
Saat malam tiba, aku terbangun dari tidurku, karena aku mendengar Ka Sandra yang ternyata masih setia menemaniku tiba-tiba menangis. Aku pun bangkit dari posisi tidurku, dan aku memandang wajah Ka Sandra sambil bertanya.
“Heyy... Kakak kenapa? ko nangis?” tanyaku heran.
Tapi Ka Sandra hanya diam, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.
“Kakak pasti cape ya karena harus ngejagain aku terus kaya gini?”
Lagi-lagi Ka Sandra bungkam, dia menjawab pertanyaanku hanya dengan menggelengkan kepalanya saja. Aku semakin bingung mencari sebab, kenapa Ka Sandra bersedih.
“Ka, Kakak kenapa? Ka Sandra, jawab! Jangan buat aku bingung kaya gini dong, Ka.”
Ka Sandra sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaanku.
Saat tangan Ka Sandra menghapus air mata di pipinya, aku meilhat pergelangan tangan Ka Sandra merah. Mungkin lebam itu ada saat aku memegang erat tangan Ka Sandra tadi siang.
“Ya Allah, Ka... tangan Kakak pasti sakit, ya?” ujarku sambil meraih tangan Ka Sandra yang lebam. “Maafin aku ya, Ka!" ujarku merasa bersalah.
Namun Ka Sandra malah menggelengkan kepala, lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju sebuah laci yang berada tidak jauh dari tempat tidurku. Ka Sandra mengambil sesuatu kemudian kembali menghampiriku. Ka Sandra menyodorkan barang kepadaku yang ternyata sebuah gunting. Aku hanya diam, aku sama sekali tidak mengerti maksud dari Ka Sandra memberikan gunting ini kepadaku.
“Gunting? ... buat apa, Ka?”
Ka Sandra menghapus air matanya dan mencoba menenangkan diri. Aku berharap kali ini Ka Sandra mau menjawab pertanyaanku yang samakin bingung dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan Ka Sandra.
“Kakak emang gak bisa ngerasain sakit yang kamu rasain, De. Bahkan sakit di tangan ini pun tak sebanding dengan rasa sakit yang selalu kamu rasakan saat penyakit itu menyerang.Tapi Kakak gak mau kamu ngejalanin ini sendiri. Kakak sayang sama kamu, De. Kakak pengen kita ngejalanin ini sama-sama.
__ADS_1
"Kamu bisa pake gunting itu buat mangkas rambut, Kakak. Setidaknya Kakak bisa ngerasain hal yang sama kaya kamu, De. Ayo! potong rambut Kakak sampe abis! Ayoo, De!” ujar Ka Sandra memaksaku diiringi air mata yang kembali terjatuh membasahi pipinya.
Mendengar itu aku pun tidak bisa menahan air mataku untuk tidak menetes.
“Enggak Ka, Kakak gak perlu lakuin itu!” bantahku sambil meletakkan gunting yang saat ini aku pegang di atas tempat tidur. “Aku tau Kakak sayang sama aku, Kakak gak tega kan ngeliat aku kaya gini? Tapi kalau Kakak samaan kaya aku, nanti rambut siapa yang akan Bunda belai, Ka?” kataku yang malah semakin membuat Ka Sandra sedih, tapi aku mencoba untuk tegar di hadapan Ka Sandra.
“Kakak harus tetap jadi anak tercantiknya Bunda, biar aku aja yang kaya gini Ka. Kakak harus sehat! Kakak harus selalu temenin Bunda. Ya, Ka! Kakak gak boleh kaya aku! Gak boleh, Ka...!”
Ka Sandra langsung memelukku begitu erat, tangisku pun pecah. Aku hargai niat baik Ka Sandra kepadaku. Namun aku sama sekali tidak ingin berbagi penderitaanku kepada siapa pun, apalagi kepada Ka Sandra.
***
Tiba-tiba aku kembali terbangun dari tidurku, suasana cukup hening. Pastinya aku tidak tau pukul berapa saat itu, yang jelas kedua mata ini langsung berarah ke samping kanan, di mana aku melihat Ka Sandra sedang tertidur cukup pulas di sofa.
Perlahan aku angkat tubuh ini, untuk mendapatkan posisi duduk. Lalu, ku buka selimut yang menyelimuti setengah bagian badanku. Aku bermaksud ingin memberikan selimut itu untuk Ka Sandra, karena Ka Sandra pasti kedinginan tidur di sofa.
"De, kenapa?" tanya Ka Sandra sekaligus membuyarkan pikiranku.
Aku sama sekali tidak menyadari kehadiran Ka Sandra yang saat ini ada di sampingku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Ka Sandra, lalu aku menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Namun Ka Sandra malah melemparkan senyumnya kepadaku setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Udah gak apa-apa, nanti Kakak ganti. Sekarang kita ke kamar mandi dulu, ya!" ajak Ka Sandra begitu lembut.
"Maafin aku, Ka..." rengekku.
Tapi Ka Sandra tetap saja tersenyum. Perlahan Ka Sandra meraih tanganku dan membantuku beranjak dari tempat tidur lalu memapahku berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, setelah selesai membersihkan badan dan mengganti pakaianku. Ka Sandra menyuruhku duduk di sofa, sementara dia sedang sibuk mengganti sprai tempat tidurku. Sedih rasanya, melihat Ka Sandra seperti ini. Aku sudah terlalu sering merepotkannya, aku bahkan sudah mengganggu waktu istirahatnya. Seketika air mataku menetes, untuk mewakili rasa bersalahku kepada Ka Sandra.
Perlahan aku beranjak dari dudukku, maksudku ingin membantu Ka Sandra. Tapi entah kenapa tubuh ini terasa berat. Setelah cukup susah payah hanya untuk beranjak dan berdiri, aku mencoba melangkahkan kaki, namun entah kenapa kaki ini pun terasa berat. Hingga akhirnya Ka Sandra menoleh ke arahku saat ia baru saja selesai membereskan tempat tidurku.
"Ayo, De! Sekarang kamu bisa istirahat lagi," kata Ka Sandra.
Kali ini aku melempar senyum di balik usahaku melangkah kaki yang merupakan hal mudah, namun mendadak sukar untukku lakukan. Sampai akhirnya Ka Sandra berinisiatif mengampiriku, lalu memapahku. Jarak sofa ke tempat tidur yang hanya beberapa langkah saja, terasa sangat jauh saat itu. Namun Ka Sandra masih tetap setia mendampingiku. Hingga akhirnya aku sampai juga di tempat tidur.
"Makasih Ka," kataku saat sudah dalam posisi nyaman di atas tempat tidur yang kini sudah rapi kembali berkat Ka Sandra.
"Iya, De. Sekarang kamu tidur lagi, ya! masih jam 2 pagi, loh!" kata Ka Sandra sambil tersenyum.
Aku berusaha membalas senyuman Ka Sandra. Tapi entah kenapa aku malah ingin menangis. Dan sampai saat Ka Sandra akan beranjak pergi, aku langsung beranjak dari posisi tidurku dan langsung meraih tubuh Ka Sandra lalu ku peluk erat. Tangisku pecah mengiringi suasana hening pagi itu. Mungkin Ka Sandra tidak tau pasti apa penyebab kesedihanku, tapi seolah tau Ka Sandra mencoba menenangkanku dengan mengelus punggungku dengan penuh kasih.
Tangisku semakin keras terdengar, seolah-olah mewakili semua yang tidak bisa aku ungkapkan. Bohong kalau aku tak sedih, bohong kalau aku tidak takut. Aku sedih karna perlahan kondisiku mulai memburuk, dan aku takut kalau penyakit ini semakin parah lalu aku akan menyusahkan Bunda, kakakku dan semua orang disekelilingku.
Ka Sandra tidak mengatakan apapun kepadaku, sepertinya Ka Sandra memang sengaja membiarkan aku meluapkan semua yang aku rasakan lewat tangisku. Hingga akhirnya Bunda dan Ka Hans masuk ke dalam kamarku. Mungkin tangisku yang cukup keras berhasil mengusik waktu istirahat mereka.
Bunda langsung mengampiriku yang perlahan melepaskan pelukan Ka Sandra saat menyadari kedatangan Bunda.
"Bunda..." rengekku sambil meraih tubuh Bunda dan ku peluk erat.
"Sayang," respon Bunda sambil mendekapku dan mengelus kepalaku dengan lembut.
Dan mulai saat itu aku kembali meluapkan tangisku di dalam pelukan Bunda. Sementara Ka Hans dan Ka Sandra hanya menyaksikkan dengan perasaan yang tidak menentu. Sampai akhirnya tubuhku merasa lemas dan Bunda membaringkan tubuhku. Setelah Ka Hans memasang infus di tangangku, Ka Hans dan Ka Sandra keluar dari kamarku. Karena Bunda yang akan menemaniku tidur kali ini, tepat di sampingku.
__ADS_1
***