Sunshine

Sunshine
Bab 10 - part 4


__ADS_3

Sejauh ini aku sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Terkadang aku merasa kebingungan akan apa yang harus aku lakukan, bahkan terkadang aku tidak mengenali orang-orang yang baru dalam hidupku.


Seperti halnya saat ketiga sahabatku menghampiri aku yang sedang membaca buku di halaman rumah. Dengan suka cita mereka menyapaku dengan membawa bermacam buah-buahan untukku.


“Haiii, Nin... sendirian aja deh,” sapa Friska padaku.


“Nih daripada bengong! kita bawain buah-buahan buat lo,” ujar Ririn sambil menyodorkan buah-buahan kepadaku.


Tapi saat itu aku malah bengong, bukannya mengambil buah-buahan dari tangan Ririn, aku malah beranjak dari dudukku dan memandang mereka aneh.


“Kalian nyari ka Sandra, ya? Tunggu sebentar! aku panggil ka Sandra dulu, ya!” kataku sambil bergegas pergi meninggalkan mereka.


Ketiga sahabatku benar-benar dibuat bengong saat itu, mereka pasti tidak mengerti dengan sikapku. Tidak lama menunggu, ka Sandra menghampiri ketiga sahabatku yang masih duduk di kursi yang ada di halaman rumah. Dan mereka sedikit berbincang, yang isinya kurang lebih seperti ini. Sesuai yang diceritakan ketiga sahabatku.


“Maaf ya, kalian pasti nunggu lama,” kata Ka Sandra tersenyum menyapa ketiga sahabatku.


“Gak apa-apa Ka,” jawab Friska.


“Hanin-nya mana, Ka?” tanya Citra.


Ka Sandra pun duduk di kursi yang kebetulan masih kosong dari keempat kursi yang ada di halaman. Dengan raut muka tak biasa yang Ka Sandra tunjukkan pada ketiga sahabatku itu.

__ADS_1


“Maafin sikap Hanin, ya!” pinta Ka Sandra sedikit sendu.


“Sebenernya Hanin kenapa, Ka?” tanya Ririn.


“Kenapa dia ngira kita temen Kakak, seakan-akan Hanin gak kenal sama kita,” tambah Citra.


“Pengaruh obat-obatan membuat Hanin terserang Delirium, seperti yang tadi kalian lihat. Akhir-akhir ini Hanin sering kebingungan, bahkan terkadang ingatan Hanin kembali ke beberapa tahun ke belakang. Itu sebabnya tadi Hanin tidak mengenali kalian dan malah mengira kalian ini temen Kakak. Sekali lagi Kakak minta maaf atas sikap Hanin, dan Kakak berharap kalian bisa mengerti kondisi Hanin sekarang.”


Ketiga sahabatku menganggukkan kepala dengan ekspresi wajah sedih mereka, begitu pula Ka Sandra yang tak kalah sedih usai menceritakan kondisiku kepada ketiga sahabatku itu.


“Tapi ini gak akan lama kan, Ka?” tanya Friska.


“Ka Hans bilang ini hanya bersifat sementara. Bisa dalam hitungan hari, atau hitungan jam saja.”


“Tentu, Hanin pasti seneng. Tapi Kakak minta sama kalian, tolong bersikap seperti biasa, ya! Kakak cuma gak mau Hanin sedih kalau dia tau.”


Mereka menganggukkan kepala mereka. Setelah itu Ka Sandra beranjak dari duduknya diikuti ketiga sahabatku, lalu mereka melangkah masuk menuju rumahku.


Baru saja mereka menginjakkan kaki di ruang depan, mereka langsung disuguhkan oleh kepanikan Bunda.


“Sayang, kamu liat Hanin?” tanya Bunda kepada Ka Sandra.

__ADS_1


“Hanin di kamarnya, Bun.”


“Gak ada, Sandra. Bunda udah nyuruh bibi nyari ke halaman belakang, tapi Hanin gak ada. Tolong cari Hanin, San!” pinta Bunda diiringi tangis khawatir.


“Iya, iya, Bun. Sandra akan cari Hanin,” ujar Ka Sandra pamitan dan bergegas pergi.


“Kita juga Tante.” Ketiga sahabatku pun bergegas pergi.


Dengan mengendari mobilnya, ka Sandra mencoba mencariku di jalanan sekitar perumahan tempat kami tinggal. Sementara ketiga sahabatku, mereka berpencar mencari ke tempat-tempat yang selama ini pernah kita datangi. Namun hasilnya nihil, mereka tidak berhasil menemukanku saat itu.


Hingga tak terasa, waktu menunjukkan pukul 22:30. Aku melangkahkan kaki menghampiri Bunda, Ka Hans, Ka Sandra dan juga ketiga sahabatku dengan langkah gontaiku diiringi air mata. Aku langsung memeluk erat Bunda dengan kesedihan yang tengah melandaku saat itu.


“Hanin... Sayang,” ujar Bunda bahagia sambil mencium keningku yang saat itu masih ada di dalam pelukannya.


“Bunda... ayah jahat, Bun! ayah jahat. Ayah bohongin Hanin, katanya ayah nungguin Hanin. Tapi nyatanya ayah gak datang. Ayah jahat, Bun. Ayah jahat,” keluhku penuh rasa sedih dan kecewa.


“Enggak, Sayang. Ayah gak jahat,” kata Bunda sambil mengelus-kelus kepalaku.


“Ayah jahat, Bunda... ayah jahat...” rengekku terus kepada Bunda dengan suara yang semakin lama semakin lemas dan mengecil hingga aku tidak sadarkan diri dan pingsan.


Dan setelah aku ingat-ingat lagi apa yang terjadi waktu itu. Ternyata, tanpa sadar langkah kaki membawaku berjalan menuju sebuah pasar malam yang aku temui saat aku berjalan tanpa tujuan. Tiba-tiba aku kembali teringat saat ayah pernah berjanji akan menemuiku usai beliau pulang kerja di tempat ini. Nampaknya saat itu aku kembali terserang Delirium, yang membuat ingatanku kembali ke masa-masa saat ayah masih ada. Di dekat komedi putar, aku terus menunggu ayah yang akan menemui aku saat itu. Hingga tempat hiburan itu tutup, aku masih saja dibuat menunggu. Rasa kecewa benar-benar aku rasakan saat itu dan aku pun memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


Pengaruh obat benar-benar telah membuatku melakukan hal bodoh, jelas saja ayah tidak akan datang. Karena beliau memang sudah tiada di dunia ini. Dan saat aku menyadari semua itu, ternyata aku telah membuat banyak orang khawatir memikirkanku. Maafkan aku... sungguh aku pun tak ingin ini terjadi terus menerus padaku.


***


__ADS_2