
8 hari yang lalu...
Pagi itu, tepatnya pukul 07:30. Langkah kakiku yang pelan, mulai menuruni satu demi satu anak tangga. Suasana rumah yang saat itu cukup sepi seakan tak berpenghuni, mendorongku untuk berjalan mengendap menuju pintu utama rumahku. Dengan pandangan yang tak lepas melirik kanan kiri layaknya seorang pencuri, sengaja aku lakukan hanya untuk memastikan bahwa di rumah memang tidak ada siapa-siapa, termasuk Bunda. Tangan kananku berusaha meraih gagang pintu, rasa was-was dan bahagia bercampur aduk, hati sudah tak sabar untuk segera berlari bebas di luar sana.
“Oups,” keluhku kecewa.
Ternyata pintu terkunci, itu tandanya aku tidak bisa keluar rumah lewat pintu utama. Namun harapan masih ada, aku kembali melangkahkan kaki menuju ke arah samping rumah, di sana terdapat pintu keluar juga. Setidaknya masih ada harapan untuk bisa keluar rumah. Namun ternyata hasilnya sama saja. Hingga akhirnya aku meluncur ke pintu belakang rumah yang ada di dapur, akses terakhir yang bisa kupilih untuk keluar rumah. Tapi tetap saja, aku tidak bisa keluar rumah. Semua pintu sudah terkunci rapat.
“Ahhh... sial,” keluhku kesal “aku benci!” omelku.
Sebuah langkah terdengar mendekat menghampiriku.
“Semua pintu dikunci sama Bunda, Neng,” ucap Minah pembantu di rumahku. “Bunda juga pesen, Neng Hanin gak boleh keluar rumah,” sambungnya.
“Akhhh...” teriakku kesal, karena hari ini aku ingin sekali pergi kuliah setelah hampir satu minggu tidak masuk, karena kondisi badanku yang sempat drop.
Di sebuah kamar yang sejak tiga tahun belakangan ini suasananya sangat berbeda dari kamar pada umumnya. Dimana terdapat sebuah tiang besi dengan botol infusan yang masih menggantung, sebuah EKG perekam irama jantung berada tepat di dekat tiang infusan, sebuah tabung oksigen pun menjadi pelengkap, sehingga membuat kamar ini benar-benar sama percis seperti sebuah kamar ICU di rumah sakit. Dengan adanya tempat tidur yang sering pasien ICU gunakan membuat kamar itu semakin mirip kamar ICU.
Brakkkk...
Terdengar suara pintu yang dibantingkan keras, dilanjutkan dengan kedua tangan yang mengacak-ngacak satu demi satu barang-barang yang ada di kamar dengan penuh amarah. Suara tangisku memecah suasana hening di kamar. Entah rasa apa yang kini sedang berkecamuk di dalam hatiku, sedih, marah, kesal, kecewa semua seperti bercampur aduk. Sampai-sampai aku tidak mempedulikan kondisi kamarku yang tadinya sangat rapih, kini menjadi tidak karuan. Seketika badan ini terasa lemas sampai membuatku jatuh terduduk di lantai. Lalu, kusenderkan tubuh ini di samping tempat tidur dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.
“Maafin Bunda, Sayang.” Terdengar suara Bunda.
Yang ternyata sudah berada di depan pintu kamarku sejak aku ngamuk-ngamuk tadi, sampai alat-alat medis yang ada di kamarku ini berantakan. Bunda berjalan mendekatiku yang masih menangis. Dengan tangan lembutnya Bunda mencoba menghapus tetesan air mata yang membasahi pipi dan mencoba memelukku dengan pelukan hangatnya. Tanpa memperdulikan berapa banyak lagi uang yang harus Bunda keluarkan untuk membeli alat-alat medis, yang sudah pasti rusak oleh kemarahanku.
__ADS_1
“Bunda hanya ingin kamu baik-baik aja, Sayang,” kata Bunda sambil mendekap tubuhku.
Tapi aku malah melepaskan dekapan Bunda, seakan-akan tak ingin tangan Bunda menyentuh tubuhku. Sambil menatap wajah Bunda dengan pandangan yang diselimuti rasa kesal.
“Tapi jangan kaya gini lagi, Bun. Hanin punya kehidupan sendiri,” kataku sedikit membentak Bunda sambil menangis.
“Bunda tau, Sayang... tapi kejadian kemarin cukup jadi pelajaran buat Bunda. Dan Bunda gak mau kejadian seperti itu terulang lagi. Bunda gak mau,” jawab Bunda sambil menangis memandang wajahku.
“Bunda gak pernah ngerti apa yang Hanin mau.”
“Kamu mau apa, Sayang? kamu mau apa? Bilang sama Bunda! biar Bunda tau apa yang kamu mau.” Tangis Bunda pecah, terlihat kesedihan yang begitu dalam yang sedang Bunda rasakan.
“Apa pun yang kamu mau akan Bunda kasih. Tapi Bunda mohon sama kamu untuk satu hal, Sayang... tolong kali ini kamu dengerin Bunda! Bunda gak mau kamu kenapa-kenapa.”
“Kenapa, Bun? Bunda takut... Bunda takut aku Anfal lagi! Bunda takut aku mati dan ninggalin Bunda dengan cepat! iya kan, Bun? Iya, kan!” bentakku pada Bunda lepas kontrol, seakan-akan aku tidak sedang berhadapan dengan seorang ibu.
“Aku udah janji sama Bunda, aku pasti kuat. Mungkin karena kelalayan kemarin kondisi aku sempat drop, tapi aku janji semua itu gak akan pernah terjadi lagi. Aku pasti bisa kaya orang normal, Bun. Dan buktinya sampe saat ini aku masih bisa bertahan kan, Bun? meski harus jauh dan tidak tergantung lagi sama semua alat-alat itu. Jadi aku mohon sama Bunda, jangan perlakuin aku lagi kaya orang yang mau mati besok!
"Aku bosen, Bun. Aku gak kuat kalau harus kaya gini terus. Biarin aku bebas, Bun! Aku sakit bukan berarti aku lemah. Dan soal kematian. Bunda gak usah takut, semua orang udah punya waktu yang pasti kapan dia akan mati!” lanjutku sambil berdiri dan mencoba untuk pergi.
Tangis Bunda semakin terdengar pilu. Tapi aku sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Keegoisanku seakan-akan telah menutup mata hatiku. Bunda menangis pun aku sama sekali tidak peduli.
Namun baru saja aku melangkahkan kaki, tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menyerang bagian kepalaku. Sampai-sampai tubuh ini kehilangan keseimbangan untuk berdiri. Tubuh ini mendadak lemas dan langsung terhempas jatuh ke lantai. Bunda yang saat itu masih berada di dekatku langsung panik saat aku terjatuh.
“Astagfirullah, Hanin....” Bunda langsung meraihku dan mengangkat kepalaku lalu Bunda sandarkan di pangkuannya. Terlihat dari mimik wajah Bunda, beliau begitu panik melihat aku meringis kesakitan.
__ADS_1
“Bunda... Bunda...” rengekku. Rasanya aku ingin meminta tolong kepada Bunda untuk membantuku menghilangkan rasa sakit di kepala ini.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Bunda panik sambil meneteskan air mata.
“Kepala Hanin sakit, Bun... sakit banget. Aaaaawww...” teriakku sambil menangis karena sudah tidak tahan dengan rasa sakit ini.
Mendengar itu Bunda semakin panik, apalagi dengan sikapku yang terus meremas bagian kepala sambil meronta-ronta, karena sudah tidak bisa mengontrol lagi rasa sakitnya. Semakin terlihat Bunda sangat cemas dengan keadaanku saat ini.
“Bunda panggil ka Hans ya, Sayang ... atau tante Dewi,” kata Bunda panik dan hendak beranjak pergi.
Namun tanganku menarik tangan Bunda dan menggenggam tangan Bunda dengan erat, bahkan mungkin sampai merah karena tak tahan dengan rasa sakit yang menyerang kepala ini.
“Bunda jangan pergi, Bun! jangan tinggalin Hanin!” pintaku sambil terus meringis.
“Iya Sayang, iya...” kata Bunda meyakinkanku sambil mengelus kepalaku. “Hans... Dewi...” teriak Bunda memanggil ka Hans dan tanteku, yang merupakan seorang dokter spesialis yang sudah menanganiku sejak lama.
“Kamu tahan ya, Sayang!” kata Bunda menguatkanku dengan raut wajah cemasnya yang tidak bisa disembunyikan lagi.
Entah kenapa hati ini terasa sakit saat melihat Bunda menangis dan begitu panik dengan kondisiku. Dari tatapan matanya, aku bisa melihat betapa sayang dan khawatirnya Bunda padaku. Aku jadi merasa bersalah karena sudah membentak Bunda tadi. Mungkin ini hukuman langsung dari Tuhan untukku. Rasa sakit ini tidak seberapa dibanding rasa sakit hati yang Bunda rasakan dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulut anaknya yang pembangkang ini.
“Hans, Hans... Dewi..." teriak Bunda.
Tanpa terasa air mata ini menetes kembali, saat kupandangi wajah Bunda yang begitu sedih. Rasa sakit di kepala ini sudah tidak kupedulikan lagi, mataku hanya memandangi wajah panik Bunda seakan-akan aku tak rela melihat Bunda bersedih karena mengkhawatirkanku seperti ini.
Tidak lama menunggu, tiba-tiba tubuhku ini sudah berada di atas tempat tidur, kondisiku saat itu mulai sadar tak sadar. Namun telinga ini masih jelas mendengar suara ka Hans dan tante Dewi yang sedang sibuk menanganiku. Dengan sigap mereka langsung memeriksaku lalu kemudian menempelkan alat-alat medis untuk membantuku. Ka Hans memasang selang infus di tangan kiriku, dan tante Dewi memasang selang oksigen di hidungku.
__ADS_1
Di sela aktivitas ka Hans dan tante Dewi yang sedang berusaha memberikan penanganan terbaik untukku, aku masih mendengar suara tangis Bunda. Dan dengan pandangan yang mulai tidak jelas, aku menatap Bunda sambil melempar senyum untuk Bunda yang terlihat begitu sedih. Aku berharap senyumku ini bisa sedikit menenangkan hati Bunda. Dan setelah itu tiba-tiba tubuh ini terasa lemas, mata ini gelap, dan akhirnya aku hilang kesadaranku.
***