata mereka. Dia terlalu sempurna untuk diriku yang kelewat biasa.
"Gu-gue ke kelas,"
Aku hendak berbalik, tapi Delova lebih dulu memanggilku.
"Nadira,"
Dia menatapku dengan pandangan bingung.
"Kenapa Mungil?"
cengirku, berusaha menutupi rasa risau yang tiba-tiba menusuk perasaan. Bagaimana jika Delova berpaling dariku seperti Briyan?
"Nad,"
panggilnya dengan senyum malu-malu serta roan merah yang menghias di pipi. Aku balas tersenyum, Delova terlihat sangat lucu sekaligus menggemaskan.
"I love you,"
tutur Delova seraya menyatukan sepuluh jari kedua tangannya membentuk simbol hati.
.
.
.
.
__ADS_1