
Sore harinya, suasana rumah terlihat gaduh. Bunda dan Ka Sandra terlihat sedang beradu mulut. Aku yang baru masuk rumah pun menghentikan langkahku saat melihat Bunda dan Ka Sandra berdebat.
“Kenapa sih Bunda selalu marah sama aku?”
“Karena kamu gak peduli sama adik kamu! Jam segini dia belum pulang, Sandra! Bukannya khawatir atau apa, tapi kamu malah diem. Gak ada niat sama sekali buat bantuin Bunda nyari. Bunda tuh udah pusing setengah mati nyari Hanin. Bunda takut dia kenapa-napa.”
“Kenapa Bunda bisa sekhawatir ini sama dia? Coba kalau aku yang pulang telat. Bunda gak akan kaya gini.”
“Kenapa sikap kamu jadi berubah seperti ini sih sama Hanin? Bunda bener-bener gak ngerti. Bukannya dulu kamu itu pengen banget punya adik cewe. Tapi kok sekarang malah kaya gini sih?”
“Iya Bun, aku emang pengen banget punya adik cewe. Tapi gak yang penyakitan kaya dia.”
Dengan spontan Bunda mengayunkan tangannya ke arah wajah Ka Sandra, namun saat akan mendekati pipi ka Sandra, tanganku berusaha meraih dan menahan lengan Bunda.
“Jangan, Bun!” pintaku.
“Sayang.” Bunda terdiam dan kembali menurunkan lengannya.
“Tampar aja, Bun! tampar!" tekan Sandra. "Dan lo, “ tegas Ka Sandra kepadaku. “Gue gak perlu belas kasih dari lo. Ngerti!” Dengan nada menekan dan tatapan yang tajam saat menatap wajahku kemudian langsung pergi meninggalkan Bunda dan aku.
__ADS_1
“Kamu dari mana aja, Sayang? Bunda cemas mikirin kamu.”
“Hanin habis dari taman kota aja kok, Bun.”
“Lain kali kamu kabarin Bunda kalau mau kemana-mana. Bunda kan bisa nemenin kamu.”
“Iya Bun, Hanin minta maaf. Hanin ke kamar dulu ya, Bun.” Aku langsung berlalu pergi meniggalkan Bunda.
“Emch... kenapa semuanya jadi seperti ini?” keluh Bunda.
Aku membuka pintu kamar Ka Sandra, aku melihat Ka Sandra sedang menangis di atas tempat tidurnya sambil telungkup dan memeluk boneka hellokitty kesayangannya. Saat Ka Sandra menyadari aku masuk dan mendekatinya, Ka Sandra langsung beranjak dari posisinya dan langsung terduduk sambil menegurku dengan nada cukup membentak.
“Aku minta maaf, Ka. Gara-gara aku Kakak jadi sering di marahin sama Bunda."
“Udah, gak usah so peduli sama gue. Lagian gue emang gak pernah ada nilainya kok di mata Bunda dibanding lo. Lo itu selalu menjadi yang terpenting buat Bunda.”
“Maafin aku, Ka.... Kalau aku jadi sering nyusahin Bunda sama Kakak.”
“Iya! lo itu emang nyusahin, hidup lo itu nyusahin banget. Kenapa lo gak mati aja sekalian. Mungkin itu lebih baik.”
__ADS_1
Aku mendadak tertegun mendengar perkataan Ka Sandra. Hatiku terasa sakit bagaikan tertusuk duri, dan tanpa terasa air mata ini menetes.
Ka Sandra pun mendadak terdiam, nampaknya ada penyesalan di hati Ka Sandra setelah mengatakan kata-kata itu padaku. "Emm... maksud gue.” Ka Sandra speacles.
Aku mecoba tersenyum sambil menatap Ka Sandra.
“Kakak tenang aja, cepat atau lambat penyakit ini akan membawa aku pada kematian kok. Dan aku gak akan nyusahin semua orang lagi, termasuk Kakak.” Aku mencoba tersenyum namun air mataku terus menetes. Aku bergegas pergi meninggalkan kamar Ka Sandra, aku tidak mau Ka Sandra tahu kalau hati aku bener-bener sakit oleh ucapannya.
“Hanin... Nin!" panggil Ka Sandra kepadaku yang sudah pergi meninggalkan kamarnya.
Brakkkk...
Pintu kamar terbuka. Aku masuk dan berlari menuju sebuah sofa yang ada di kamar, aku langsung duduk di atasnya, sambil mendekap lututku dan menangis.
“Kenapa ini harus jadi takdirku, Tuhan? kenapa? Bener apa yang dibilang ka Sandra, hidup aku itu emang selalu nyusahin orang-orang di sekelilingku. Aku nyusahin Bunda, ka Hans, ka Sandra, tante Dewi. Hidupku bergantung sama mereka, hidupku bergantung sama obat-obatan, hidup aku juga tergantung sama alat-alat medis. Kenapa tak kau akhiri saja Tuhan? akhiri saja hidupku ini,” kataku yang merasa putus asa dengan jalan hidup dan kondisi tubuhku.
“Kalau bukan karena Bunda, aku udah gak sanggup lagi hidup seperti ini. Aku cape.” Tangisku pun pecah.
***
__ADS_1