
POV 1
Seperti halnya sebuah peran dalam skenario film, aku telah berhasil menjalani peranku sampai akhir cerita. Mengikuti alur sesuai skenario yang ditulis. Tapi kisahku tak seperti pemeran utama di film-film, yang selalu berakhir happy ending. Karena kenyataannya, hidup manusia di dunia ini akan diakhiri oleh sebuah kematian. Entah kapan, bagaimana dan dengan cara apa, yang jelas Tuhan telah menyiapkan jalan masing-masing untuk setiap yang bernyawa kembali kepada-Nya.
Kini, tubuhku sudah tenggelam ke dalam Bumi. Dan penderitaanku telah berakhir, bersama berakhirnya skenario yang Tuhan tulis untuk hidupku. Setelah namaku terukir di batu nisan, hanya tempat tidur kosong yang bisa ka Sandra lihat di balik cctv-nya, hanya alat-alat medis yang bisa ka Hans temui di kamarku, dan hanya kesedihan yang bisa aku berikan kepada Bundaku tercinta.
“Ka Sandra sayang. Jangan tinggal-tinggalin Bunda lagi ya! Jangan biarin Bunda kesepian. Sekarang cuma kakak gadis tercantik yang Bunda punya. Jagain Bunda buatHanin ya, ka. Jangan buat Bunda terlarut dalam kesedihan atas kepergian Hanin. Terimakasih untuk kebahagiaan yang kakak kasih, untuk waktu yang kakak luangkan di sisa akhir hidup Hanin. Hanin sayang banget sama kakak.”
“Ka Hansku sayang. Terimakasih atas semua usaha dan kerja keras kakak selama ini, agar Hanin bisa bertahan hidup lebih lama. Maafin Hanin udah nyusahin kakak selama Hanin sakit. Hanin gak mungkin bisa bales semua itu. Tapi Hanin bangga punya kakak yang tangguh dan siap 24 jam kaya kakak. Ahhhhh Hanin sayang banget sama ka Hans. Ohhh iya, satu pesen Hanin buat kakak, jangan nangis-nangis lagi ya! cemen tau ka hehe.”
“Bunda sayang, mungkin Bunda sangat terpukul dengan kepergian Hanin. Tapi Bunda jangan terlarut dalam kesedihan ya! Hanin disini bahagia, Bun... tanpa rasa sakit lagi . Bunda sayang, terimakasih telah memberikan kasih sayang yang begitu besar untuk Hanin. Tanpa lelah Bunda merawat Hanin selama Hanin sakit. Terimakasih telah menjadi semangat terbesar untuk Hanin, menjadi alasan yang kuat untuk Hanin bertahan sampe sejauh ini. Sekarang waktu Hanin udah habis buat nemenin Bunda, maafin Hanin ya Bun kalau selama ini udah nyusahin.
"Bunda sayang, Hanin titip kamar ya. Kalau boleh, buka gorden dan jendela kamar Hanin setiap pagi, seperti apa yang sering Hanin lakukan. Mau kan, Bun? agar Hanin tidak merasa kegelapan. Bunda sayang, Hanin gak pernah benar-benar pergi ko. Hanin akan selalu ada di sini, di hati Bunda. Ohh iya Bun, Hanin punya sesuatu untuk Bunda. Semoga Bunda suka. Ini adalah ungkapan perasaan yang Hanin tuangkan dalam rangkaian kata, untuk Bundaku tercinta."
Bunda...
Kaulah wanita terhebat yang selalu mendampingiku
Malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirim untukku
Kaulah sumber segalanya bagiku
Dan aku menyayangimu
__ADS_1
Bunda...
Tawaku adalah tawamu
Tangisku adalah tangismu
Deritaku adalah deritamu
Dan kaulah belahan jiwaku
Bunda...
Saat ini aku menangis,
Kusadar kini kau tak mungkin bisa mendekapku
Seketika tangisku pun semakin pecah
Dan aku sangat merindukanmu
Bunda...
Kini jarak telah memisahkan kita,
__ADS_1
Namun aku tetap berlari walau hanya angan batinku
Hanya untuk menandakan adanya hadirku dalam mimpimu
Dan aku tak ingin jauh darimu
Bunda sayang...
Kaulah warna terindah melebihi pelangi
Yang aku miliki di dunia ini
Terimakasih atas semua warna yang kau lukis dalam hidupku
Yang telah menghiasi, menemani sampai akhir hayatku
Dan aku mencintaimu, Bunda.
Itu adalah pesan yang aku tulis untuk ka Sandra, ka Hans, dan Bunda sebelum aku pergi, yang aku simpan di bawah tempat tidur mereka masing-masing lewat bantuan Citra. Dan berharap mereka membacanya.
“Mungkin... aku tidak bisa seperti Matahari yang selalu menyinari sekeliling Bumi. Namun Bunda, kedua kakakku, tante Dewi, ketiga sahabatku, juga ka Deva, telah menjadi Matahari, Matahari yang selalu menyinari hari-hariku yang suram tanpa lelah. Terimakasih untuk cahaya yang kalian berikan dalam hidupku, untuk kasih sayang yang tanpa batas, untuk pengalaman yang berharga, juga untuk cinta dan pengorbanan yang tulus.”
***
__ADS_1
SELESAI