
Hari-hari pun berlalu, semakin hari aku jadi semakin dekat dengan Citra, Ririn dan Friska. Karena hampir setiap hari kita menghabiskan waktu sama-sama. Bisa dibilang kini aku jadi salah satu dari bagian persahabatan mereka.
Meski bagi mereka aku ini merupakan sahabat baru, namun mereka memperlakukan aku layaknya teman yang sudah bersahabat lama. Aku sangat merasa bahagia, karena akhirnya aku bisa mempunyai teman juga, lebih tepatnya sahabat. Sosok yang selama ini tak pernah ada di dalam hidupku. Sungguh tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata betapa bahagianya hati ini. Karena dengan adanya mereka di hidupku, aku merasa hidup ini jadi lebih indah dan lengkap dengan kehadiran mereka. Yang terpenting kehadiran mereka bisa menjadi penyemangat baru untuk bertahan dan berusaha sembuh dari penyakit yang sudah cukup lama bersarang di kepalaku ini.
Semakin lama, aku semakin mengenal sosok ketiga sahabatku. Aku pikir keceriaan yang selalu kulihat di wajah mereka, itu karena mereka tidak memiliki masalah. Tapi ternyata aku salah, setiap orang memang tak pernah luput dari masalah hidup. Termasuk mereka bertiga.
Citra, dia harus berjuang sendiri menembus kejamnya ibukota demi bertahan hidup. Citra yang memilih untuk hidup mandiri dengan bekerja sampingan sebagai penyanyi caffe, dibanding ikut tinggal bersama kedua orang tuanya yang kini tinggal di luar negeri.
Sedangkan Ririn, dia adalah anak dari seorang pengusaha. Hidup Ririn cukup enak, namun Ririn sama sekali tidak pernah merasa nyaman saat berada di dalam rumah. Karena kedua orang tuanya sering berantem gara-gara orang ketiga, membuat Ririn pergi dari rumah dan memutuskan tinggal di Apartemen milik Citra.
Dan Friska, dia adalah anak tunggal. Namun orang tuanya sama sekali tidak pernah memperhatikan Friska, mereka lebih memilih fokus pada usahanya. Hingga akhirnya Friska pun memilih ikut tinggal bersama kedua sahabatnya.
Saat itu waktu menunjukkan siang di hari Rabu. Kebetulan aku sedang bermain di Apartemen Citra. Namun Citra terlihat tak nampak, hanya ada aku, Ririn dan Friska. Aku dan Friska sedang asik nonton DVD korea'an yang telah menjadi hobi kita berdua saat mengisi waktu luang.
Tiba-tiba Ririn datang menghampiri dan duduk di samping Friska yang posisinya bersebrangan denganku.
“Fris... minjem duit 300 ribu dong,” kata Ririn berbisik kepada Friska, namun samar-samar terdengar olehku.
“300... uang buat apa lo?” tanya Friska pelan seakan-akan aku tidak boleh mendengar percakapan mereka.
“Entar deh gue kasih tau, bantuin gue yah!” Masih dengan nada pelannya Ririn mencoba merayu.
“Gue cuma ada 100, ini juga lagi nunggu transferan dari bokap. Emang lo gak pegang uang sama sekali?”
__ADS_1
Ririn hanya menggelengkan kepalanya.
“Pake uang aku aja Rin,” ujarku sambil membuka tas untuk mengambil uang di dalamnya.
Ririn dan Friska sempat bengong, karena aku bisa tau apa yang sedang mereka bicarakan. Namun melihat aku yang sedang mengorek-ngorek isi tas Ririn pun angkat suara.
“Gak usah Nin, gak usah," kata Ririn merasa malu.
Namun aku hanya tersenyum sambil menghampiri Ririn dan Friska lalu aku menyodorkan uang kepada Ririn.
“Kalau aku ini kamu anggap sahabat, tolong jangan ditolak ya, Rin!"
Ririn malah melirik ke arah Friska, pertanda Ririn minta pendapat apa yang harus ia lakukan. Namun Friska hanya menggerakkan bahunya ke atas, yang artinya terserah. Sementara aku, aku masih berharap uang ini Ririn ambil. Setelah cukup lama berfikir, Ririn memutuskan untuk mengambil uang yang aku pegang. Aku pun tersenyum.
“Rin, Ririn!” Panggil Friska namun Ririn sudah terlanjur pergi. “Tuh anak mau ngapain sih?”
Tidak lama setelah Ririn pergi, Citra masuk sambil membawa sebuah gitar berwarna putih dan langsung menghampiri kemudian duduk di dekatku.
“Haduh, sorry ya Nin nunggu lama. Yang pasang senarnya aga lelet, ya udah kita langsung aja ya.” Citra pun duduk berhadap-hadapan denganku.
Citra yang mau mengajariku bermain gitar, langsung memetik senar gitarnya. Namun baru saja sekali ayunan, Citra mendadak berhenti.
“Ehh tunggu, ko gue gak liat Ririn?" tanya Citra.
__ADS_1
“Tadi dateng-dateng dia minjem duit, udah gitu dia langsung pergi lagi. Tau deh kemana,” jawab Friska.
“Minjem duit...?" tanya Citra heran.
Friska menganggukkan kepala.
“Terus lo pinjemin?”
Kali ini Friska menggelengkan kepala.
“Enggak, lagian uang bulanan gue udah tipis. Jadi gue gak bisa pinjemin si Ririn. Tuh si Hanin yang pinjemin.”
“Hah? Ririn pinjem uang ke Hanin.” Citra cukup tidak percaya.
“Enggak, itu aku yang ngasih Cit.”
“Harusnya Lo gak kasih Nin, dia pasti...” Citra mendadak diam dan tidak melanjutkan perkataannya.
“Apa, Cit?” tanyaku penasaran.
“Emm... ya udah lupain. Mendingan kita belajar gitar aja, bukannya lo pengen bisa main gitar, kan?"
Aku mengangguk meski sebenarnya aku masih penasaran dengan ucapan Citra yang belum tuntas tadi. Citra pun mulai memetik senar gitarnya dan kedua mataku fokus memperhatikan. Sementara Friska, ia kembali menonton TV.
__ADS_1
***