Sunshine

Sunshine
Bab 12 - part 4


__ADS_3

Begitu juga saat Citra, Friska dan Ririn menjengukku siang ini. Kulihat wajah mereka yang berseri menyapaku. Nampaknya mereka sedang bahagia.


“Haii, Nin!” ujar mereka bertiga kompakan menyapaku sambil melempar senyuman untukku.


Tak ada yang bisa aku lakukan, selain menjawab sapaan mereka hanya dengan mengedipkan mata. Karena mulutku sulit untuk bicara. Rasanya rindu sekali bercanda tawa bersama ketiga sahabatku ini, namun sayang kondisiku sekarang tidak memungkinkan untuk itu. Tiba-tiba saja air mata ini menetes dari kelopak mataku.


“Hanin... kok lo nangis, sih?” ujar Friska yang pertama melihat air mataku terjatuh.


Entah kenapa mendadak mimik wajah mereka berubah menjadi sendu. Tangan Citra menggenggam tangan kananku, dan Friska juga Ririn berada di sebelah kiri tempat tidurku. Seakan-akan mereka tau apa yang sedang aku rasakan saat ini.


“Nin... gue tau ini gak mudah buat lo. Tapi gue yakin lo pasti kuat, Nin!” ujar Citra.


“Lo gak boleh nyerah, Nin... lo harus lawan penyakit lo. Masih banyak hal yang belum sempat kita lalui bersama. Ohh iya, lo masih inget keinginan lo, kan? sebentar lagi musim semi. Lo harus sembuh! kita janji bakal nemenin lo liburan kesana. Bunda lo udah nyiapin itu buat kita, lo harus sembuh, Nin! Kita harus nikmati pergantian musim sama-sama,” kata Ririn.


“Gue yakin lo pasti sembuh, Nin. Ayo kita wujudkan semua mimpi lo jadi nyata! Semangat, Nin... semangat!” ujar Friska sambil meneteskan air mata. Karena dari mereka bertiga, Friska termasuk orang yang cengeng.


Aku ingin sekali menjawab mereka, dan mengatakan, kalau aku sudah tidak kuat, rasanya ingin menyerah saja. Tapi lagi-lagi hanya air mata dari kelopak mataku yang terjatuh untuk mewakili bibirku yang membisu. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja tangis Friska pecah, dan dia langsung berlari keluar kamar.


“Friska...” ujar Ririn memanggilnya.


Aku tau apa yang dirasakan Friska, dia pasti kasian melihat kondisiku yang sudah tidak berdaya ini. Tuhan... jika boleh aku minta. Aku tidak ingin lagi melihat lebih banyak air mata orang-orang yang aku sayang terjatuh untuk menangisiku. Jika ingin kau ambil aku, ambil saja aku sekarang. Agar tidak ada lagi orang yang menangis melihat ketidakberdayaanku ini.


Aku lihat Ririn pergi menyusul Friska, sementara Citra masih setia di sampingku. Namun aku pun bisa melihat Citra yang mencoba menyembunyikan kesedihan dan air matanya dari hadapanku. Tuhan,, jika sudah waktunya aku ikhlas. Tapi aku minta beri aku satu keajaiban untuk bisa menggerakkan tanganku dan berbicara. Ada satu hal yang harus aku sampaikan sebelum aku benar-benar pergi nanti.


Aku coba berusaha keras untuk menggerakkan tangan kananku, rasanya berat dan kaku. Namun aku tidak boleh menyerah begitu saja, aku harus yakin kalau keajaiban itu pasti ada, dan memang ada. Aku terus berusaha menggerakkan tanganku untuk bisa meraih tangan Citra yang berada di dekat tanganku. Dengan susah payah dan adanya sebuah keajaiban, akhirnya aku bisa menggerakkan jariku dan menyentuh tangan Citra. Spontan Citra kaget.

__ADS_1


“Hanin...” ujar Citra tersenyum saat mengetahui aku bisa menggerakkan jari tanganku. “Jari lo gerak, Nin... lo bisa pegang tangan gue. Gue panggil ka Hans, ya.” Citra beranjak dari duduknya.


Namun dia tidak berhasil pergi karena tanganku ini meraih lalu menggenggam tangannya, sebagai isarat Citra tidak boleh pergi. Citra pun memandang wajahku, sambil berkata.


“Gue gak bakal ninggalin lo, kok. Gue cuma pengen ngasih tau semua tentang keadaan lo sekarang. Mereka pasti seneng banget,” ujar Citra sambil beranjak.


Namun baru saja beberapa langkah menjauhiku, tiba-tiba saja langkah Citra terhenti saat mendengar aku batuk-batuk. Spontan Citra menoleh ke arahku, Citra terlihat kaget dan bergegas balik menghampiriku.


“Astagfirullah... lo apa-apaan sih, Nin!” bentak Citra.


Saat melihat selang intubasi yang ada di mulut, aku cabut paksa sehingga aku batuk-batuk tadi. Karena tenggorokanku cukup gatal saat selang intubasi itu aku cabut. Bahkan rasa mual pun sedikit muncul. Tapi aku sama sekali tidak peduli, yang penting aku bisa mencegah Citra untuk pergi.


“Ngapain sih pake dicabut segala? Emch akhhh...” Citra memarahiku kesal dan hendak pergi lagi.


Namun aku kembali mencegahnya. Dengan nafas yang belum stabil dan sedikit terbata-bata aku berbicara.


“Oke, gue siap dengerin apapun yang pengen lo bicarain ke gue, tapi nanti. Gue harus panggil ka Hans dulu. Gue gak mau lo kenapa-napa, Nin. ”


“Cit, aku gak apa-apa, ko.” Masih dengan nada yang pelan.


Citra memandangku tajam, aku balas menatapnya dan meyakinkan kalau aku memang baik-baik saja.


Akhirnya Citra mau kembali duduk dan mau mendengarkan apa yang ingin aku katakan. Namun tiba-tiba saja Citra marah sekali setelah mendengar apa permintaanku kepadanya.


“Lo gila ya, Nin!” ujar Citra tak percaya.

__ADS_1


“Aku mohon, Cit... cuma kamu yang bisa bantu aku.”


“Enggak... kondisi lo itu gak memungkinkan, Nin.”


“Aku udah gak kenapa-kenapa ko, Cit... aku baik-baik aja.”


“Udah mendingan sekarang lo istirahat! gue panggil Bunda sama yang lain dulu oke,” ujar Citra sambil beranjak pergi.


Aku mencoba bangun dan mengangkat tubuhku yang lemas ini, meski susah payah tapi akhirnya aku bisa duduk. Lalu pelan-pelan kulepaskan selang NGT di hidungku. Meski sedikit ngilu, aku tak hiraukan. Setelah itu kucabut kabel-kabel kecil yang menempel di dadaku. Dan dilanjut mencabut paksa selang infusan.


Karena lumayan sakit sehingga mengeluarkan darah, aku teriak kesakitan. “Awwww...” jeritku.


“Hanin...”


Citra yang waktu itu baru sampai di depan pintu, langsung kembali menghampiriku setelah mendengar jeritanku tadi.


“Lo tuh bener-bener gila, ya.” Citra terlihat begitu marah kepadaku .


“Aku cuma pengen buktiin sama kamu, kalau aku gak kenapa-kenapa.”


“Udah deh terserah lo. Oke... gue bakal bantuin lo. Tapi gue mohon lo tidur! Jangan nyakitin diri lo kaya gini lagi, ngerti!” ujar Citra dengan nada menekan, sedikit mengancam.


Aku pun menganggukkan kepala.


“Aduh mana tangan lo banyak ngeluarin darah lagi,” sambungnya sambil merebahkan tubuhku yang masih lemah ini di atas tempat tidur. “Gue bakal omongin ini sama Bunda lo, oke...” ujar Citra.

__ADS_1


Aku kembali menganggukkan kepala sambil menahan sakit di tangan kiriku yang masih mengeluarkan darah karena mencabut paksa selang infus tadi.


***


__ADS_2