Sunshine

Sunshine
Prolog


__ADS_3

Sreeetttttt...


Terdengar suara gorden terbuka, silaunya cahaya Matahari yang masuk ke dalam kamar, perlahan-lahan membuka mataku yang sayu ini. Nampaknya hari ini aku bangun lebih telat dari hari-hari sebelumnya, karena aku lihat bumi sudah tidak gelap lagi oleh terangnya sinar Matahari. 


Mata ini memandang lurus ke arah Bunda yang sedang berdiri di dekat jendela, sambil melempar senyum manisnya kepadaku yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur. 


Di dalam sebuah kamar yang disulap menjadi sebuah ruang ICU rumah sakit, dengan berbagai alat-alat medis yang cukup lengkap. Aku terbaring di sebuah tempat tidur yang bernuansa serba bunga Matahari. Namun keadaanku saat ini sangat mengkhawatirkan, bisa dibilang kritis. Yang hidupnya kini tergantung pada alat-alat medis yang menempel di beberapa bagian tubuhku. 

__ADS_1


Sudah lima hari aku bagaikan mayat hidup seperti ini, yang bisa kulakukan hanya mengedipkan mata saja tanpa bisa menggerakkan satu pun dari bagian tubuhku.


“Selamat pagi, Sayang...” sapa Bunda sambil menghampiriku lalu mencium keningku dengan penuh kasih sayang.


Namun aku hanya bisa membalasnya dengan sekali kedipan mata saja, tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas sapaannya.


Seharusnya bukan Bunda yang membukakan gorden jendela kamarku pagi ini. Biasanya, setiap pagi sebelum Matahari terbit, aku sudah terbangun dari tidurku. Kaki ini langsung membawaku melangkah menuju jendela kamar dengan penuh semangat, lalu kubuka jendela kamarku dan berjalan menuju balkon rumah hanya untuk melihat sang Surya terbit. 

__ADS_1


Ya, aku sangat mengagumi benda ciptaan Tuhan yang satu ini. Sentuhan hangat sinarnya mampu memberi semangat di pagi hari untukku. Kilau sinarnya membuatku semakin takjub, betapa indahnya ciptaanMu, Tuhan. Aku ingin seperti Matahari yang begitu tangguh. Di langit dia hanya sendiri, bergelantung tanpa tiang penyangga, tapi dia kuat dan tak pernah mengeluh. Dengan ketulusannya dia mencoba menerangi Bumi di siang hari tanpa lelah. Aku ingin seperti Matahari, aku tak mau merasa kesepian walau sendiri, aku tak mau mengeluh dengan setiap rasa sakit yang selalu menimpaku, aku ingin selalu bersinar untuk orang-orang di sekelilingku. Meski kenyataannya aku redup tanpa cahaya.


Sudah lima hari aku tidak bisa menjalankan aktivitasku dengan normal lagi. Kondisi yang seperti ini membuatku semakin tidak berdaya. Jangankan untuk berjalan, menggerakkan tangan pun untuk saat ini menjadi hal yang sangat sukar untukku. Tubuhku tergoleh lemah tanpa tenaga, dengan selang infus yang menempel di punggung tangan kananku, alat tensi darah yang menempel di lengan atas tangan kananku. Bukan hanya itu saja, bagian dadaku di penuhi dengan kabel-kabel kecil yang menempel untuk merekam irama jantungku. Di mulutku juga terdapat pipa Intubasi yang ukurannya cukup besar, selang yang gunanya untuk membantu pernafasan itu masuk ke dalam rongga mulutku sehingga membuat mulut ini kaku. Lalu, di lubang hidungku pun terdapat sebuah selang NGT yang masuk ke dalam lambung, untuk mengantarkan makanan atau vitamin langsung ke dalam tubuh agar aku tidak kekurangan nutrisi. 


Kanker otak yang aku derita sejak tiga tahun belakangan, kini sudah mencapai stadium akhir. Sel kanker sudah menyebar ke seluruh organ tubuhku. Itu sebabnya organ-organ tubuhku mulai tidak berfungsi dengan baik. Sehingga kondisi badanku lemah tak berdaya, dan sangat bergantung pada alat-alat medis untuk tetap bertahan hidup seperti sekarang ini. Dan entah sampai kapan aku bertahan dengan kondisiku yang seperti mayat hidup ini.


***

__ADS_1


__ADS_2