
POV 3
Keesokan harinya. Hanin, Bunda, dan Ka Hans sedang berada di ruang makan untuk sarapan bersama. Nampaknya ada yang ingin Bunda sampaikan kepada Hanin saat itu.
“Sayang... hari ini Bunda mau pergi, ada urusan yang harus Bunda selesaikan. Jadi, biar Ka Hans aja ya yang anter kamu daftarnya.”
Hanin yang saat itu sedang makan mendadak berhenti dan langsung diam membisu setelah mendengar perkataan Bunda barusan. Sepertinya Hanin takut telinganya salah mendengar. Hatinya seperti antara percaya tak percaya bila Bunda benar-benar mengatakan itu, yang artinya Bunda memberikan Hanin izin untuk permintaannya melanjutkan sekolah.
“Gak apa-apa kan, Sayang?”
“Bun, Bunda serius? Bunda bener-bener ngizinin Hanin?" Tanya Hanin masih tidak percaya.
Bunda hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Tidak dapat membendung kebahagiaan yang ada di hati, Hanin beranjak dari duduknya dan langsung memeluk Bunda. Serasa mimpi mendengar kenyataan ini. Hal yang menurut Hanin tidak mungkin, namun menjadi mungkin. Kebahagiaan benar-benar terlihat menghiasi wajahnya saat ini. “Makasih ya, Bun.”
“Tapi kamu harus janji sama Bunda, jaga kesehatan kamu!"
“Siap, Bun!” kata Hanin sambil tersenyum ke arah Ka Hans, karena Hanin yakin semua ini berkat Ka Hans.
Ka Hans pun membalas senyuman Hanin. Dan mereka kembali melanjutkan sarapan yang sempat tertunda.
Sebuah langkah terdengar semakin mendekat menuju meja makan. Dengan stylenya yang pashioneblle dan wajah yang begitu cantik. Ka Sandra menghampiri Bunda dan mencium kening Bunda.
“Pagi, Bunda....” Ka Sandra terlihat begitu sumringah saat menyapa Bunda.
“Pagi, Sayang," jawab Bunda.
Ka Sandra langsung meneruskan langkahnya dan kemudian duduk di samping Ka Hans. Lalu mengambil sehelai roti dan meletakkannya di atas piring. Kemudian dilanjutkan mengambil selai coklat.
“Bun, hari ini Sandra pinjem mobil Bunda, yah. Soalnya mobil Sandra lagi di bengkel.”
“Hari ini Bunda ada urusan, Sayang. Jadi mobilnya Bunda pake.”
“Ya udah yang satu lagi aja, Bun. Boleh, yah?”
“Yang satu lagi mau dipake sama Hanin.”
__ADS_1
Mimik muka Ka Sandra langsung berubah, Ka Sandra yang tadinya mau menyantap roti mendadak tidak jadi. Ka Sandra malah memandang wajah Hanin dengan tatapan yang cukup aneh.
“Hahhh... Hanin. Anak penyakitan ini mau kemana? bukannya gak boleh keluar rumah, Bun?”
Pandangan Bunda dan Ka Hans beralih menatap ke arah Hanin, karena usai mendengar kata-kata dari Ka Sandra, Hanin mendadak berhenti makan dan malah jadi diam.
Mereka pasti mengerti perasaan Hanin seperti apa setelah mendengar ucapan Ka Sandra.
“Nanti kalau kenapa-kenapa malah bikin repot,” lanjut Ka Sandra.
“Tolong jaga ucapan kamu, Sandra!” ujar Ka Hans sedikit membentak Ka Sandra.
“Tapi emang bener kan, Ka?" bantah Ka Sandra sambil meletakkan rotinya di atas piring. “Udah deh, jangan mentang-mentang dia penyakitan semua jadi belain dia. Sampe-sampe orang di rumah ini lupa, kalau aku juga salah satu anggota di rumah ini.” Tanpa pamit Ka Sandra langsung meninggalkan meja makan dengan amarah yang berkecamuk dalam hatinya.
“Jangan dimasukin hati kata-kata ka Sandra tadi ya, Sayang!” ujar Bunda kepada Hanin.
“Iya, gak apa-apa kok, Bun.” Hanin masih berusaha tersenyum, mencoba menyembunyikan hati yang sebenarnya sakit oleh ucapan Ka Sandra tadi.
***
Pemandangan jalanan komplek yang sangat beda di depan matanya, maklum saja sudah hampir tiga tahun Hanin sama sekali tidak keluar rumah. Saking overprotektifnya Bunda, rumah sakit aja sampai dipindahin ke rumah, dan untuk sekolah pun selama ini Hanin hanya menjalani Homeschooling.
***
Sore harinya, Hanin melangkahkan kaki menuju suara gaduh yang berasal dari halaman belakang rumah. Terdengar suara beberapa anak gadis yang sedang asik ngobrol sambil ketawa-ketawa.
Dari kejauhan Hanin memandang ke arah Ka Sandra yang sedang bersama teman-temannya, ngumpul, ngobrol sambil ngemil. Di sela-sela asiknya mereka bercerita, tiba-tiba salah satu dari teman Ka Sandra melihat ke arah Hanin lalu melemparkan senyuman untuknya. Hanin pun yang menyadari itu langsung membalasnya, kemudian dia melambaikan tangannya tanda mengajak Hanin untuk bergabung, tapi Hanin malah menggelengkan kepala.
Teman Ka Sandra itu pun hanya mengerutkan alisnya.
“San, kasian tuh adik lo. Ajakin gabung aja sini!" usul teman Ka Sandra yang menyapa Hanin tadi.
“Alah gak usah, udah biarin aja dia di sana.”
“Kok lo gitu sih San sama adik lo,” sambung salah satu dari teman Ka Sandra.
“Kalian sih gak tau, tuh anak gak boleh kecapean. Kalau gue ajak main terus kenapa-kenapa, entar gue yang kena sama nyokap. Dia kan anak emasnya nyokap gue,” kata Ka Sandra sinis sambil melihat ke arah Hanin.
__ADS_1
Jarak Hanin yang tidak terlalu jauh, membuatnya mendengar perkataan Ka Sandra yang seperti sengaja dikatakan supaya Hanin mendengarnya. Tidak menunggu lama, Hanin lngsung pergi meninggalkan tempat itu.
“Kasian tau San,” kata teman Ka Sandra yang lain.
Ka Sandra hanya diam dan kembali melanjutkan obrolan bersama teman-temannya.
***
Malam harinya, tepat pukul 19:00. Hanin dan Bunda sedang berada di ruang keluarga. Mereka sedang menonton televisi bersama, saat itu Bunda sedang mengelus-elus rambut Hanin, yang saat itu tengah tiduran di pangkuannya.
“Bun... ka Sandra itu hebat ya, Bun. Selain cantik, ka Sandra pinter, jago main gitar pula. Hemm, Hanin pengen deh kaya ka Sandra," kata Hanin.
“Hanin, apa kamu sayang sama ka Sandra?" pertanyaan yang tiba-tiba Bunda layangkan.
Namun Hanin malah tersenyum mendengar Bunda bertanya seperti itu kepadanya.
“Kok Bunda nanyanya gitu sih. Aku pasti sayang lah Bun sama ka Sandra.”
“Tapi sikap ka Sandra ke kamu itu...”
Bunda tidak melanjutkan perkataannya, namun Hanin cukup mengerti maksud dari perkataan Bunda itu.
“Bun, Hanin yakin kok kalau ka Sandra juga pasti sayang sama Hanin. Ka Sandra seperti itu karena pasti ada sebabnya. Mungkin ka Sandra iri karena Bunda terlalu perhatian sama Hanin.”
Hanin bangun dari posisi tidurnya, dan duduk berhadapan dengan Bunda.
“Bun, Hanin mohon... tolong bersikap adil! Ka Sandra juga butuh kasih sayang yang sama dari Bunda.”
Bunda meraih keduan tangan Hanin. Lalu kedua bola matanya menatap lembut ke arah Hanin sambil mengelus tangannya.
“Kamu kira Bunda gak sayang sama ka Sandra? Bunda juga sayang sama kedua kakak kamu kok, tapi untuk sekarang kamu lebih membutuhkan perhatian ekstra dari Bunda.”
Suasana sempat hening untuk beberapa saat.
“Tapi, Bun... tolong jangan selalu memperlakukan Hanin seperti anak kecil. Apa Bunda lupa, Hanin udah 18 tahun, Bun. Hanin tau apa yang harus Hanin lakukan dengan kondisi Hanin yang seperti ini. Jadi Hanin mohon sama Bunda, mulai sekarang tolong perlakuin Hanin sama kaya perlakuan Bunda ke ka Sandra dan ka Hans! Hanin juga pengen bisa hidup normal, Bun. Karena Hanin yakin Hanin gak selemah yang Bunda bayangkan. Hanin pasti bisa,” ujar Hanin sambil tersenyum.
Bunda terharu, ia langsung memeluk anak bungsunya itu sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
***