Suamiku Si Cowok Cantik

Suamiku Si Cowok Cantik
Part 22


__ADS_3

Kupikir menjadi kekasih hati dari seorang ketua gangster akan sangat menyenangkan, karena jujur saja aku merasa kalau itu adalah hal yang terkesan keren sekali.


Awalnya aku bahagia, sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa kini banyak yang mengincar nyawaku agar dapat melumpuhkan kekuatan The Vision. Drama sekali bukan? Tetapi sialnya aku benar-benar terjebak dalam situasi tersebut.


"Lo baik-baik aja kan, Nad?"


Aku menoleh dan mendapati raut khawatir Guntur yang tengah menatapku.


"Lumayan," jawabku lesu.


Pagi ini setelah diantar Delova menuju sekolah, aku yang ingin menuju kelasku malah dihadang dua cowok sangar dan untungnya diselamatkan oleh Guntur.


Tadinya kukira mereka merupakan orang suruhan Anita, tetapi ternyata Anita saat ini berada dirumah sakit karena kasus kecelakaan. Entah itu kecelakaan sungguhan atau hanya rekayasa pelaku, pokoknya aku tak mau tau.


"Kaki Lo gimana?" Guntur melirik kaki kananku yang diperban.


"Nyeri."


"Mau ganti perban? gue anterin," tawarnya yang langsung membuatku menggeleng.


"Mereka musuhnya Delova?" kulihat cowok


berwajah tampan menghela nafas kasar kemudian mengangguk.


Diruang kesehatan yang sunyi, aku memandang lurus kedepan. Tak berfokus, sebab pikiranku menerawang tiap kejadian aneh yang dahulu kuanggap hanya ada dalam sinetron.


"Bukannya elo juga musuhan sama Delova, ya? Berarti Lo punya niatan buat nyakitin gue dong?" tuduhku sementara Guntur nampak melempar tawa.


"Lo tau tentang titik Achilles?" cowok ini malah seenaknya mengganti topik pembicaraan.


"Gak! Gue taunya cuma makan!" ketusku yang ditanggapi Guntur dengan kekehan geli.


"Dalam dunia vampir titik achilles disebut sebagai titik kelemahan. Dimana sosok itu bakal ngelakuin apa aja demi achilles-nya."


Kenapa jadi membahas persoalan tentang vampir begini?


Guntur mentapku sejenak, lalu kembali berkata," Kemaren nyawa Lo diselametin sama The Vision, dan berita itu udah sampek ditelinga para gangster lain. Sekarang mereka semua udah tau kalo elo titik kelemahan The Vision, Lo adalah titik achilles-nya Delova."


Penjelasan dari Guntur membuatku merasa tertampar. Ya Tuhan lagi-lagi nyawaku terancam bahaya.

__ADS_1


"Dulu, gue sempet berfikir untuk nyekap Lo supaya bisa ngasih pelajaran sama Delova, tapi segala pemikiran buruk itu lenyap saat gue mulai kenal elo," gumam Guntur, kemudian dia menatapku dengan ekspresi terluka.


"Maafin gue, Nad. Gara-gara gue tadi nyelametin Lo, mereka jadi tau kalo elo juga merupakan titik kelemahan gue."


Aku tertegun.


Meskipun aku sedikit tidak mengerti dengan perumpamaan kata yang Guntur bicarakan. Namun, aku paham...Jika Guntur memiliki perasaan spesial untukku.


.


.


.


.


"Lo gak pengen makan, Enad? Atau mungkin mau makan cinta kasih dari gue aja?" Abas kembali beraksi tanpa menghiraukan tatapan sengit Delova.


Sepulang sekolah, Delova mengajakku makan dikafe bersama teman-temannya yang berwajah tampan.


"Ngomong gitu lagi gue patahin kaki Lo," ancam Delova dengan pandangan yang mengintimidasi.


"Diem Lo, Panu! Dasar mata duitan," balas Abas dengan agak songong.


Saat aku tengah asyik menatap kelakuan sinting mereka, tiba-tiba saja Delova meletakkan kepalanya di pucuk kepalaku, lalu mengusap dengan sayang.


"Mau makan apa?" tanyanya ketika kami saling bertatapan. Suara siul dan dehaman teman-teman Delova terdengar mengusik.


"Minum aja, gue pengen makan masakan Lo," jawabku gugup.


Delova menyinggungkan senyuman manis hingga deretan gigi putih rapinya terlihat.


"Pulang sekarang aja yuk?" ajak Delova sembari menggenggam tanganku.


"Sebentar amat, Bos." Rifan menyela dengan wajah penuh tawa. Sedangkan Delova sama sekali tidak mengubah pandangannya, yang dia lakukan hanya menatapku.


"Nadira belum makan dan gak mau makan dikafe ini."


Setelah itu aku dan Delova bergegas pergi meninggalkan kafe.

__ADS_1


Untuk yang kesekian kali, aku jatuh hati pada pesona memikat Delova Aryadiraga.


...


Sesudah masak dan menyiapkan makanan dimeja, cowok berparas cantik natural itu sekarang sedang mandi.


"Hah! pusing pala Barbie."


Pikiranku melayang ingin rasanya kutanyakan pada Delova mengenai berbagai macam rahasia mengenai sosoknya.


"Yep! Lo emang harus nanya, Nad!" seruku menyemangati diri sendiri.


Tepat ketika pintu kamar mandi apartemen kami terbuka, aku langsung mendorong Delova sampai punggungnya menabrak dinding.


"Kenapa Nad?" wajahnya bersemu merah dengan mata mengerjap lucu. Menggemaskan, bikin ingin gigit saja.


Dia mengenakan kaos hitam pendek dengan celana kain berwarna biru sebatas lutut.


"Ini tuh penting! Harus kita selesain sekarang juga!" seruku yang membuat wajah Delova semakin memerah.


"Ya udah, kalo emang Lo maunya sekarang," Delova memejamkan mata dengan tangan yang mengalung dileherku.


Tunggu! Memangnya dia mengira maksud perkataan ku ini soal apa? Ciuman?


Astaga! Lumayan sekali.


"Se-sebenarnya bukan itu...." lirihku seraya meneguk ludah gugup saat Delova perlahan membuka matanya dan memandangku dengan ekspresi bingung yang terlihat begitu imut.


Sudah terlanjur begini, sosok saja lah.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2