
"Iya juga sih, tapi sini dulu geh Nad, gue bisikin,"
Devi mendekatkan bibirnya ke telingaku.
"Ada yang ngliat kalau Briyan dihajar sama Delova,!
Deg!
Jantungku bergemuruh hebat. Delova? Si cowok cantik? Mana mungkin?
" Hah, bercanda lo gak lucu,"
balasku seraya melangkah ketempat duduk.
Mereka kini taunya jika aku dan Delova kini sedang berpacaran.
Suasana kelas yang hening bertambah sunyi
kala siswa baru yang berpenampilan seperti
preman sudah berdiri di depan kelas bersama Bu Yani.
"Guntur Bagaskara,"
Huh? Pengenalan diri macam apa itu? Dia hanya memberitau namanya dengan nada suara yang kelewat datar.
"Guntur kamu duduk----"
Perkataan Bu Yani diabaikan saja oleh Guntur yang berjalan perlahan ke arah tempat duduk ku dan Ulva.
"Lo cewek yang kemaren gue liat bareng sama Delova kan?"
tanya Guntur sambil menunjukku.
"Gimana kabarnya monster yang gak punya hati itu?"
..
..
..
__ADS_1
Aku mengamati wajah polos Delova yang tengah menyaksikan televisi. Makhluk semenggemaskan Delova tidak memiliki unsur monster sama sekali. Pasti Devi salah informasi dan Guntur si anak baru itu juga hanya asal bunyi!
"Nad, lo kenapa sih?"
tanya Delova. Sepertinya dia risih karena sedari tadi aku perhatikan.
"Ngantuk,"
ucapku seraya membaringkan tubuh di atas sofa dengan paha Delova sebagai bantalan.
"Tidur dikamar sana,"
Aku menggeleng malas.
Well, Delova itu terlalu imut, manis, tampan, dan cantik, dia sangat tidak pantas jika disebut monster. Jelas-jelas yang mirip monster adalah Si Guntur, namun preman tersebut malah seenaknya saja mengatai baby boy kesayanganku sebagai monster.
"Va, lo kenal sama Guntur?"
Delova nampak tertenggun begitu mendengarku yang mendadak bertanya.
"Troublemaker. Tapi sekarang udah di drop uot dari sekolah,"
jawab Delova dengan tenang.
aduku. Delova mengalihkan pandangan
mengarahku.
"Jauhin dia!"
ujar Delova. Tangannya dengan lembut mengusap-usap rambutku. Aduh, kalau dua manis begini aku jadi semaki ingin memangsanya, eh?
"Jauhin Guntur!"
ulangnya memastikan.
"Jauhin semua cowok yang ngedeketin lo!"
Aku tertawa ketika mendengar sahutan Delova. Ah, manisku ini memang benar-benar-cemburuan.
"Munginya Nadira cemburu?"
__ADS_1
Aku tau aku tidak sadar diri sekali, memanggil Delova dengan sebutan Mungil sementara tubuhku bahkan lebih pendek darinya.
"Ngapa? Gak suka? Gue kan suami lo!"
Haduh, mulai ngegas lagi. Aku segera
bangkit dan ******* bibir merah ranumnya yang akhir-akhir ini slalu bawel.
"Nad-nad! Lo apa-apaan sih?!"
Delova menutupi wajahnya yang merah merona. Imut begini dijuluki monster? Hello!
Mata Guntur maaih berfungsi dengan baik tidak sih?!
"Gue tuh gregetan sama lo!"
Seruku sambil menerjang Delova hingga ia terbaring di sofa. Untuk kedua kalinya aku berada di posisi menindihi Delova. Dia hanya diam dengan wajah memerah dan mata yang menatapku sayu.
"Lo harum bayi,"
ucapku berbisik ketika aku hendak meraup bibirnya, cowok cantik itu mengatakan kalimat yang membuat jantungku serasa berhenti berdetak,
"Gue-cinta elo, Nadira."
H-hah?!
Aku refleks bangkit dengan otak yang masih kesulitan mencerna ucapan Delova, hingga yang terjadi selanjutnya.....
Bruaaaak!
Tubuhku limbung dan terjatuh ke bawah.
"NADIRA! JANGAN MATI DULU!"
Sial! Pinggangku terasa encok begini, Delova malah histeris sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.