
Aku melangkah keluar kaki ke kamar mandi
dengan seragam sekolah yang telah rapi.
Sesekali kuregangkan otot tubuh yang terasa
kaku dan pegal-pegal.
Bukan pegal akibat aktivitas yang biasanya
di lakukan pengantin baru, tetapi karna
tadi malam di saat aku memeluk Delova.Dia
tanpa perasaan menendangku hingga
jungkir balik dan jatuh ke bawah ranjang.
"Tutik lo masih marah?"
Tanya Delova ketika melihatku melengos
pergi melewatinya yang sedang menyiapkan
sarapan. Eh, sial! kemarin dia memanggilku
Ningsih, sekarang malah seenaknya
menyebutku Tutik!
"Berapa kali gue harus bilang sama elo kalo
nama gue itu Nadira Avanya?!"
Delova tertawa mencemooh begitu
mendengar suaraku. Ya tuhan lama-lama
aku bisa terkena darah tinggi jika terus berada satu atap dengan makhluk cantik.
"Masalah semalem, sorry ya Nad? elo si
ngelecehin gue."
Aduh! sejak kapan istri memeluk suami di anggap melecehkan?
"Makan dulu yuk?"
ajaknya Delova menghampiriku yang masih
berdiri di dekat sofa, lalu menyeret paksa
meja makan.
"Ini semua elo yang masak?"
tanyaku ketika melihat berbagai macam
hidangan tersuguh di meja makan. Cowok
berparas cantik natural itu mengangguk
dengan senyuman manis.
"Kalo elo yang masak, nanti kita malah
keracunan."
Sial! Tepat mengenai sasaran. Jujur saja aku memang tidak bisa memasak.
__ADS_1
"Heh! Masakan gue setara dengan masakan
koki terkenal!"
Alih-alih mengakui, aku malah
menyombongkan diri. Sedangkan Delova
hanya menanggapinya dengan tawa kecil
dia sibuk mengisi makanan dipiringku. Kalau
begini sih, jadi Delova yang kelihatan seperti seorang istri.
"Kenyangin."
tutur Delova saat aku mulai menyuap
makanan kedalam mulut. Masakan cowok
cantik itu benar-benar enak. Berbeda dengan aku yang hanya bisa menggoreng
telur gosong.
..
..
..
Setelah makan dan mencuci peralatan dapur bersama-sama, Delova memperhatikan aku dari atas sampai bawah. Apa mungkin dia
terpesona dan jatuh cinta padaku?
"Lo mau berangkat ke sekolah apa mau
ngemis dipinggir jalan? gembel banget."
itu kenapa suka berbicara pedas sih?
bikin sakit hati saja. Aku memang tidak
menyisir rambut panjangku dan asal-asaln mengikatnya.
"Iya, gue emang gak secantik elo."
jawabku dengan tampang jegah. Delova
mendengus malas, kemudian menarik
tanganku menuju sofa. Tangannya bahkan
lebih lembut di bandingkan dengan
tangan cewek.
"Lo tuh cewek, Nad. Pinter-pinterlah
ngerawat diri, biar aura cantiknya keliatan,"
ujar Delova ketika kami sudah duduk di atas
sofa. Dia duduk dibelakangku, melepas
kuncir rambut yang ku pakai, lalu menyisir
rambutku dengan sangat pelan dan begitu
hati-hati.
__ADS_1
Duh aku jadi teringat sosok Mama.
"Rambut lo bagus."
puji Delova. Tangannya kembali mengikat
rambutku. Kemudian cowok cantik itu duduk
di hadapanku dengan kapas yang sudah di
bubuhkan vitamin khusus untuk wajah.
Delova mengolesi kapas ke wajahku dengan teliti. Sementara aku malah gagal fokus dan
menatap garis wajahnya yang terpahat
sempurna.
Bibir tipis mungil, hidung mancung kecil, alis
rapi, bulu mata lentik,iris mata bulat tajam, dan kulitnya nampak putih porselen tanpa ada cacat.
Delova sangat tampan segaligus cantik di waktu yang bersamaan. Mungkin jika
rambutnya panjang, Delova akan terlihat seperti cewek sungguhan. Potongan rambutcoklat Delova sangat mirip aktor-
aktor korea dia sedikit berponi.
"Nadira?"
panggil Delova. Berusaha menyadarkan akudari lamunan.
"Eh, Va! gue berangkat sekolah dulu ya?"
pamitku karena kami memang berbeda
sekolah. Aku di SMA biasa-biasa saja
sedangkan Delova bersekolah di tempat elit.
Selepas memakai sepatu, aku langsung
mengambil tas ransel dan menghampiri
Delova terlebih dahulu.
"Salim."
ucapku seraya mengulurkan tangan. Delova
membalas uluran tanganku yang tentu saja
aku segera mengecup punggung tangannya.
Setelah berperang dengan pikiran jahilku, akhirnya secepat kilat aku mencuri ciuman
tepat di bibir merah ranum milik Delova.
"NADIRA!"
Akupun berlari keluar apartemen ketika
Delova bersiap menghantam
kepalaku dengan sepatunya.
.
.
__ADS_1
.
.