Suamiku Si Cowok Cantik

Suamiku Si Cowok Cantik
Part 2


__ADS_3

Aku melangkah keluar kaki ke kamar mandi


dengan seragam sekolah yang telah rapi.


Sesekali kuregangkan otot tubuh yang terasa


kaku dan pegal-pegal.


Bukan pegal akibat aktivitas yang biasanya


di lakukan pengantin baru, tetapi karna


tadi malam di saat aku memeluk Delova.Dia


tanpa perasaan menendangku hingga


jungkir balik dan jatuh ke bawah ranjang.


"Tutik lo masih marah?"


Tanya Delova ketika melihatku melengos


pergi melewatinya yang sedang menyiapkan


sarapan. Eh, sial! kemarin dia memanggilku


Ningsih, sekarang malah seenaknya


menyebutku Tutik!


"Berapa kali gue harus bilang sama elo kalo


nama gue itu Nadira Avanya?!"


Delova tertawa mencemooh begitu


mendengar suaraku. Ya tuhan lama-lama


aku bisa terkena darah tinggi jika terus berada satu atap dengan makhluk cantik.


"Masalah semalem, sorry ya Nad? elo si


ngelecehin gue."


Aduh! sejak kapan istri memeluk suami di anggap melecehkan?


"Makan dulu yuk?"


ajaknya Delova menghampiriku yang masih


berdiri di dekat sofa, lalu menyeret paksa


meja makan.


"Ini semua elo yang masak?"


tanyaku ketika melihat berbagai macam


hidangan tersuguh di meja makan. Cowok


berparas cantik natural itu mengangguk


dengan senyuman manis.


"Kalo elo yang masak, nanti kita malah


keracunan."


Sial! Tepat mengenai sasaran. Jujur saja aku memang tidak bisa memasak.

__ADS_1


"Heh! Masakan gue setara dengan masakan


koki terkenal!"


Alih-alih mengakui, aku malah


menyombongkan diri. Sedangkan Delova


hanya menanggapinya dengan tawa kecil


dia sibuk mengisi makanan dipiringku. Kalau


begini sih, jadi Delova yang kelihatan seperti seorang istri.


"Kenyangin."


tutur Delova saat aku mulai menyuap


makanan kedalam mulut. Masakan cowok


cantik itu benar-benar enak. Berbeda dengan aku yang hanya bisa menggoreng


telur gosong.


..


..


..


Setelah makan dan mencuci peralatan dapur bersama-sama, Delova memperhatikan aku dari atas sampai bawah. Apa mungkin dia


terpesona dan jatuh cinta padaku?


"Lo mau berangkat ke sekolah apa mau


ngemis dipinggir jalan? gembel banget."


itu kenapa suka berbicara pedas sih?


bikin sakit hati saja. Aku memang tidak


menyisir rambut panjangku dan asal-asaln mengikatnya.


"Iya, gue emang gak secantik elo."


jawabku dengan tampang jegah. Delova


mendengus malas, kemudian menarik


tanganku menuju sofa. Tangannya bahkan


lebih lembut di bandingkan dengan


tangan cewek.


"Lo tuh cewek, Nad. Pinter-pinterlah


ngerawat diri, biar aura cantiknya keliatan,"


ujar Delova ketika kami sudah duduk di atas


sofa. Dia duduk dibelakangku, melepas


kuncir rambut yang ku pakai, lalu menyisir


rambutku dengan sangat pelan dan begitu


hati-hati.

__ADS_1


Duh aku jadi teringat sosok Mama.


"Rambut lo bagus."


puji Delova. Tangannya kembali mengikat


rambutku. Kemudian cowok cantik itu duduk


di hadapanku dengan kapas yang sudah di


bubuhkan vitamin khusus untuk wajah.


Delova mengolesi kapas ke wajahku dengan teliti. Sementara aku malah gagal fokus dan


menatap garis wajahnya yang terpahat


sempurna.


Bibir tipis mungil, hidung mancung kecil, alis


rapi, bulu mata lentik,iris mata bulat tajam, dan kulitnya nampak putih porselen tanpa ada cacat.


Delova sangat tampan segaligus cantik di waktu yang bersamaan. Mungkin jika


rambutnya panjang, Delova akan terlihat seperti cewek sungguhan. Potongan rambutcoklat Delova sangat mirip aktor-


aktor korea dia sedikit berponi.


"Nadira?"


panggil Delova. Berusaha menyadarkan akudari lamunan.


"Eh, Va! gue berangkat sekolah dulu ya?"


pamitku karena kami memang berbeda


sekolah. Aku di SMA biasa-biasa saja


sedangkan Delova bersekolah di tempat elit.


Selepas memakai sepatu, aku langsung


mengambil tas ransel dan menghampiri


Delova terlebih dahulu.


"Salim."


ucapku seraya mengulurkan tangan. Delova


membalas uluran tanganku yang tentu saja


aku segera mengecup punggung tangannya.


Setelah berperang dengan pikiran jahilku, akhirnya secepat kilat aku mencuri ciuman


tepat di bibir merah ranum milik Delova.


"NADIRA!"


Akupun berlari keluar apartemen ketika


Delova bersiap menghantam


kepalaku dengan sepatunya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2