
POV 3
Lagi-lagi Hanin harus terbaring koma di tempat tidur, dengan berbagai alat medis yang menghiasi tubuhnya. Dua puluh empat jam sudah berlalu, namun kondisi Hanin sampai saat ini belum menunjukan perubahan. Malah detak jantung Hanin pun semakin melemah.
Kali ini di kamar Hanin begitu ramai, ada Bunda, ka Hans, ka Sandra, tante dewi, Citra, ka Deva, Friska dan Ririn. Mereka sangat menunggu saat Hanin membuka mata kembali. Namun sayang, semua malah kebalikannya. Tiba-tiba saja nafas Hanin tidak stabil, irama jantung yang tertera di layar monitor pun angkanya semakin menurun.
Tante Dewi baru saja selasai memeriksa kondisi Hanin, namun mimik wajah yang Tante Dewi perlihatkan begitu tidak enak.
“Gimana Hanin, Tan?” tanya Hans dengan nada yang cukup pelan.
Tante Dewi diam, seakan-akan berat untuk berkata. Ia malah menggelengkan kepala dan mencoba menenangkan Hans. Semua upaya sudah dilakukan, namun kali ini secara medis sudah tidak ada lagi harapan untuk Hanin.
“Ikhlasin Hanin, Hans...” ujar Tante Dewi berhenti, seakan-akan tak bisa lagi melanjutkan perkataannya.
Mendengar itu Hans langsung meneteskan air mata. Hans mencoba menguatkan hatinya yang mendadak rapuh setelah mendengar kondisi terakhir Hanin, yang sudah tidak ada harapan lagi.
Hans pun berjalan menuju tempat tidur Hanin, dan diam tepat di kepala bagian kiri Hanin. Sambil tersenyum Hans memandang wajah Hanin.
__ADS_1
Sementara Bunda yang sedari tadi menangis, masih setia di samping Hanin sambil memegang tangan sebelah kanannya. Dan di sebelah kiri ada Sandra yang berdiri dengan pandangan yang tak lepas memandang Hanin.
“De... hari ini kamu cantik banget, Sayang. Kakak bangga punya adik yang tangguh dan hebat kaya kamu. Kamu udah bisa berjuang melawan penyakit kamu sampe sejauh ini. Tapi kalau sekarang kamu cape, kamu boleh berhenti. Kalau mau pergi, pergi aja! Kakak ikhlas, De. Kakak ikhlas, ikhlas Sayang.”
Mendengar Hans berkata seperti itu, semua mata tertuju pada Hanin. Ketiga sahabatnya dan Deva yang tadinya berada cukup jauh dari tempat tidur Hanin pun langsung mendekat ke tempat tidur Hanin.
Sementara Bunda terlihat begitu marah atas ucapan Hans barusan.
“Maksud kamu apa, Hans? Bunda gak suka kamu bicara seperti itu! Hanin pasti sembuh! Hanin gak akan ninggalin kita!”
Hans tidak berkata apa-apa. Namun Sandra mengerti akan maksud Hans. Dengan memegang tangan kiri Hanin yang mulai terasa dingin Sandra berkata.
Bunda semakin tidak mengerti dengan ucapan Hans dan Sandra.
“Kalian gak boleh ngomong kaya gitu!” bentak Bunda.
Dengan air mata yang terus menetes Bunda membelai kepala Hanin, menciumi tangan Hanin, dan menatap wajah Hanin dengan penuh kasih sayang sambil terus meyakinkan dirinya, bahwa anak kesayangannya ini pasti akan sembuh.
__ADS_1
“Kamu gak akan kemana-mana kan, Sayang? kamu gak akan pernah tinggalin Bunda, iya kan Sayang? Kamu harus bangun, buktiin ke mereka kalau kamu kuat, Sayang. Ayo bangun! Bunda mohon bangun, Sayang! Bangun... ” ujar Bunda sambil menggoyang-goyangkan badan Hanin berharap Hanin akan bangun. Namun kenyataannya Hanin sama sekali tidak bisa meresponnya.
“Bun... ikhlas, Bun. Ikhlas...” pinta Hans.
Karena Hans merasa kini Hanin hanya menunggu orang-orang yang ia sayangi untuk bisa mengikhlaskan kepergiannya.
Semua menangis sambil melihat ke arah Hanin, begitu pula dengan Bunda yang masih optimis bahwa Hanin masih ada harapan untuk sembuh.
Tiba-tiba nafas Hanin semakin pendek, denyut jantung pun semakin melemah. Suasana semakin genting, raut-raut muka cemas, perasaaan khawatir dan ketakutan bercampur aduk di hati mereka. Kesedihan pun sudah jelas terlihat dari wajah orang-orang yang begitu menyayangi Hanin, dengan kondisi Hanin yang semakin lama semakin memburuk ini. Sementara Tante Dewi berusaha menenangkan Bunda.
Setelah sedikit tenang, dengan tatapan penuh kasih sayang Bunda memandang wajah putri kesayangannya yang sudah terlihat semakin pucat, sesekali membelai wajah Hanin. Tiba-tiba kelopak mata Hanin mengeluarkan air mata, Bunda pun mencoba menghapusnya. Sambil tersenyum kecil, Bunda mencium tangan Hanin.
“Hanin... kesayangan Bunda. Maafin sikap Bunda selama ini. Bunda sayang sama kamu. Tapi kalau Allah lebih sayang sama kamu, Bunda ikhlas, Sayang. Bunda ikhlas, Nak.”
Setelah Bunda selesai mengucapkan itu, perlahan-lahan nafas Hanin menghilang, denyut jantung pun semakin melemah. Tante Dewi langsung mengecek kondisi Hanin . Perlahan-lahan irama bergelombang di monitor pun semakin jarang. Hans membisikan kalimat sahadat di telinga Hanin berulang-ulang. Sementara Bunda terus menciumi tangan Hanin sesekali menempalkan di pipinya sambil terus menangis. Gelombang di monitor EKG pun berubah menjadi horizontal diiringi nada khas monitor, Tttiiiiiiiiiiiiittttttttttt..... dan Hanin pun dinyatakan meninggal dunia.
“Innalillahi wainnailaihira’jiun...” ujar Hans.
__ADS_1
Tangis pun pecah mengiringi kepergian Hanin untuk selama-lamanya. Sandra sampai lemas dan hampir pingsan, Friska dan Ririn membantu dan mencoba menenangkan Sandra meski mereka sendiri pun merasa sedih. Sementara Tante Dewi mencoba menenangkan Bunda yang sangat terpukul. Deva menenangkan Citra yang begitu sedih. Sedangkan Ka Hans berusaha untuk tetap tegar, ia melepas-lepaskan satu demi satu alat medis yang masih menempel di tubuh Hanin. Sementara Bunda tidur di samping Hanin sambil memeluk dan menciumnya untuk yang terakhir kali.
***