
Aku hanya ingin menjalani kehidupan normal seperti orang lain. Namun, entah kenapa aku mulai merasa seakan didalam sebuah drama saat pernikahanku dengan Delova resmi dilaksanakan.
Menikah muda dan masih berstatus seorang pelajar itu sangat sinetron sekali! Konyolnya aku benar-benar mengalami hal tersebut.
"Nyerah ya?"
Salah satu preman bertanya ketika melihatku duduk bersimpuh diujung gang buntu. Ini lagi! Momen yang membuatku seolah merasa tengah syuting film, dimana nyawaku akan dihabisi oleh pembunuh bayaran dari sang pelakor.
Ya ampun! Mengapa hidupku sebegini menyebalkannya si?
"Beraninya sama cewek! Inget ya, emak Lo dirumah juga perempuan! Nyebut bang! Nyebut!" seruku asal bicara.
Aku sungguh tidak bisa melakukan perlawanan, kakiku nyeri sekali dan kini sangat sakit bila digerakkan.
"Gak usah banyak bacot! Kematian Lo bikin kita kaya tau gak?!" gertak seorang preman dengan senjata tajam ditangannya.
Aku percaya pada takdir Tuhanku. Jika memang dengan alasan ini nyawaku akan di ambil, maka kupasrahkan segalanya.
"Preman pengecut!"
Sekarang aku mendadak ingin melempar diri kelubang hitam.
Aku memang mengharapakan kehadirannya sosok penyelamatku, tetapi kenapa harus Lavino sih?!
Yang benar saja! Kenapa harus Lavino?!
Adik lelakiku yang masih kelas 9 SMP.
Oh Tuhan! Tidak mungkin kan jika Papi dan Mami kehilangan 2 anaknya sekaligus?
"Bocah ingusan!" umpat si preman.
Mataku menatap waspada Lavino yang berdiri menghadap para preman tersebut. Dia tidak gemetar dan tak terlihat takut, ah! naluri seorang adik yang berupaya melindungi kakaknya kurasa.
"Tunggu! Biarin gue ketemu sama kak Nad!"
Kali ini air mata yang sedari awal ku tahan akhirnya tumpah kala Lavino berjalan menghampiriku.
Adikku yang bermulut pedas ternyata begitu menyayangiku. Aih! harusnya kami lebih sering menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
Setelah hampir mencapaiku, Lavino menangis ketika melihat kakiku yang memar telah membengkak.
Buaghhh!
"LAVINO!" teriakku histeris.
Salah satu preman memukulkan balok kayunya ke punggung Lavino hingga dia terjatuh tepat dihadapanku.
"Si-sial!" Lavino mendesis marah, meski sebenarnya dia sedang menahan rasa sakit.
Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.
"Gue belum minta maaf sama Mami, kalo gue pernah nyuri masakan yang dibuat spesial buat Papi. Tapi saat itu gue makannya bareng elo, Kak!'' gerutunya sambil mengusap air mata yang mengalir di pipiku, walau air matanya sendiri ikut turun. Dia berbicara seolah kami benar-benar akan tiada.
"Jangan ngomong gitu ****! Lagian ngapain Lo kemari?!" geramku.
Sedangkan kumpulan preman sangar itu nampak memberikan kami kesempatan untuk saling berbicara.
"Pas gue pulang sekolah dan mau balik kerumah, gue denger suara teriakan Kak Nad, makanya gue capcus kesini! Kalau seandainya aja gue tau nasib cowok seganteng gue bakal tamat di gang ini, mending gue pura-pura gak denger."
Refleks kujitak kepalanya. Kemana Lavino yang manis? Kenapa sudah kembali pada mode kurang ajar?!
Dia takut, tetapi memaksakan diri agar tidak terlihat lemah dimata mereka. Uh! Aku jadi ingin menangis lagi.
"Denger ya, Kak Delova pasti nyelametin kami! Dia gak bakal ngebiarin Kak Nad kenapa-napa!" seru Lavino dengan penuh keyakinan dan aku juga sama berharapnya.
"Siapa Delova? Pahlawan super?"
Mereka mencemooh sembari tertawa lebar.
"Gue Delova."
DEG!
Semua orang serentak menoleh ke sumber suara, dimana sosok berjubah hitam dengan topeng hitam nampak berjalan mendekat.
"Cuma satu orang aja? Cuih!" hina preman bertato tengkorak ditangannya.
Aku sendiri masih begitu terkejut, bukankah itu ketua geng The Vision? Jadi, benar sosok dibalik topeng hitam yang menutupi wajahnya itu Delova? Yep! The Vision menggunakan topeng full muka yang hanya terbuka dibagian matanya saja.
__ADS_1
Brrrmmmmm! Brrrmmmmm!
Sekelompok pemuda bermotor sport berhenti mengelilingi Delova. Mereka merupakan pasukan The Vision dengan jaket hitam, tetapi bertopeng putih.
Anggota The Vision kini tengah berdiri dibelakang ketuanya. Jubah itu berkibar ketika angin menerpa, menambah kesan kelam serta menebar aura mengintimidasi yang kian terasa.
"Gue juga bakal ngebantuin Kak Va!" Lavino kembali bersemangat.
Sementara aku masih dalam kondisi duduk tak berdaya.
.....
Sejak pertarungan sengit itu dimulai, aku menangis sambil menutup muka dengan telapak tangan. Tentu saja aku sangat takut, kalau sampai The Vision telat datang, aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi padaku dan Lavino.
"Jangan khawatir, gue ada disini."
Suara yang sudah sangat familiar itu terdengar bersamaan dengan usapan lembut dikepalaku.
"Gu-gue hampir mati," ujarku terbata.
Ketua The Vision yang tengah berjongkok dihadapan ku membawa tubuh ini kedalam dekapannya.
"Sorry terlambat," bisiknya,"Gak akan pernah gue lepasin orang-orang yang udah berani bikin Lo terluka."
Ragu-ragu ku buka topeng yang menutupi wajah Delova. Setelah topeng itu terlepas, wajah dengan perpaduan cantik, tampan, manis, dan imut pun terlihat.
Ternyata benar, dia adalah Delova Aryadiraga, suamiku yang berparas sempurna.
Kudorong pelan bahu Delova, jujur saja aku masih tidak mengerti, kenapa siswa dengan segudang prestasi seperti Delova bisa menjadi ketua gangster yang berbahaya?
"Lo gak perlu takut." Delova menyatukan kening kami, lalu berkata,"Gue tetaplah Delova yang ngejadiin Nadira sebagai satu-satunya alasan untuk bahagia.
.
.
.
.
__ADS_1
.