Sunshine

Sunshine
Bab 4 - part 1


__ADS_3

Siang itu cukup cerah, hari ini jam kuliah hanya sedikit. Itu makanya aku bisa pulang lebih awal dari biasanya. Saat aku sedang memasukan buku-buku ke dalam tas, tiba-tiba Citra menyapaku.


“Langsung pulang, Nin?” tanya Citra sambil tersenyum.


Sementara Ririn dan Friska malah mengkerutkan alisnya.


“Iya,” jawabku singkat sambil memberikan senyuman.


“Lo nyapa dia, Cit?” tanya Friska berbisik.


Citra tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan Friska. Citra beranjak dari duduknya dan mendekatiku. Friska dan Ririn semakin tidak mengerti.


“Hari ini kan kita pulang cepet nih, kalau gak keberatan lo mau gak ikut main bareng kita dulu?" ajak Citra,


Ririn dan Friska semakin aneh dengan Citra.


“Kalian serius?"


“Serius lah, iya kan Rin, Fris?"


“Emm... iya, iya," jawab Ririn dan Friska barengan sambil pandang-pandangan tidak mengerti dengan maksud Citra.


“Tuh, kan... gimana?”


“Emmm... iya aku mau,” jawabku sedikit ragu.


“Ya udah kalau gitu, yuk!" Citra pergi.


Ririn dan Friska pun pergi lalu diikuti olehku.


***

__ADS_1


Di perjalanan, tepatnya saat kita berjalan di trotoar jalan menuju halte bus. Aku merasa masih canggung untuk berbaur dengan mereka, mau bertanya tapi aku bingung harus bertanya apa. Mau ikut bercanda, tapi aku malu, aku sadar aku hanya orang baru bagi mereka. Namun sikap Citra, Ririn, dan Friska yang cukup welcome membuatku mulai merasa nyaman ada di antara mereka.


Saat bus tiba, kita langsung naik ke dalam bus. Meski di dalam kita tidak mendapatkan tempat duduk karena bus sudah penuh oleh penumpang, tapi kita terlihat senang. Begitu juga dengan aku yang merupakan pengalaman pertama naik bus merasa begitu menikmati keadaan seperti ini.


Tidak lama kemudian, ternyata Citra dan teman-temannya membawaku main ke Mall, hanya untuk sekedar keliling-keliling tanpa membeli apapun, namun mereka terlihat bahagia begitu pula dengan aku. Aku benar-benar tidak menyangka bisa ada bersama mereka yang selama ini hanya angan-anganku saja. Sama sekali tak pernah ada sedikit pun terlintas di benakku, kalau suatu saat aku bakal jadi salah satu bagian dari pertemanan mereka. Ahhh benar-benar serasa ada di alam mimpi yang indah, dan aku sama sekali tak ingin bangun dari tidurku.


Dan setelah cape keliling-keliling Mall akhirnya kita memutuskan untuk makan bakso, tapi bukan di Mall melainkan di pinggir jalan dekat Mall yang kita datangi. Meski lelah, namun hati ini amat sangat bahagia. Karena sosok teman yang selama ini aku inginkan kehadirannya, kini sudah ada di hadapanku. Aku berharap kebersamaan dengan mereka ini bukan hanya terjadi hari ini saja, tapi besok, lusa dan seterusnya.


***


16:30, di sebuah kamar Apartemen. Pintu terbuka, terlihat Citra masuk diikuti Ririn dan Friska yang langsung berlari menghampiri sebuah sofa panjang yang cukup untuk duduk 2 orang, dan langsung mendaratkan tubuh mereka yang lelah. Sementara aku dan Citra masih berdiri di depan pintu.


“Sorry ya berantakan," ujar Citra kepadaku.


Aku pun tersenyum.


“Yukk...!” Citra mengajakku masuk dan duduk di sofa yang berhadap-hadapan dengan Ririn dan Friska.


“Kalau gue sih semenjak orang tua gue ke luar negeri. Karena gak mau pisah sama mereka berdua." Ririn dan Friska yang Citra maksud. “Gue milih tetep stay di Jakarta dan tinggal di Apartemen milik orang tua gue ini.”


“Kalau gue sih daripada di rumah sendiri mendingan ngikut tinggal sama Citra, jadi gak kesepian," ujar Friska.


“Kalau gue sih udah bosen tinggal sama ortu gue, dimarahin mulu. Jadi mending tinggal aja bareng mereka,” ujar Ririn.


“Kalian kompak dan setiakawan. Udah berapa lama kalian bersahabat?” tanyaku.


“Lebih dari 7 tahun, semenjak kita SMP aja," jawab Ririn.


“Wah... udah lama banget ya. Pantesan kompak.”


Citra, Ririn dan Friska tersenyum kepadaku.

__ADS_1


“Emm... Nin, lo yakin Bunda lo gak akan nyariin? Ini udah lebih dari jam pulang kuliah loh?" tanya Citra.


“Gak apa-apa kok, Cit. Bunda pasti ngerti, kok.” Aku tersenyum.


Kita pun melanjutkan ngobrol-ngobrolnya lagi.


***


Malam hari, tepat pukul 20:00. Langkah Bunda cukup cepat berjalan menuju kamarku. Dimana aku baru saja masuk dan meletakkan tas yang kubawa di atas sofa di kamar. Dengan sedikit nada marah Bunda menegurku yang baru saja tiba di rumah.


“Kamu dari mana aja sih, Hanin? jam segini baru pulang. Kamu gak pikir apa, Bunda khawatir banget sama kamu?" omel Bunda kepadaku sedikit membentak.


Aku benar-benar kaget, sebelumnya Bunda tidak pernah


bersikap seperti ini kepadaku. Tapi kali ini aku benar-benar melihat kemarahan dari wajah Bunda.


“Hanin habis dari rumah temen, Bun...” jawabku pelan sambil menundukkan kepala.


“Bisa gak kalau kamu Bilang, hubungin Bunda dulu atau apa kek! Biar Bunda itu gak kalang kabut nyariin kamu. Apalagi handphone pake dimatiin segala. Bunda kan jadi cemas.”


“Hanin minta maaf, Bun.”


“Pokoknya Bunda gak mau tau, kalau sekali lagi kamu kaya gini. Bunda gak akan ngasih kamu izin lagi. Ingat itu!” ancam Bunda.


“Iya, Bun.”


“Ya udah sekarang kamu istirahat! jangan lupa makan terus minum obat.” Bunda mencium keningku dan langsung pergi meninggalkanku sendirian di kamar.


Kayanya Bunda marah banget sama aku. Maafin Hanin, Bun... karena Hanin udah bikin Bunda cemas, batinku, merasa bersalah.


***

__ADS_1


__ADS_2