Sunshine

Sunshine
Bab 8 - part 2


__ADS_3

POV 3


"Cit... akhirnya dia mau nerima cinta aku,” ujar Hanin sambil memeluk Citra penuh kebahagiaan.


Pagi itu. Hanin, Citra, Ririn dan Friska sedang berada di koridor kampus. Mereka baru saja mendengarkan curhatan Hanin tentang peristiwa penting untuknya, yang terjadi malam tadi. Saat Hanin menyatakan cinta pada laki-laki pujaan hatinya di sebuah caffe, dan dia menerimanya.


“Bener kan kata gue juga, cinta lo gak mungkin bertepuk sebelah tangan, Nin...,” kata Citra sambil tersenyum.


Karena Citra sudah lebih dulu tau, kalau laki-laki yang Hanin suka adalah Deva. Dan Citra juga yang meminta Deva untuk menerima cinta Hanin malam itu. Citra ikut bahagia melihat sahabatnya itu bahagia.


“Cieee... yang baru jadian. Ditunggu traktirannya, yah...," ujar Ririn dan Friska kompakan.


Hanin tersenyum bahagia karena ketiga temannya ikut bahagia mendengar Hanin telah resmi jadian dengan sang pujaan hati.


“Cepet kenalin ke kita ya, Nin. Kita kan penasaran cowo kaya apa sih yang udah buat lo kesemsem gini?”


Pandangan Hanin tiba-tiba teralih setelah tidak sengaja melihat Deva lewat dan langsung menyita pandangannya.

__ADS_1


“Iya pasti aku kenalin. Emmm... aku tinggal dulu ya. Ada urusan dulu sama pangeran aku, dahhh...,” ujar Hanin sambil beranjak pergi menyusul ke arah Deva berjalan.


“Tunggu deh..., ko gue ngerasa ada yang aneh. Pangeran Hanin? Maksudnya cowo itu pangeran Hanin? Tapi kan itu Deva?” kata-kata yang keluar dari mulut Friska saat melihat Deva yang kini sudah berjalan didampingi Hanin.


Ririn dan Friska malah memandangi Citra sinis. Apalagi melihat Citra dan Deva saling menatap aneh, saat sempat bertatap muka dari kejauhan sebelum Deva pergi bersama Hanin tadi. Friska dan Ririn merasa ada yang beda, ini terlihat aneh dari biasanya.


“Jangan bilang kalau pangeran yang Hanin maksud itu Deva, Cit?” tanya Ririn.


Citra cukup bingung untuk menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya itu. Tapi Citra juga tidak mungkin menyembunyikan semua ini dari Friska dan Ririn. Bagaimanapun mereka sahabat Citra, jadi Citra rasa Friska dan Ririn memang harus tau apa yang sebenernya terjadi. Citra berusaha mengumpulkan keberaniannya dan kemudian menganggukkan kepalanya sebagai tanda apa yang mereka maksud itu benar.


“Gue mohon sama kalian... tolong rahasiain ini semua! Jangan sampe Hanin tau tentang Deva.”


“Sumpah ya, Cit... gue masih gak ngerti apa yang ada di pikiran lo? Lo sama Deva tuh udah lama pacaran, dan sekarang lo malah.... Emch ahhhh.” Friska jadi merasa kesal sendiri.


“Gak seharusnya lo lakuin ini, Cit... Hanin cuma sahabat baru buat kita. Jadi lo gak perlu ngelakuin ini buat dia. Gue...”


“Udah guys... hargai keputusan gue. Dan kalaupun seandainya semua itu terjadi sama kalian, gue pasti ngelakuin hal yang sama. Gue cuma gak mau temen gue kecewa, itu aja ko. Dan kalian juga tau kan, Hanin baru pertama kali ngerasain jatuh cinta, dan gue gak mau dia ngerasain sakit hati sebelum dia ngerasain apa itu cinta yang sebenarnya. Gue harap kalian ngerti kenapa gue ngelakuin ini,” ujar Citra sambil pergi meninggalkan Ririn dan Friska yang masih terlihat tidak terima dengan keputusan yang Citra ambil.

__ADS_1


Ririn dan Friska malah jadi pandang-pandangan tidak jelas, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menyusul Citra.


Mungkin selama ini Hanin sama sekali tidak pernah tau, kalau Deva itu adalah pacar Citra. Setelah kini menjadi pacar Hanin... Citra, Ririn dan Friska memang begitu pintar menyembunyikan semua kebenaran yang terjadi, begitupula dengan Deva. Yang mencoba mengikuti skenario yang Citra inginkan. Itu sengaja mereka lakukan, karena tak ingin membuat Hanin kecewa dan patah hati bila mengetahui yang sebenarnya.


Meski Citra yang harus rela mengorbankan pasangannya, sakit hati dan rasa cemburu sudah jelas terlihat. Namun Friska dan Ririn sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa dalam masalah ini.


***


Di suatu malam, saat Deva mengantarkan Hanin pulang ke Apartemen Citra. Di lobi Citra tidak sengaja berpapasan dengan Deva. Citra terlihat membuang muka. Tapi Deva tidak tinggal diam, Deva menarik tangan Citra dan tiba-tiba Deva memeluknya. Namun Citra nampak tidak merasa nyaman, sehingga dia melepaskan pelukan Deva.


“Jangan kaya gini, Dev!"


“Tapi aku kangen banget sama kamu, Cit... akhir-akhir ini kamu menghindar terus dari aku.”


“Semua ini demi kebaikan kita.”


“Sampai kapan, Cit? Sampai kapan aku harus siksa perasaan kamu kaya gini? Sampe kapan, Cit? tolong akhiri semua ini! Aku pengen kita kaya dulu lagi,” ujar Deva sambil menggenggam tangan Citra. Kemudian mencium kening Citra lalu memeluknya.

__ADS_1


Kali ini Citra diam, nampaknya Citra tidak bisa menyembunyikan lagi perasaan yang sebenarnya ada di hati Citra saat ini. Bahwa Citra juga merindukan Deva. Suasana lobi Apartemen yang sepi membuat mereka terhanyut dalam kerinduan.


***


__ADS_2