Sunshine

Sunshine
Bab 7


__ADS_3

Pagi yang cukup indah buatku. Karena setibanya di kampus, aku kembali disuguhkan oleh wajah tampan ka Deva, yang menebar senyum paling manisnya kepadaku, saat berada di halaman kampus dan tidak sengaja berpapasan denganku.


“Mungkin kita jodoh,” batinku.


Karena sudah beberapa kali aku selalu dipertemukan dengan ka Deva. Kepedean,, pasti lah. Aku rasa, aku memang mulai menyukai ka Deva, jadi aku pasti berharap berjodoh dengan ka Deva.


Entahlah, semenjak bertemu dengan ka Deva, hatiku ini sering berdebar tidak menentu, kadang berbunga-bunga, kadang kaya genderang mau perang kalau kata Dewa 19 hehe. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta? Mungkin. Maklum saja, aku tak pernah tau apa itu Cinta, dan bagaimana rasanya jatuh cinta. Ingin rasanya aku bertanya pada Bunda, namun aku malu. Takut Bunda malah menertawakan aku. Ingin rasanya curhat sama ka Sandra, yang pastinya sudah tau jawaban tentang rasa apa yang sedang aku rasakan sekarang ini. Namun sayang, ka Sandra entah pergi ke mana.


Untung aku punya Citra, sahabat yang bisa mendengarkan curhatan isi hatiku. Yang sedang merasakan perasaan yang aneh pada seorang pria yang identitasnya masih aku rahasiakan. Meski belum tau pria mana dan siapa yang aku maksud, ternyata Citra sangat mensuport aku untuk mendapatkan cinta pertamaku. Ya,, meski aku tau ka Deva belum tentu punya perasaan yang sama. Namun aku tetap semangat, semangat untuk memperjuangkan cinta pertamaku.


Semakin hari, aku semakin sering bertemu ka Deva. Ya walau harus berbohong dan mencuri-curi kesempatan dari tiga sahabatku. Karena aku masih merasa malu jika mereka tau aku sedang tertarik pada seorang pria. Ka Deva selalu meluangkan waktu, untuk sekedar ngobrol-ngobrol bersamaku saat berada di kampus. Semua itu cukup membuat aku semakin merasa dekat dengan ka Deva.

__ADS_1


Hingga suatu hari aku sudah tidak merasa malu untuk mengajak ka Deva pergi nge-date. Aku sempat pesimis kalau ka Deva bakal merespon positif ajakanku, namun sangat diluar dugaan. Ternyata ka Deva mau menerima ajakanku. Sungguh bahagia yang tidak terkira yang dirasakan oleh hatiku saat itu.


Aku langsung mempersiapkan dandan tercantikku untuk ka Deva. Aku ingin nanti ka Deva terbengong-begong saat melihatku. Aku bener-bener antusias untuk bertemu ka Deva sore ini. Berbagai persiapan aku lakukan untuk pertemuan sore nanti, aku hanya ingin memberikan penampilan yang terbaik untuk pangeranku.


Dan benar saja, kulihat ka Deva sedikit bengong saat melihatku berdiri di hadapannya, dengan dres pendek berwarna biru muda dan sepatu hills dengan rambut terurai, ka Deva memujiku cantik. Emm... aku bahagia banget. Karena usahaku untuk mempercantik diri berbuah manis.


Ka Deva membawaku pergi ke sebuah Caffe coklat. Bisa duduk berdua sambil berhadap-hadapan dengan ka Deva membuatku semakin Bahagia. Perasaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Apalagi dengan tidak sengaja ka Deva memegang tanganku cukup lama, karena secara barengan kita mengambil tisu yang ada di tengah-tengah meja. Ahhhh... hatiku bener-bener dibikin meleleh malam ini. Seperti coklat panas yang disuguhkan di caffe ini. Lumerrrrr hehe....


Malam ini aku berhasil mengajak ka Deva untuk pergi nonton film di bioskop. Ini benar-benar hari yang paling indah buat aku. Karena akhirnya aku bisa jalan lagi dan nonton bareng ka Deva. Ada satu hal yang tidak akan bisa aku lupakan yang terjadi malam ini. Saat pulang dari bioskop, di dalam mobil sebelum aku turun dan masuk ke dalam area apartemen. Dengan sedikit rasa ragu aku memberanikan diri untuk mencium pipi ka Deva. Dan setelah itu ka Deva malah bengong, aku jadi salah tingkah. Aku pasti tau apa yang ada di pikiran ka Deva saat itu. Dalam hati ka Deva pasti muncul sebuah penilaian yang kurang baik, kalau aku ini cewek yang tidak tau malu banget.


“Lo serius ngelakuin itu, Nin?” tanya Citra sambil tersenyum.

__ADS_1


Saat aku memberanikan diri menceritakan semua kepada Citra. Karena aku Merasa tidak bisa memendam rasa ini sendiri.


“Jangan ngetawain aku kaya gitu dong, aku jadi malu, Cit. Aku belum pernah loh kaya gini.”


“Siapa sih yang udah buat lo klepek-klepek kaya gini, Nin? Kasih tau gue dong, siapa tau aja gue bisa bantu lo buat dapetin dia.”


“Nanti aja deh, kalau dia udah bener-bener jadi milik aku. Lagian aku juga ragu kalau dia juga punya rasa yang sama,” ujarku pesimis.


Namun Citra terus memberiku semangat untuk terus memperjuangkan cintaku. Bahkan Citra bisa membuatku semakin yakin untuk tidak ragu lagi mengungkapkan apa yang hati aku rasakan.


***

__ADS_1


__ADS_2