
POV 3
Malam harinya, Bunda dan Ka Hans sedang berada di ruang depan rumah. Nampaknya Ka Hans sudah menyampaikan apa yang Hanin inginkan saat ini kepada Bunda, namun Bunda terlihat marah dan sama sekali tidak setuju dengan permintaan Ka Hans.
“Enggak, Hans! Bunda bilang enggak, ya enggak!"
“Bun, Hans minta tolong. Kali ini aja...”
“Enggak, Bunda gak akan pernah ngizinin. Bunda gak mau Hanin kenapa-kenapa.”
Ka Sandra yang baru saja tiba di rumah, sempat menghentikan langkahnya sebentar saat melihat Bunda dan Ka Hans berdebat.
“Bun... gak ada salahnya kan untuk nurutin kemuan Hanin. Selama ini dia gak pernah minta apa-apa, dia selalu nurut sama apa yang Bunda mau. Termasuk dengan semua peraturan yang Bunda kasih buat dia. Tapi kali ini Hans mohon, Bun... kasih Hanin kesempatan. Hans gak mau Hanin sedih kaya gini karena Bunda gak ngasih izin buat dia.”
__ADS_1
“Bunda punya alasan untuk itu, jadi tolong ngertiin perasaan Bunda, Hans!"
Melihat Bunda dan Ka Hans sedang membicarakan Hanin seperti itu, Ka Sandra malah terlihat kesal mengetahuinya.
“Ekhhhhh,” gumamnya sambil pergi menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua dengan langkah yang cukup cepat.
Sebuah kamar yang cukup rapih, dengan wallpaper yang bagus menghiasi dinding kamar, tempat tidur yang nyaman, tersedia meja rias, pokoknya benar-benar sebuah kamar yang nyaman.
Hanin berdiri di depan meja rias, sambil senyum-senyum sendiri melihat bayangan wajahnya di cermin. Sementara tangan Hanin terlihat sedang memegang bedak yang ada di atas meja milik Ka Sandra.
Suara pintu yang didorong cukup keras. Hanin pun merasa kaget, spontan Hanin langsung membalikkan badan ke arah pintu dan lebih kagetnya lagi yang masuk itu Ka Sandra.
Ka Sandra menghampiri Hanin dengan langkah cepatnya dan langsung mengambil bedak yang berada di tangan Hanin saat itu, dengan muka yang terlihat begitu marah dan kesal. “Lancang banget sih lo masuk kamar gue, pake pegang-pegang bedak gue segala. Udah mendingan lo keluar sana!”
__ADS_1
“Maaf Ka, kalau Hanin gak sopan. Karena udah masuk kamar Kakak tanpa izin. Hanin sengaja nunggu Kakak pulang, Hanin pengen diajarin dandan sama Kakak, makanya Hanin tunggu Ka Sandra disini... Kakak mau, kan?”
Mendengar ucapan Hanin tadi, Ka Sandra malah tersenyum, seakan-akan meledek.
“Gak salah denger tuh... lo mau dandan? Ehh, denger ya! Buat apa coba lo dandan, so kecentilan banget tau gak. Kalau orang sakit itu mau dandan secantik apapun tetep aja mukanya pucet. Udah deh gak usah banyak gaya! mendingan lo urusin tuh kamar lo, buang monitor lo yang berisik itu! Ganggu banget kalau gue lagi tidur. Lagian ini rumah, bukan rumah sakit!”
Hati Hanin pasti terasa sakit saat mendengar perkataan Ka Sandra kepadanya, Hanin pasti sama sekali tidak menyangka kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulut Ka Sandra. Kakak kandungnya yang sikapnya mendadak berubah drastis semenjak Hanin dinyatakan sakit. Namun Hanin masih berusaha untuk tersenyum.
“Sekalian tuh urusin Bunda sama ka Hans! yang lagi berantem gara-gara lo. Dasar biang onar!”
“Aku minta maaf, Ka!” ujar Hanin sambil menahan kesedihan dan langsung keluar dari kamar Ka Sandra.
Ka Sandra berjalan menuju tempat tidur, ia duduk dan langsung menghela nafas panjang untuk mencoba menenangkan hati yang cukup kesal pada sang adik.
__ADS_1
***