Sunshine

Sunshine
Bab 9 - part 1


__ADS_3

POV 3


Suasana di dalam Apartemen Citra sore itu cukup gaduh. Karena baru saja Hanin menyadari bahwa uang miliknya, sebesar 5 juta yang disimpan di dalam lemari tiba-tiba hilang.


“Lo yakin gak salah nyimpen kan, Nin? lo udah coba cek lagi kan?” tanya Citra meyakinkan Hanin.


“Iya, Cit... aku ingat jelas ko di mana terakhir aku nyimpen uang itu.”


Friska masih sibuk mengobrak-abrik isi Apartemen, diikuti oleh Citra dan Hanin. Tapi tetap saja uang Hanin tidak ditemukan.


“Huhhh... tetep gak ada, Cit. Masa iya di Apartemen ada pencuri sih,” ujar Friska.


“Coba deh tanya Ririn,” ujar Citra sedikit panik.


Namun saat Citra menyebut nama Ririn dan Friska mendengar nama Ririn, tiba-tiba saja Citra dan Friska saling berpandang-pandangan, seakan-akan isi di kepala mereka berdua setelah mendengar kata Ririn itu, sama.


“Jangan-jangan...” ujar Citra dan Friska bersamaan.


Namun Hanin malah menggelengkan kepala. Hanin percaya kalau Ririn tidak mungkin melakukan hal seperti itu kepadanya.


Sudah hampir tiga jam Citra, Hanin dan Friska menunggu Ririn pulang. Namun tetap saja Ririn belum kelihatan batang hidungnya, sampai-sampai Hanin dan Friska ketiduran. Sementara Citra masih terlihat gelisah menunggu Ririn.


Trekkkkk...


Suara pintu terbuka. Ririn pun masuk ke dalam Apartemen.


“Lo belum tidur, Cit?” tanya Ririn sambil tersenyum.


Namun citra malah memandangnya sinis, dan langsung menghampiri Ririn dengan pertanyaan yang cukup membentak.


“Mendingan lo jauhin cowo itu sekarang juga! lo ancur semenjak kenal dia, Rin!” ujar Citra.


“Maksud lo apa sih? kaya lo paling bener aja deh,” jawab Ririn tidak terima.


“Lo udah jauh berubah, Rin. Mendingan sekarang lo ngaku aja deh. Lo kan yang ngambil uang Hanin? Iya kan?”


Mendengar itu, Ririn mendadak diam. Seakan-akan ia bingung harus menjawab apa.


Dengan diam Ririn, Citra sudah dapat menebak kalau Ririn memang yang melakukannya. Citra terlihat begitu kecewa kepada Ririn.


“Dulu lo gak pernah ngelakuin hal bodoh kaya gini, Rin. Lo pasti abisin bareng cowo itu kan?”

__ADS_1


“Gue pasti ganti ko,” ujar Ririn sedikit membentak.


Hanin dan Friska pun terbangun mendengar suara gaduh akibat adu mulut antara Ririn dan Citra.


“Bukan masalah gantinya, tapi kepercayaan, Rin... kepercayaan. Demi cowo gak jelas kaya dia, lo rela ngambil milik sahabat lo sendiri. Sahabat lo sendiri, Rin. Lo gak mikir apa!”


“Lo tau apa sih tentang dia? sampe bisa nilai sejauh itu. Gue nyaman sama dia, gue bahagia sama dia. Jadi gue minta lo gak usah ikut campur lagi urusan gue!”


“Tapi gue sahabat lo, gue gak mau lo salah bergaul.”


Hanin menghampiri Citra dan Ririn yang masih berdebat.


“Tapi lo gak berhak atur hidup gue!”


“Kalian apa-apaan sih... udah dong jangan berantem gini! Semuanya pasti bisa diselesaikan dengan cara baik-baik,” ujar Hanin menghampiri untuk mencoba mendinginkan keadaan.


Tapi Ririn malah mendorong Hanin sampai terjatuh, Ririn tidak suka bila Hanin ikut campur juga. Tidak bisa terima perlakuan Ririn kepada Hanin, Citra marah dan balik mendorong Ririn. Ririn pun tidak terima, karena Citra lebih memilih membela Hanin yang bisa dibilang sahabat baru dibanding Ririn yang sudah 7 tahun bersama. Citra dan Ririn pun jadi semakin memanas.


Hanin mencoba melerai kembali, namun tiba-tiba kepala Hanin terasa pusing, sampai membuat Hanin jatuh pingsan. Untung saja ada Friska yang menghampiri dan menolong Hanin. Namun Ririn dan Citra masih tetap saja beradu mulut.


“Hanin, Nin... Hanin....” Friska panik. "Berhenti!" kata Friska sedikit berteriak.


Mendengar teriakan Friska, Citra dan Ririn langsung mengalihkan pandangan mereka. Melihat Hanin jatuh pingsan, Citra dan Ririn bergegas membantu Friska membawa Hanin ke kamar.


“Emh...," keluh Hanin sambil memegang pelipisnya.


Ririn dan Citra langsung mendekat ke tempat tidur di mana Hanin terbaring.


“Syukurlah lo udah siuman,” kata Friska.


Hanin pun bangun dari tidurnya dan duduk.


“Nin... maafin gue ya,” kata Citra.


“Maafin gue juga, Nin... udah kasar sama lo,” kata Ririn merasa bersalah.


“Aku gak apa-apa ko. Aku harap kalian jangan berantem lagi kaya tadi, ya... kalau lagi ada masalah, kita bisa kan omongin baik-baik. Aku yakin semua pasti ada jalan keluarnya.”


“Dia yang mulai duluan!” ujar Citra kepada Ririn.


“Ko gue, ya jelas elo lah,” bantah Ririn tidak mau kalah.

__ADS_1


“Udah-udah, gak kasian apa sama Hanin. Dia pasti tambah pusing kalau harus ngedengerin ocehan kalian,” ujar Friska sedikit membentak.


Citra dan Ririn pun diam.


***


Setelah kejadian malam itu, hubungan persahabatan Citra dan Ririn jadi kurang baik. Mereka malah jadi saling diam, bahkan saling menghindar satu sama lain. Hanin dan Friska pun mencoba untuk memperbaiki hubungan mereka seperti dulu lagi, namun Citra yang keras dan Ririn yang egois membuat Hanin dan Friska mengalami kesulitan mendamaikan mereka. Hingga tidak terasa satu minggu pun telah berlalu.


“Sampe kapan kalian kaya gini?” tanya Friska.


Saat mereka berempat sedang berkumpul menonton TV, namun Ririn dan Citra tetap saling acuh.


“Bener kata Friska, aku pengen kita kaya dulu lagi, Cit... Rin....”


Citra dan Ririn tetap diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


“Kalau masalah uang itu, aku kan udah gak permasalahin lagi. Aku ikhlas ko, aku cuma pengen kalian baikan lagi.”


“Bukan masalah itu, Nin... kelakuan dia, kelakuan dia udah kurang ngajar sama lo.”


“Maksud lo apa bilang ke gue kaya gitu!”


“Lagian lo mau sampai kapan abis-abisan buat cowo lo itu, dia gak pantes buat lo."


“Ini nih yang gue gak suka dari lo, lo tuh so baik, so alim, so paling bener. Lo gak kenal dia, jadi lo gak tau dia kaya gimana.”


“Terserah deh lo mau ngomong apa, yang jelas semua ini gue lakuin karena gue care sama lo. Gue cuma gak mau sahabat gue jatuh ketangan orang yang salah. Tapi kalau lo gak suka, fine. Itu urusan lo. Setidaknya gue udah nyoba buat ngingetin elo,” kata Citra sambil pergi meninggalkan ketiga sahabatnya.


“Gue rasa omongan Citra gak salah-salah banget deh, Rin. Citra gak mungkin kaya gini kalau dia gak peduli sama lo.”


Ririn hanya diam mendengar ucapan Friska kepadanya.


Dan benar saja apa yang Citra ucapkan. Tidak harus menunggu lama, pada akhirnya dengan mata kepalanya sendiri Ririn mengetahui siapa laki-laki itu sebenarnya. Laki-laki itu menjadi pacar Ririn hanya untuk memanfaatkannya saja, menguras uang Ririn untuk membahagiakan wanita lain. Secara tidak langsung Ririn hanya dijadikan ATM berjalan oleh laki-laki itu tanpa rasa cinta sedikit pun. Ririn benar-benar merasa dipermainkan, hatinya terasa sakit. Kekecewaan pun sangat jelas terlihat, dan tanpa malu Ririn pun menghampiri Citra di Apartemen. Ririn langsung memeluk Citra sambil melepaskan kesedihaannya.


“Maafin gue, Cit... maafin gue,” kata Ririn menangis di pelukan Citra.


Citra malah merasa heran dengan sikap Ririn yang tiba-tiba masuk dan langsung memeluknya sambil menangis.


“Lo kenapa, Rin?” tanya Citra tidak mengerti.


“Maafin gue, Cit... apa yang lo bilang itu bener. Laki-laki itu emang jahat, dia jahat, Cit. Dia jahat sama gue,” ujar Ririn tersendu-sendu.

__ADS_1


Ririn benar-benar merasakan kekecewakan yang mendalam. Hanin dan Friska pun masuk menghampiri Ririn dan Citra. Mereka mencoba menenangkan Ririn yang sedang bersedih, agar mau menceritakan apa yang sebenernya terjadi sampai-sampai membuatnya menangis seperti sekarang ini. Setelah merasa sedikit tenang, Ririn pun menceritakan apa yang terjadi kepada ketiga sahabatnya itu. Bahwa apa yang Citra bilang tentang pacarnya itu semuanya benar, laki-laki itu sama sekali tidak mencintai Ririn dia hanya memanfaatkan Ririn saja. Mendengar itu mereka bertiga pun ikut sedih, namun mereka berusaha menenangkan Ririn bahwa Ririn tak sendiri. Dia masih punya sahabat yang akan selalu ada buat Ririn. Ririn pun meminta maaf kepada Citra, dan mereka kembali bersahabat seperti dulu. Mereka berempat berharap dengan adanya cobaan kemarin, akan semakin membuat persahabatan mereka lebih baik lagi.


***


__ADS_2