Suamiku Si Cowok Cantik

Suamiku Si Cowok Cantik
Part 24


__ADS_3

Aku tersadar disebuah kamar yang tak lagi asing. Kamar yang biasa aku dan Delova tempati ketika sedang menginap dikediaman megah keluarga Aryadiraga, tepatnya rumah mertuaku.


"Pusing?" aku menatap Delova yang baru saja bertanya, dia duduk ditepian ranjang sembari mengusap kepalaku dengan sayang.


"Va---"


Kata-kata ku mendadak tercekat. Aku segera bangkit dari kasur dan memeluk tubuhnya erat-erat.


"Tenang, Nad. Gue ada disini," bisiknya saat isakan tangisku mulai terdengar.


"Hiks... kenapa Lavino? Delova mencoba menenangkan kala tangisanku kian menjadi, semetara beberapa pasang mata yang juga berada di kamar hanya berdiri dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kenapa Lavino masih hidup?" tanyaku seraya menunjuk sosok remaja dengan perban dikepala. "Bukannya dia tadi ketabrak? Kok gak mati?"


"Lah gak waras? Lo nangis gegara gue gak jadi mati? protes Lavino dengan kedua tangan yang berkacak pinggang. Namun, fokusku beralih pada seorang cowok yang masih mengenakan seragam putih abu-abu ditengah malam begini. Tingginya hampir sama dengan Lavino, Surai rambutnya berwarna emas, tubuhnya putih, tetapi sayang sekali wajahnya tak terlihat karena dia menunduk.


"Lavino tadi lari meski tetep ke serempet dan untungnya cuma kepala aja yang luka karena kepentok pembatas trotoar," ujar Delova memberikan penjelasan.


Aku tetap menyamankan diri dalam dekapan cowok cantik itu, rasanya hangat dengan wangi memabukkan.


"Lo pikir gue bukan manusia? Dasar Kaka tengil," cibir Lavino yang melihatku asyik memeluk Delova.


"Dasar adek tengik!" balasku sedikit berseru.


Kemudian aku melepas dekapan Delova dan bangkit menghambur pada Lavino.


Oh, Tuhan! Adik kecilku masih bernafas.


"****! Hiks...hiks...hiks..." tangisan ku kembali pecah, sedangkan Lavino juga terisak dengan tangan yang mendekap ku erat. "Kenapa waktu dikafe Lo ngomong seakan bakal ninggalin gue untuk selamanya hah?!"


"Lo gak tau hiks...kalo gue mau lanjut sekolah ke luar negri?" tanya Lavino di sela tangis nya yang sesegukan.


"Yang ngebayarin Papa sama Mama nya Kak Delova!"


Aku tercengang. Lalu memandang penuh tanya pada Delova yang masih duduk dengan tenang diranjang. Cowok berparas sempurna itu menggeleng lugu, tanda juga dia tak mengerti tentang rencana Papa dan Mama.


"Emang Mami setuju?" Lavino mengangguk seraya menghapus air mata yang semula membasahi pipi nya.


"Terus Papi?" dia kembali mengangguk.


Tanpa sadar aku menghela nafas kasar, jujur saja aku telah terbiasa dengan sikap kurang ajar Lavino sejak kecil. Mengetahui jika cepat atau lambat dia akan pergi dari sisi ku, mendadak ada rasa kehilangan dalam relung hati.


"Gue gak sabar pengen cepet-cepet lulus," ujar Lavino yang membuat ku segera meliriknya dan tertenggun ketika mendapati binar bahagia disorot mata nya yang tajam.


Dia bahagia dengan keputusan nya sendiri, aku tidak boleh egois.


"Tinggal beberapa bulan lagi, semangat!" Lavino tersenyum senang saat mendengar perkataan ku.


"Mandi gih, pake baju gua dulu," aku dan Lavino menoleh ke arah Delova yang berbicara pada cowok yang selalu menunduk.

__ADS_1


Aku terpesona saat dia mendongak, matanya berwarna kebiruan, hidung nya mancung kecil, wajah tirus dan bibir tipis yang mungil. Ya ampun, dia satu jenis dengan Delova.


"Adek sepupu Kak Delova," bisik Lavino


"Yang hampir bunuh gue,"


"Lo yang nabrak Lavino?" sosok itu kembali menunduk seraya memainkan jemari tangannya. Dia terlihat takut, padahal aku bertanya dengan nada rendah.


"Maaf," lirih nya yang membuat ku tertawa canggung.


"Siapa nama Lo?" dia melirik ku sebentar.


"Nafio Maheswari," jawab nya pelan sekali.


"Sana mandi minta temenin Lavino tuh!" suruh ku yang langsung mendapat pelototan horror dari Lavino.


"Kalian nginep sekalian, ya? Kebetulan Mama sama Papa sekarang lagi diluar kota. Tidur berdua aja di kamar tamu," tambah Delova yang semakin membuat Lavino menatap kami dengan pandangan sebal.


"Gue kalo tidur suka nendang-nendang, entar dia lecet," cibir Lavino yang langsung ku hadiahi cubitan di lengan nya. Dia memang tidak mudah menyukai orang yang baru di kenal, apalagi Nafio nyaris menghilangkan nyawa nya.


"Gue tidur disofa aja," gumam Nafio. Aku jadi kasian padanya.


"Kamar yang lain banyak," cegah Delova. Sementara aku sibuk beradu pandang dengan Lavino.


"Ya udah gue tidur bareng Kak Fio deh," akhirnya Lavino hanya pasrah, meski begitu aku dapat melihat raut terkejut Nafio.


"Buruan! Aku mau ngapa-ngapain Delova nih!" celetukku asal yang spontan dilempar bantal oleh Delova.


"Adek durhaka," umapat ku.


..


..


..


..


"Nafio itu adek sepupu Lo?" Aku dan Delova tengah berbaring dengan posisi tidur menyamping saling berhadapan.


"Ya dia kelas 1 SMA," sahut Delova tanpa mengubah pandangan dariku.


"Hah? Tapi kenapa dia bawa mobil? kan masih di bawah umur," Tangan halusnya terulur mengusap rambutku.


"Dia kabur dari rumah," Delova berbisik pilu.


"Dia lagi ada masalah?" tanya ku penasaran, sedangkan Delova tampak mengangguk dengan senyuman tipis.


"Ibu tirinya ngadu yang bukan-bukan sama Ayah Nafio, dan tanpa ngedengerin penjelasan Fio, beliau main kasar. Makanya anak itu kabur bawa mobil sambil ngebut-ngebutan," entah mengapa terselip rasa sedih saat mendengar perkataan Delova. Jadi, Nafio memiliki seorang ibu tiri?

__ADS_1


"Mama...pernah cerita sama Lo tentang gue yang gak suka sama cewek kan?" Aku mengangguk cepat, karena mama memang pernah mengatakan bahwa Delova tidak tertarik pada sebuah ikatan hubungan.


"Gue nyaksiin sendiri gimana hancurnya hidup Nafio. Mulai dari di buang sama ibu kandung, sampek akhirnya ikut ayah kandung dan ibu tiri yang gak pernah ngeharepin kehadiran dia," Delova menahan nafas, lalu membuang pandangan ke arah lain. "Saat itu gue benci perempuan dan nganggep mereka cuma bikin susah."


Ada yang menancap di dasar hatiku ketika mendengar penuturan Delova.


"Gak semua cewek kayak gitu," protesku yang membuat Delova kembali menatapku dengan teduh.


"Elo...gak kayak mereka. Lo mentingin nyawa seekor anak kucing yang bahkan gak kami peduliin dengan mempertaruhkan nyawa lo sendiri. Tanpa mikirin resiko yang bakal terjadi, Lo asal nerobos masuk di tengah tawuran bruntal," dia tersenyum begitu manis hingga mata berilis coklatnya menyipit, lalu berkata, "Makasih udah ngerubah pandangan gue tentang cewek, Nadira."


Aku sangat bahagia karena telah menjadi alasan bagi Delova untuk mengubah penilaiannya terhadap kaum hawa. Tetapi aku juga merasa tidak seharusnya Delova bersikap begitu. Apa dia mengabaikan keberadaan Mama?


"Kenapa Lo gak ngeliat mama? Beliau sudah ada buat Lo,"


Tiba-tiba saja Delova meraih kedua tanganku, kemudian meletakkan diwajahnya.


"Mama justru orang pertama yang bikin gue benci sama cewek. Dulu...Mama terang-terangan nyelingkuhin Papa, itu pun di depan mata gue. Banyak banget hal yang Mama lakuin untuk ngehancuri hati Papa, tapi Papa gak pengen gue hidup dengan kekurangan kasih sayang orang tua dan beliau mempertahankan sakitnya demi gue, sampek perlahan mama menyadari kesalahan yang dia perbuat."


Aku mengatupkan bibir rapat. Ya, Tuhan aku benar-benar tidak menyangka jika masalah di kehidupan Delova dahulu ternyata sangat berat.


"Lo bisa percaya sama gue," ucap ku dengan penuh keyakinan.


"Lo gak akan ninggalin gue?" Aku tersenyum, kemudian mengelus wajah Delova yang mulus dan lembut.


"Gue gak akan pernah ninggalin Lo," Delova menatapku tanpa berkedip. "Kecuali kalo elo yang minta gue buat pergi."


Tawanya terdengar merdu saat mendengar kalimat ku.


"Setelah susah payah dapetin Lo, gak mungkin gue nyuruh Lo buat pergi," lirih Delova lalu membawaku ke dalam dekapan hangat nya.


"Susah payah?" ulang ku bertanya.


"Tidur, besok bangun pagi terus balik ke apartemen. Kan mau sekolah," gumamnya mengalihkan pembicaraan.


Sebelum tidur aku menyempatkan diri untuk melahap habis bibir mungil nya, m****** dan menggigit dengan gemas hingga belahan bibir itu terbuka. Delova tampak pasrah, dia membiarkan aku yang mendominasi pagutan kami.


"Ngantuk," gumamku setelah ciuman tersebut usai. Dia tersenyum, lalu kembali mendekap tubuhku sampai aku membenamkan wajah dileher nya.


Mataku memberat, sesaat sebelum aku tertidur, samar-samar suara Delova yang berujar lirih terdengar.


"Selamat tidur kesayangannya Delova."


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2