
POV 3
Setelah kejadian itu, dengan rasa sedih yang masih terasa di dalam hati Citra, karena kini Hanin dinyatakan koma. Citra berjalan cukup cepat keluar dari rumah Hanin. Ternyata sepuluh langkah di belakang Citra, Deva terus mengikuti kemana Citra melangkah sambil memanggil-manggil Citra.
“Cit, aku mohon berhenti, Cit! Citra...”
Tapi Citra terus melangkah tanpa menghiraukan sedikit pun Deva yang terus memanggil-manggil namanya. Sampai Citra tiba di pinggir jalan dan hendak memberhentikan taksi yang kebetulan lewat.
Tak mau Citra pergi, Deva mempercepat langkahnya dan langsung menarik tangan Citra yang akan membuka pintu taksi. Deva malah menyuruh taksinya pergi. Citra semakin marah kepada Deva.
“Kamu apa-apaan sih, Dev?” Dengan kesal Citra melepaskan tangannya dari genggaman tangan Deva.
__ADS_1
“Kamu yang apa-apaan. Please jangan egois kaya gini, Cit! aku gak mau kamu bersikap kaya gini terus sama aku.”
“Kamu gak mau aku kaya gini? Makanya... ngertiin perasaan aku, Dev!” ujar Citra dengan nada sedikit menekan kepada Deva.
Mendengaar Citra bicara seperti itu, Deva malah merasa kesal.
“Ngertiin kamu... kamu minta aku untuk ngertiin kamu? Sekarang aku tanya, pernah gak kamu ngertiin perasaan aku?” tanya Deva cukup membentak.
“Ini hati, Cit... ini hati!” ujar Deva sambil menatap tajam wajah Citra dengan tangan yang Deva letakkan tepat di dada sebelah kiri di mana hati terletak.
“Kamu pikir perasaan ini bisa aku kendaliin? ... Terus dengan kamu minta, aku bakal gitu aja cinta sama Hanin? ... Gak akan, Cit. Gak akan semudah itu. Bertahun-tahun kita lewatin hari sama-sama, apa yang kamu minta selalu aku turutin. Bahkan untuk melakukan hal bodoh seperti sekarang ini pun aku turutin, kamu tau kenapa? Karena aku sayang banget sama kamu.
__ADS_1
"Kamu pernah mikir gak, apa yang aku rasakan saat ini? ... Aku ngerasa jadi cowo bodoh, cowo brengsek, cowo gak punya otak yang udah ngebiarin orang yang dicintai tersakiti dengan sengaja. Kamu gak pernah kan mikir ke situ? Terus kamu kira dengan cara aku ninggalin kamu, Hanin akan bahagia? Aku rasa enggak. Gak akan pernah ada kebahagiaan di antara kita bertiga jika kita melakukan hal itu. Gak akan pernah ada, Cit!" papar Deva panjang lebar penuh kemarahan.
Citra hanya meneteskan air mata tanpa menjawab sepatah kata pun apa yang Deva pertanyakan padanya. Citra malah memilih pergi meniggalkan Deva dengan kembali memberhentikan taksi.
Kali ini Deva diam dan membiarkan Citra pergi meninggalkannya. Di hatinya hanya ada rasa kesal yang tiada tara yang sedang Deva rasakan. Deva tidak tau apa yang harus dia lakukan selain berteriak untuk sedikit melepaskan beban yang menggunung di hatinya.
“Aaaaarghhhh....” teriak Deva kesal sambil menendang kosong.
Setelah kejadian itu, Citra lebih sering menyendiri. Bahkan saat menjenguk Hanin pun Citra memilih untuk seorang diri. Citra terlihat sedikit menjauh dari kedua sahabatnya. Karena Friska dan Ririn selalu meminta agar Citra mau bertemu dengan Deva. Sebab semenjak kejadian itu, Citra semakin menghindar dari Deva. Bahkan Deva rela mendatangi Friska dan Ririn hanya untuk sekedar mencurahkan isi hatinya kepada mereka. Deva berharap Friska atau Ririn bisa membujuk Citra untuk tidak menjauhinya, apalagi sampai mengakhiri semuanya. Namun apa yang Deva harapkan sama sekali tidak terwujud, Citra sama sekali tidak mendengar apa yang sahabatnya katakan.
***
__ADS_1