
Aku terbangun dari tidurku pada pukul satu dini hari. Saat ku coba untuk kembali
bermimpi, mataku malah tidak bisa di ajak
bekerja sama, dan aku benar-benar tidak
merasa mengantuk lagi.
Kulirik Delova yang masih terlelap dengan posisi tidur membelakangiku. Syukurlah cowok cantik ini tidak begitu mempermasalahkan sikap ku yang semena-mena terhadapnya.
Aku mengambil ponsel Delova yang berada dibawah bantal. Dia tidak memakai pola maupun sandi, ah! suami yang baik.
Ponsel Delova masih terhubung di aplikasi google, namun aku lebih tertarik membuka riwayat pencariannya.
'Cara menghindari istri yang mesum dan
sesikit tidak waras.
Hah?! dia berniat untuk mencari antikel tentang itu?! sungguh teganya!
Saat tengah asik menggerutu tidak jelas, aku di kagetkan dengan pergerakan tubuh Delova
yang tiba-tiba menghadap ke arahku.
Tanpa melepaskan pandangan dari wajah
imut Delova yang masih tertidur dengan pulas, aku meletakan ponselnya ketempat semula.
Uh! ada untungnya juga aku terbangun
tengah malam begini. Aku dapat menikmati
wajah damai Delova yang terlihat begitu
polos.
"Va?"
panggilku memastikan kalau-kalau Delova
akan terbangun, tetapi ternyata tidak. Duh, aku jadi berfikiran yang iya-iya. Apalagi di suguhkan dengan pemandangan bibir mungilnya yang sedikit terbuka, pokoknya aku jadi gemas sendiri.
Mumpung orangnya masih tertidur,
__ADS_1
lumayan sosor sebentar. Aku langsung mengecup bibirnya singkat. Aman dia tidak bangun lalu yang kedua kalinya aku tanpa berpikir panjang ******* bibir Delova.
CTAK!
Aduh, di jitak. Aku mendongak kaku, ternyata karna ulahku Delova tebangun dari
tidurnya.
"Lo nafsuan amat sih Nad! Nyari-nyari kesempatan lagi, gue tendang keluar kamar lo!"
ancam Delova dengan suara agak serak
khas seseorang baru saja bangun tidur.
Aku segera memunggunginya dan bergegas memejamkan mata. Cukup satu kali aku
mendapat tendangan.
..
..
..
Setelah melewati malam yang begitu
"Nad makan dulu ya? udah gue buatin bubur nih."
Delova berjalan mendekatiku dengan
nampan ditangannya. Dia sudah mandi
tetapi tidak berganti seragam, apa dia tidak berniat pergi ke sekolah?
"Lo gak sekolah Va?"
tanyaku ketika Delova sudah duduk di tepi ranjang, sementara buburnya ia letakan di atas nakas.
"Gue gak mungkin ninggalin elo, Nadira,"
Delova hendak menyuapkan bubur ke mulutku tetapi aku menutup mulut rapat-
rapat.
__ADS_1
"Gak mau makan! Gue mau tidur aja,"
kataku
"Ya udah, tidur."
Aku menarik tangan Delova. Tidak rugi juga sakit begini, ada banyak rencana yang sudah
kususun dalam otak.
"Temenin."
Menggelikan sekali saat mendengar
ucapanku yang sedikit manja. Sedangkan Delova nampak menghela nafas kasar, kemudian ikut berbaring di sampingku.
"Nyanyiin lagu bobo,"
kataku seraya memeluk Delova. Awalnya
risih, tatapi karena tidak bisa berbuat apa-
apa, akhirnya Delova hanya pasrah.
"Nina bobo, oh Nina bobo."
Suara Delova memang sangat merdu sih.
"Gue bukan Nina, gue Nadira, pake nama gue dong!"
protesku Delova berdecak sebal.
"Sira bkbo, oh Dira bobo,
kalu tidak bobo, lo kaya kebo."
Sejak kapan liriknya jadi seperti itu?!
.
.
.
__ADS_1
.
mohon maaf kalau gak berkenan dihati:')