Sunshine

Sunshine
Bab 1 - part 2


__ADS_3

Satu hari sudah aku tidak sadarkan diri, namun aku masih bisa merasakan kedatangan Bunda di sampingku. Tanganku pun bisa merasakan sentuhan lembut tangan Bunda yang menggenggam erat tanganku, dan aku bisa mendengar isak tangis Bunda saat itu. Ingin rasanya aku membuka mata, dan menggerakkan bibir ini lalu mengatakan, 'aku baik-baik saja, Bun.' Namun sayang, mata ini masih terasa berat untuk dibuka, dan bibir ini pun kaku untuk digerakkan. Yang aku dengar kini hanya suara Bunda, seakan-akan sedang mengajakku berbicara dengan suara yang terdengar sendu penuh kesedihan. Aku bisa merasakan sentuhan tangan Bunda yang saat ini mengelus rambutku secara perlahan, hati ini pun merasakan kenyamanan dari sentuhan yang Bunda berikan dengan penuh kasih sayang itu.


“Sayang, andai selama ini kamu tau maksud Bunda. Sikap Bunda yang bikin kamu gak nyaman selama ini, semata-mata Bunda lakuin demi kesehatan kamu, Sayang. Kamu gak pernah ngerti, betapa tersiksanya hati Bunda yang selalu dihantui ke-khawatiran yang luar biasa. Apa kamu tau, Sayang? Bunda gak pernah bisa tenang melewati setiap detik, setiap menit, setiap jam yang berlalu. Dalam hati Bunda selalu ada pertanyaan, apakah kamu masih bisa melewati hari?


"Dan apa kamu juga tau, Sayang? Setiap malam saat kamu akan memejamkan mata, Bunda selalu ketakutan, akankah besok pagi kamu masih bisa membuka mata kamu? Setiap hari selama tiga tahun perasaan itu selalu menghantui pikiran Bunda, Sayang. Berat bagi Bunda melepas kamu jauh dari Bunda, tapi demi kebahagiaan kamu Bunda rela lakuin itu. Meski akhirnya kamu harus seperti ini. Bunda benar-benar merasa bersalah, Sayang. Bunda cuma bisa memendam semua itu sendiri, Bunda gak mau kamu tau kesedihan dan ketakutan Bunda.

__ADS_1


"Dan keadaan kamu sekarang, semakin membuat Bunda takut. Bunda takut kamu gak bangun, Bunda takut kamu pergi. Bunda belum siap kamu tinggalin, Sayang. Bunda belum siap kehilangan kamu...” kata Bunda sambil mencium tangan kiriku.


Ya Tuhan, hati ini terasa terhantam pukulan yang sangat keras setelah mendengar perkataan Bunda untukku. Betapa jahatnya perlakuanku terhadap seseorang yang sudah rela mempertaruhkan nyawanya saat melahirkanku. Tapi apa yang selama ini aku berikan untuknya? aku hanya bisa menyakiti hati dan mengecewakannya. Ingin rasanya aku meminta maaf dan teriak, 'Maafin aku Bunda'. Namun bibir ini amat sangat sulit untukku gerakkan, apalagi mengeluarkan suara. Hanya air mata yang bisa menetes saat ini, untuk mewakili seluruh rasa sesalku.


Tapi aku tidak boleh pasrah seperti ini, aku harus bangkit dari keadaan ini. Aku terus berusaha meyakinkan diriku sendiri, bahwa aku pasti kuat dan aku pasti bisa. Aku mencoba mengirim sugesti kepada tanganku, agar jari ini bisa bergerak dan menggenggam erat tangan Bunda.

__ADS_1


Aku terus mencoba mengumpulkan kekuatanku untuk menggerakkan jari ini. Dengan susah payah akhirnya aku bisa menggerakkan telunjuk tanganku, lalu satu demi satu dari kelima jariku, dan akhirnya aku bisa menggerakkan tanganku secara perlahan. Kemudian, kugenggam tangan Bunda yang baru saja melepaskan genggamannya.


“Sayang....” Terdengar suara Bunda begitu bahagia.


Perlahan aku coba membuka mataku, meski hanya bayangan buram wajah Bunda yang bisa aku lihat. Namun aku sangat merasa bahagia, karena bisa melihat wajah Bunda lagi. Aku pun berusaha memberikan senyum indah dibalik bibir kaku ini untuk Bundaku tersayang.

__ADS_1


“Sayang, akhirnya kamu buka mata kamu juga,” kata Bunda sambil menciumi tanganku, pipiku, lalu keningku. Bunda terlihat begitu bahagia, dan aku cukup tenang bisa kembali melihat senyuman indah dari bibir Bundaku tercinta.


***


__ADS_2