
"Jangan pergi,"
Aku tersentak kaget saat suara lirih Delova terdengar bersamaan dengan tangannya yang mencekal pergelangan tanganku.
Dia sudah dalam kondisi demam ketika aku dan Lavino menyusulnya ke taman kota.
"Gue cuma mau bikinin Lo bubur kok," ujarku seraya kembali duduk dipinggiran ranjang apartemen kami.
Ku perhatikan dengan detail wajah Delova, tidak terlihat pucat melainkan merah padam. Cute! Dia terlihat seperti seorang bayi.
"Bohong! Nanti Lo pulang kerumah mami dan ninggalin gue lagi...Hiks..."
Jantungku berdenyut nyeri kala melihat Delova menangis terisak tanpa melepaskan tanganku.
"Maaf," gumamku.
Kemudian ku dekatkan wajahku dengan wajah imutnya yang masih saja dibanjiri air mata. Delova tidak menolak ketika aku ******* bibirnya, meskipun kaku tetapi kali ini dia sedikit membalas ciumanku.
"Harusnya dari awal Lo jujur sama gue, biar kita gak salah paham," ucapku setelah pagutan itu berakhir.
Delova yang sedang berbaring dikasur mengalihkan pandangannya, seolah dia takut jika menatap mataku.
"Gue pengen jujur, tapi gue yakin Lo gak bakal mau dengerin penjelasan gue dan nutup telepon secara sepihak."
Memang iya sih. Aku pasti akan langsung mematikan teleponnya saat aku tahu Delova bersama dengan Anita.
"Gue ngelakuin ini karena gue cinta sama elo, Nad. Bukan Anita yang gue cinta! Cuma elo seorang, Nadira," lanjut cowok cantik tersebut.
Aku ikut berbaring disamping Delova, mengamati pahatan wajah menawannya yang kini tertunduk.
"Gue cemburu dan marah sama Lo juga karena satu alasan," ujarku sambil menyingkirkan rambut yang menghalangi kening Delova," Gue bener-bener cinta elo, Mungil."
Semburat merah jambu muncul menggantikan merah padam akibat demam. Duh, tak sadarkah Delova kalau sekarang ia nampak begitu menggemaskan?
Terkadang akupun heran sendiri, mengapa Delova memiliki kulit putih yang mulus seperti cewek? Apa dia telat puber?
__ADS_1
Suaranya bahkan terdengar ringan walau itu benar suara khas cowok.
"Ini yang pertama," gumamnya dengan raut yang tersipu malu.
Keningku mengernyit sebab tidak mengerti maksud dari ucapan Delova.
"Apanya?"
"Pertama kalinya...Lo bilang cinta sama gue."
Aku tertenggun. Aih! Benar juga.
Kutangkup wajah Delova dengan kedua tangan, membuatnya mendongak menatapku.
Dia...terlihat bahagia.
"Apa Lo nungguin pernyataan cinta dari gue?"
Delova mengangguk lucu, membuatku tak sadar merapatkan diri padanya, lalu menggigit hidung mancung itu.
"Besok simulasi kan?" tanyaku yang telah benar-benar memasuki selimut dan memeluk tubuh wangi Delova.
"Lo juga?"
"Iya, makanya tidur supaya besok gak telat bangun!" titahku yang langsung diangguki oleh Delova.
Aduh, penurut sekali! Jadi makin sayang.
Mata Delova perlahan menutup. Dan lagi-lagi aku dengan geregetan mengecup matanya yang sudah terpejam rapat.
"Selamat tidur, Pangeran. Sampai jumpa di dunia mimpi," kataku berbisik di telinganya.
"Sorry egois."
Aku mengusap pelan surai rambutnya dengan hati-hati. Lalu pandangan mataku jatuh pada ponsel Delova yang berada disamping bantal.
__ADS_1
Kuambil ponsel tersebut, dan seperti biasanya, Delova tidak mengenakan pengaman untuk membuka menu ponsel.
"Foto ini?"
Pikiranku melayang ketika melihat foto 13 cowok berjaket hitam dengan Delova yang berada tepat ditengah tetapi dia mengenakan jubah hitam panjang. Mereka tampak tak lagi asing dimataku.
Dan yang paling mengejutkan adalah sosok Guntur yang berdiri persis disebelah kanan Delova. Jadi, benar mereka pernah berteman?
Kupandangi satu-persatu wajah datar dan terkesan dingin tersebut. Bahkan wajah imut Delova difoto ini terlihat begitu mengintimidasi. Dia menggunakan pierching ditelinga dengan surai rambut hitam yang mencuak keatas.
"Me-mereka..."
Aku refleks membungkam mulut ketika menyadari sesuatu.
Delova, Guntur dan teman-temannya nampak mirip dengan...The Vision!
Kumpulan berandal penguasa jalanan. Ya! Mereka seperti geng The Vision jika saja memakai topeng.
"Yang benar aja!"
Aku nyaris berteriak kaget, untungnya dapat tertahan hingga yang terdengar hanya sebuah desisan dengan nada berseru.
Fokusku menghilang karena panggilan dari private number masuk keponsel Delova.
Ragu-ragu ku angkat panggilan yang menghubungi suamiku ditengah malam begini.
'Hallo, Sayang? Ini gue Anita. Gimana? Lo mau kan nerima ajakan gue buat pacaran?'
.
.
.
.
__ADS_1
.