Sunshine

Sunshine
Bab 2 - part 1


__ADS_3

Beberapa bulan yang lalu.


Besar dalam keluarga kaya raya dan tinggal di rumah mewah yang menyerupai sebuah istana, adalah impian setiap orang. Kerena kenyamanan dan kebahagian sudah pasti terdapat di dalamnya. Tapi tidak dengan aku. Hidup serba berkecukupan bersama Bunda dan kedua kakakku lantas tidak membuatku bahagia. Semua bisa Bunda beli dengan uang, tapi tidak dengan kebahagiaanku. Mungkin aku tidak bersyukur? Bukan... Mungkin aku tidak beruntung? Ya.... Bisa dibilang aku kurang beruntung, karena aku sakit.


Hari ini, tepatnya bulan dimana universitas-universitas membuka pendaftaran untuk mahasiswa baru. Pagi, sekitar pukul 10:00 aku menghampiri Bunda, yang sedang duduk sendirian di ruang tengah sambil menonton tayangan televisi genre drama, Bunda terlihat terhanyut mengikuti alur dalam tayangan yang sedang Bunda tonton. Dengan rasa tidak enak karena akan mengganggu Bunda, dengan lembut aku mencoba menegur Bunda.


“Pagi, Bun.” Aku duduk di samping kanan Bunda.


“Ehh... Sayang,” jawab Bunda sambil mencium keningku.


“Bun... Hanin boleh ngomong sesuatu gak?”


“Apa Sayang...?”


“Bun, Hanin mau minta izin buat daftar masuk universitas. Boleh ya, Bun?” pintaku.


Mendengar itu Bunda langsung kaget. Pandangan Bunda beralih tak lagi memandang ke arahku, seakan-akan membuang muka dan malah terdiam.


“Bun, boleh kan?” tanyaku lagi.


“Enggak, Sayang!” jawab Bunda singkat dan ketus.


“Kenapa, Bun? Hanin pengen ngelanjutin sekolah Hanin. Hanin masih berhak untuk itu kan, Bun?”


“Pokoknya Bunda gak akan ngizinin kamu!”


“Kenapa, kasih Hanin alasan? Apa karena Hanin sakit?”

__ADS_1


Bunda terdiam, aku pun dibuat penasaran. Sambil menebak alasan apa yang akan Bunda katakan sampai-sampai membuatnya tidak mau memberikan aku izin.


“Bunda cuma gak mau kamu kecapean. Bunda gak mau ambil resiko. Jadi tolong dengerin Bunda!”


“Hanin emang sakit, Bun... tapi Hanin gak selemah yang Bunda pikir selama ini. Hanin bisa buktiin kok, kalau Hanin pasti kuat untuk beraktivitas normal. Hanin mohon berhenti perlakuin Hanin kaya gini. Hanin janji, Hanin pasti baik-baik aja. Please... Bun, boleh ya?”


“Hanin, tolong jangan bantah Bunda!” kata Bunda sedikit membentakku.


“Bunda gak adil.” Seketika air mataku menetes dan aku langsung pergi meninggalkan Bunda.


Di kamar, yang terletak di lantai dua. Aku berdiri di balkon kamar. Pandanganku melihat ke bagian bawah rumah. Di mana terlihat ka Sandra, kakak perempuanku yang hendak pergi bersama beberapa teman yang sudah menunggunya di depan rumah. Dalam hatiku rasa iri benar-benar muncul. Aku benar-benar iri melihat ka Sandra. Aku sangat ingin seperti kakakku. Yang bisa bebas pergi kemana saja, dan punya banyak teman.


“Enak ya jadi ka Sandra. Bisa keluar rumah, bisa pergi kuliah, dan punya banyak teman. Tapi aku, aku hanya burung dalam sangkar emasnya Bunda. Yang terkunci rapat, dan tidak bisa terbang bebas,” ucapku dalam hati.


Aku beranjak dari balkon dan melangkah masuk ke dalam kamarku. Mata ini memandang seluruh isi kamar, di mana terdapat banyak sekali alat-alat medis di dalamnya. Satu per satu kusentuh alat-alat yang ada, dari mulai monitor EKG, tabung oksigen, botol cairan infusan yang masih menggantung, dan tempat tidur yang sudah tertata rapih. Lalu aku duduk di atas tempat tidur itu.


Aku bener-bener bosan dengan semua ini, semua aturan yang Bunda berikan untukku. Kasih sayang dan perhatian Bunda terlalu berlebihan semenjak aku sakit. Sampai-sampai untuk keluar rumah pun aku tidak berhak. Ketakutan Bunda yang menurutku sangat berlebihan terlihat jelas pada kamarku ini. Bunda rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli semua alat-alat medis yang lengkap, supaya aku tetap di rumah dan Bunda bisa mengawasiku setiap waktu. Bahkan Bunda rela membayar mahal tante Dewi untuk stay di rumah agar selalu ada untuk merawatku. Aku senang Bunda sangat perhatian padaku, tapi bukan seperti ini yang aku mau. Yang malah membuat aku jadi orang yang tidak berguna dan tidak bisa apa-apa.


Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, aku melihat Ka Hans masuk menghampiri dengan membawa sebuah jinjingan kertas yang entah apa lagi isinya, lalu Ka Hans duduk di samping kiriku.


“Pagi, De...” sapa Ka Hans sambil tersenyum.


“Pagi, Ka... tumben Kakak belum berangkat ke rumah sakit.”


“Ini juga mau kok, De. Tapi Kakak pengen ketemu sama ade Kakak yang cantik ini dulu, soalnya Kakak punya sesuatu untuk kamu. ... Semalem Kakak beli ini, tadinya Kakak mau langsung kasih ke kamu tapi kamunya udah tidur. Nih...” Ka Hans menyodorkan jinjingan itu ke hadapanku.


Aku pun mengambilnya, lalu membukanya. Yang ternyata di dalam jinjingan itu ada coklat dan sebuah baju beserta kupluk. Hadiah yang rutin Ka Hans beri setiap minggu untukku. Tapi entah kenapa hari ini aku tidak begitu senang saat mendapat barang-barang dari Ka Hans ini.

__ADS_1


“Kamu suka, kan? kamu pasti cantik kalau pake baju itu.”


Aku hanya terdiam sambil memandangi barang-barang pemberian Ka Hans, terutama baju lengan panjang berwarna putih yang Ka Hans beri untukku.


“De, kok diem? Kamu suka, kan?”


“Aku suka kok, Ka. Tapi harusnya Ka Hans gak usah repot-repot beliin baju ini buat aku. Buat apa coba Kakak beliin aku semua ini terus.”


“Kok kamu ngomongnya gitu sih, De. Apa kamu gak suka sama semua barang pemberian Kakak?”


“Bukan gitu, Ka. Ya sayang aja kalau baju bagus kaya gini cuma dipake buat tiduran doang.” Ka Hans hanya terdiam mendengar perkataanku itu.


“Ka, Kakak kan asisten dokter. Kakak juga yang selama ini bantuin tante Dewi buat ngerawat aku. Aku yakin Kakak pasti tau betul tentang kondisi aku sekarang ini, kan? Ka... apa kondisi aku ini tidak memungkinkan untuk beraktivitas normal?”


“Kenapa kamu nanya kaya gitu, De?”


“Ya karena aku pengen hidup normal aja, Ka. Aku pengen bisa kuliah kaya orang lain. Aku pengen ngerasain hidup normal, yang bisa kesana-kemari kaya remaja lain seusiaku. Aku cape sama peraturan Bunda, aku bosen kaya gini terus Ka,” keluhku sambil meneteskan air mata .


Ka Hans mencoba menenangkanku yang sedang bersedih. Dengan nada yang lembut Ka Hans mencoba menjawab semua keluhanku.


“De, Kakak ngerti perasaan kamu. Tapi Bunda ngelakuin ini karena Bunda sayang banget sama kamu. Bunda gak pengen kamu kenapa-kenapa, Sayang.”


“Tapi aku pengen kaya orang lain, Ka. Udah tiga tahun aku jadi burungnya Bunda. Selama itu pula aku gak pernah nyentuh dunia luar, bahkan untuk nginjek halaman rumah aja kayanya aku gak berhak. Aku pengen kaya orang lain Ka, kaya Kakak, kaya ka Sandra. Bisa sekolah, punya banyak teman. Aku pengen ngerasain itu, Ka. Aku mohon bantu aku, tolong bujuk Bunda! Yakinin Bunda, please...!”


“Iya De, iya ... nanti Kakak coba omongin sama Bunda, ya.” Ka Hans menghapus air mataku. “Jangan sedih lagi!” Ka Hans memberikan senyuman manisnya untukku.


Aku menganggukkan kepala, lalu Ka Hans memelukku.

__ADS_1


***


__ADS_2