Sunshine

Sunshine
Bab 10 - part 1


__ADS_3

Sore itu, dimana menjadi hari ke dua aku terbaring lemah di tempat tidur setelah sempat melakukan satu kali cemotherapy. Efek yang ditimbulkan sangat tidak enak. Aku jadi sering muntah-muntah, dan rambutku pun mulai rontok. Aku sempat merasa sangat down dengan kondisiku sekarang, namun kesetiaan Bunda menemani dan semangat Bunda yang tiada henti membuatku tidak memperdulikan semua itu. Aku hanya tak ingin semakin membuat Bunda khawatir.


Dan sungguh tidak disangka, di hari ini juga ka Sandra kembali pulang ke rumah. Menurut cerita ka Hans, perlahan ka Sandra masuk dan berjalan menghampiri ka Hans yang sedang duduk di ruang depan sambil membaca buku. Ka Hans langsung meletakkan buku yang sedang ia baca setelah menyadari kehadiran ka Sandra di hadapannya.


“Akhirnya kamu pulang juga,” ujar Ka Hans.


Ka Sandra duduk di samping Ka Hans, matanya terlihat berkaca-kaca seakan-akan ada sesuatu yang ingin Ka Sandra ungkapkan kepada Ka Hans.


“Segitu bencinya kamu sama Hanin sampe harus pergi dari rumah ini,” lanjut Ka Hans.


Ka Sandra malah semakin terlihat sedih.


“Enggak, Ka. Aku sayang banget sama Hanin... sayang banget.”


“Terus kenapa sikap kamu selama ini kasar sama Hanin?”


“Aku sengaja bersikap seperti itu, karena aku ingin bisa membenci dia. Aku cuma pengen saat Hanin benar-benar pergi ninggalin kita nanti, aku gak akan terlalu merasa kehilangan, Ka.” Tangis Ka Sandra pecah.


Ka Hans pun memeluknya dan mencoba menangkan Ka Sandra.


“Kita semua sayang sama Hanin, kita semua gak mau kehilangan Hanin,” kata Ka Hans sambil meneteskan air mata. “Maafin kakak karena udah salah menilai kamu. Kita semua sayang sama Hanin, kita cuma pengen yang terbaik untuk dia,” lanjut Ka Hans sambil memeluk Ka Sandra semakin erat.


***


Hari ini keadaan tubuhku sedikit membaik, namun aku masih belum bisa meninggalkan tempat tidur karena tubuhku yang masih lemas.


Saat dalam keadaan sadar tak sadar karena pengaruh obat tidur, aku merasakan ada seseorang yang menggenggam erat tanganku lalu aku mendengar orang itu menangis. Ternyata itu suara ka Sandra.


“De... Kakak pulang. Kakak kangen banget sama kamu. Kamu bangun, ya! Jangan tinggalin Kakak. Kakak janji gak akan bentak-bentak kamu lagi, Kakak janji bakal ajarin kamu dandan sama main gitar, Kakak janji, De. Tapi kamu bangun, ya!” kata Ka Sandra sambil menangis seakan-akan aku akan pergi.


Ka Sandra pasti mengira aku koma atau kritis, padahal aku hanya tertidur sehabis minum obat.


Perlahan kubuka mata, dan aku panggil Ka Sandra. “Ka Sandra,” sapaku sambil tersenyum.


Ka Sandra langsung memelukku erat. Entah apa yang aku rasakan saat ini, yang jelas aku sangat bahagia saat berada di pelukan Ka Sandra.


“Allhamdulilah kamu bangun, De. Kakak kangen banget sama kamu, Sayang.”

__ADS_1


Ka Sandra memandangku dengan air mata yang masih bergelinang di kelopak matanya. Tak tega melihat Ka Sandra bersedih karena aku, aku hapus air mata Ka Sandra dengan tanganku.


“Aku juga kangen banget sama Kakak.”


Aku bahagia banget karena ternyata Ka Sandra sayang sama aku.


Tidak lama kemudian aku duduk berhadap-hadapan dengan Ka Sandra di atas tempat tidurku. Tanpa selang oksigen di hidungku, hanya selang infusan yang masih menempel di tangan kiriku. Ka Sandra baru saja selesai merias wajahku yang pucat menggunakan Make-up miliknya.


“Kamu cantik, De." Ka Sandra memujiku sambil tersenyum tapi kelopak matanya meneteskan air mata.


Namun aku tau, itu semata-mata hanya untuk menghiburku. Muka orang sakit sepertiku, tetap saja akan terlihat pucat meski di poles Make-up mahal sekalipun.


Lalu Ka Sandra langsung mengambil gitar yang sudah ada di dekatnya. Dan saat Ka Sandra akan memetik gitarnya, aku menyuruh Ka Sandra berhenti. Aku memberi isyarat agar Ka Sandra mau memberikan gitarnya itu padaku. Untung saja Ka Sandra mengerti, dan mau memberikan gitarnya padaku.


Dengan tangan kiriku yang masih mengenakan infusan, aku mencoba menekan senar gitar.


“De...” ujar Ka Sandra khawatir.


Aku hanya tersenyum untuk meyakinkan Ka Sandra bahwa aku baik-baik saja. Lalu ku mulai petik senar gitar, dan kunyanyikan sebuah lagu ciptaanku.


Sambil melihat aku bermain gitar dan mendengarkan aku bernyanyi dengan nada lemas, Ka Sandra terlihat menangis.


Namun entah apa yang terjadi, di tengah-tengah aku bermain gitar, tiba-tiba tubuhku kehilangan keseimbangan dan aku terjatuh, untung saja Ka Sandra langsung reflexs menyanggaku sehingga aku tidak jatuh dari atas tempat tidur.


“Astagfirullah, De.” Ka Sandra langsung membaringkanku kemudian memasangkan kembali selang oksigen ke hidungku agar membantu pernafasanku yang mendadak sedikit sesak.


“Aku bisa kan, Ka?” kataku dengan nada lemas sambil tersenyum.


“Kamu hebat De,” ujar Ka Sandra yang lagi-lagi menangis.


“Tapi aku gak sekuat Kakak,” kataku sambil meneteskan air mata.


Kali ini Ka Sandra menangis sambil memegang erat tanganku.


“Kakak yakin kamu kuat, De. Kamu pasti sembuh," kata Ka Sandra sambil mencium keningku.


Saat Ka Sandra mengusap kepalaku, Ka Sandra kaget saat mendapati rambutku rontok menempel di sela-sela jarinya.

__ADS_1


“Astagfirullah...” gerak bibir Ka Sandra tanpa suara.


Ka Sandra kembali menangis sambil memandangku aneh, namun aku berusaha melempar senyuman untuk meyakinkan Ka Sandra bahwa aku baik-baik saja. Ka Sandra kembali mencium keningku dengan air mata yang terus menetes.


Seketika saja aku melupakan sakitku, rasanya malah berubah jadi bahagia. Ka Sandra yang selama ini jutek, Ka Sandra yang kasar ternyata begitu mengkhawatirkanku. Karena sebelumnya Ka Sandra tidak pernah menangis sedih seperti ini untukku, dan untuk pertama kalinya juga Ka Sandra mencium keningku dengan penuh kasih sayang. Meski harus dalam keadaan seperti ini, tapi aku merasa bahagia, sangat bahagia.


Hari ini pula sebenarnya hari yang tak ingin terjadi. Dimana ketiga sahabatku harus mengetahui kondisiku yang sebenarnya.


Sebelum mereka bisa masuk kamarku dan akhirnya mengetahui keadaanku sekarang, mereka sempat mencari informasi tentang keberadaan rumahku. Maklum saja, meski sudah hampir enam bulan kita bersahabat, aku sama sekali belum pernah mengajak mereka main ke rumahku. Karena aku takut, mereka tau kalau ternyata sahabat baru mereka ini adalah seorang yang penyakitan dan masa hidupnya sudah tidak lama lagi. Hingga akhirnya mereka berhasil mendapatkan alamat rumahku dari pihak administrasi kampus. Karena hampir satu minggu aku tidak masuk kuliah, tanpa pikir panjang mereka langsung menuju alamat rumahku setelah usai kuliah.


Saat mereka tiba di rumahku, mereka bertemu dengan ka Hans. Ka Hans mencoba untuk menutupi dan menyembunyikan kenyataan dengan bilang kalau aku ini sedang ada urusan di luar kota. Namun sayang, sepintar-pintarnya menyembunyikan bangkai, akhirnya ketahuan juga. Saat Citra izin ketoilet, karena toilet tamu yang ada di lantai dasar rusak, Citra pergi ke lantai dua dan Citra tidak sengaja lewat ke depan pintu kamarku yang pintunya sedikit terbuka. Karena penasaran Citra mendekat untuk memastikan ada siapa di kamar itu. Karena sekilas terlihat seperti ada orang sakit terbaring di dalam kamar yang suasananya cukup aneh dari kamar pada umumnya, dan alangkah kagetnya saat Citra tau kalau orang sakit itu adalah aku.


Kini mata ketiga sahabatku memandangku cukup tajam. Seakan-akan mereka ingin memarahiku.


“Kenapa lo nyembunyiin ini dari kita?” tanya Citra sedikit kecewa.


Aku hanya diam, aku tidak tau harus menjawab apa.


“Harusnya lo gak bohongin kita kaya gini, Nin.”


“Maafin aku, aku cuma gak mau kalian ngejauhin aku gara-gara aku sakit,” jawabku.


Mendengar kata-kataku barusan, aku semakin melihat rasa kecewa yang hebat pada mereka bertiga.


“Lo pikir kita sahabat macem apaan, Nin? Kita gak mungkin menjauh dan ngebiarin lo sendirian dalam keadaan kaya gini,” ujar Citra.


“Pasti karena kalian kasian sama aku, kan?” tanyaku.


“Lo tuh ngomong apaan sih, Nin.”


“Lo tetep sahabat kita. Siapa pun lo, dan bagaimana pun keadaan lo. Lo tetep sahabat kita, dan kita gak akan pernah jauhin lo, Nin. Kita sayang sama lo," ujar Friska sambil meneteskan air mata.


Tanpa terasa air mata ini pun menetes, perlahan aku coba bangun dari tidurku. Dan dengan reflexs mereka bertiga langsung menghampiriku dan memeluk tubuhku dengan diiringi tangisan haru.


“Kita gak mungkin biarin lo ngelewatin semua ini sendirian, Nin. Gak mungkin... kita ini sahabat lo.”


“Makasih ya, aku sayang kalian.” Aku terharu.

__ADS_1


Aku bener-bener bahagia bisa mempunyai sahabat seperti Citra, Friska, dan Ririn. Yang bersedia ada di saat suka ataupun duka.


***


__ADS_2