Sunshine

Sunshine
Bab 5 - part 1


__ADS_3

Malam hari, di kamarku yang masih tampak seperti ruang ICU, aku duduk di atas tempat tidur sambil menulis sesuatu di sebuah buku warna pink, yang merupakan buku diary tempat mencurahkan seluruh isi hatiku selama ini.


Terimakasih ya Allah, satu per satu dari keinginanku telah terwujud. Apa yang selama ini jadi mimpi bagiku sekarang menjadi nyata. Mulai dari sekarang aku janji tidak akan pernah mengeluh lagi, karena hidup ini begitu indah untukku syukuri. Dan jika kau telah berkehendak, maka tidak ada yang mustahil di dunia ini. Ajari aku untuk terus bersyukur ya Allah, atas semua yang telah engkau berikan selama ini. Agar aku semakin mengerti bagaimana cara memahami hidup. Itulah uangkapan kebahagiaan hatiku yang ditulis di buku diary. Yang sudah lama menjadi tempat curhatku.


Treeeekkkk...


Suara pintu terbuka, pandanganku langsung teralih ke arah pintu. Dan ternyata yang masuk adalah Bunda.


“Ehh, Bunda...” kataku tersenyum sambil menutup buku diary dan menyimpannya di bawah bantal.


Sementara Bunda sedang berjalan menghampiri dan kemudian Bunda duduk di sebelah kananku.


“Bunda kira kamu udah tidur.” Sambil mengelus-ngelus kepalaku. “Gimana kuliah kamu, Sayang?” tanya Bunda.


“Lancar ko, Bun,” jawabku tersenyum.


“Syukurlah... tapi Bunda boleh minta satu hal gak sama kamu Sayang, tolong jangan sering pulang telat ya! apalagi sampe malem. Bunda takut ngerusak kondisi kamu.”


“Tapi kan aku udah gak apa-apa, Bun... buktinya selama empat bulan ini aku gak pernah drop. Bahkan sakit itu gak pernah muncul lagi. Itu tandanya aku membaik kan, Bun?” ujarku sambil tersenyum.


“Tapi bisa aja...” perkataan Bunda terpotong olehku dengan sengaja.


“Hanin mohon, Bun... percaya sama Hanin. Hanin baik-baik aja, Hanin bisa jaga kesehatan Hanin. Dan Hanin yakin, Hanin pasti sembuh, Bun...” ujarku optimis.


Bunda tersenyum dan langsung memelukku.


***


Jam 09:00 pagi, di kamarku. Tante Dewi yang ditemenin Bunda dan Ka Hans sedang memeriksa kondisi badanku. Setelah selesai, Tante Dewi langsung melempar senyuman kepadaku. Aku pun tersenyum dan dengan antusias langsung bangun dari posisi terbaring.


“Gimana, Tante?” tanyaku pada Tante Dewi dengan penuh semangat.


“Good...” Tante Dewi mengacungkan kedua jempol tangannya kehadapanku. “Kamu menjalankan perintah yang Tante berikan dengan baik, kondisi kamu jauh semakin membaik dari sebelum–sebelumnya, Nin.”


Aku pun tersenyum bahagia mendengar kabar baik itu.


“Allhamdulilah...” Bunda pun tak kalah bahagia mendengar itu. Bunda langsung mendekatiku dan mengelus rambutku.


“Tuhh... Bunda denger, kan. Kondisi aku semakin membaik, jadi Bunda gak usah khawatir sama aku.”


“Iya, Sayang...” Bunda mencium keningku.


“Tapi inget Nin... obat tetep harus diminum! dan jangan terlalu kecapean ya! Tante gak mau denger kamu sakit kepala lagi, apalagi sampe pingsan.”

__ADS_1


“Tuh denger kata Tante Dewi, De...!” ujar Ka Hans.


“Siap!” Sambil mengangkat tangan kananku kemudian hormat sambil tersenyum. Bunda, Tante Dewi dan Ka Hans pun ikut tersenyum melihatku.


***


Suasana kampus saat itu tidak cukup ramai, Aku, Citra, dan Friska sedang berjalan di koridor kampus sambil ngobrol-ngobrol.


“Ko tadi lo gak masuk sih, Nin? pas jam kuliah pertama?” tanya Citra kepadaku.


“Ada keperluan dulu, Cit. Makanya aku telat ke Kampusnya,” jawabku sambil tersenyum kecil.


Sambil terus meneruskan langkahnya, tiba-tiba aku baru ingat sesuatu yang ingin aku tanyakan.


“Ohh iya, Ririn mana? Ko aku gak liat dia?” tanyaku.


“Tuh bocah gak kuliah, Nin... katanya mau pulang ke rumahnya dulu. Gak tau deh mau ngapain,” jawab Friska.


“Ko makin kesini, gue ngerasa Ririn makin berubah deh. Gue yakin nih, semua ini ada hubungannya sama pacarnya yang gak jelas itu.”


“Gue juga ngerasa kaya gitu, Cit... tuh cowo kayanya bawa pengaruh buruk deh buat Ririn.”


“Bukan kayanya, emang tuh cowo bawa pengaruh gak baik.”


Citra dan Friska malah jadi pandang-pandangan, aku malah jadi merasa heran sendiri. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Mungkin mereka tak ingin aku tau.


“Ya udah kalau kalian gak mau ngasih tau, gak apa-apa ko. Maaf ya kalau aku jadi pengen tau urusan pribadi kalian.”


“Bukan gitu, Nin... iya deh entar gue ceritain. Gue pasti kasih tau lo. Oke," ujar Citra, aku tersenyum.


“Ya udah kalau gitu, aku pulang duluan yah. Kakak aku udah nungguin. Dah...” Aku melambaikan tangan kepada Citra dan Friska lalu pergi.


“Hemm... mudah-mudahan aja si Hanin gak marah ya, Cit... gara-gara sikap kita barusan," ujar Friska.


“Iya, Fris... harusnya kita gak usah kaya tadi, Hanin kan sekarang udah jadi sahabat kita juga.” Friska menganggukkan kepalanya.


“Ya udah, anter gue ke perpus sebentar ya, Fris.”


Friska meng-iyakan ajakan Citra, dan mereka pun pergi ke arah perpustakaan.


***


Saat ini aku sedang berjalan sendirian di halaman kampus menuju parkiran, tanpa terasa sesuatu barang milikku terjatuh. Yaitu sebuah kupluk yang tadi kugantungkan di sela-sela tas. Selang sepuluh langkah dari tempat jatuh kupluk, tiba-tiba langkahku terhenti.

__ADS_1


“Heyyy, tunggu!” Terdengar suara seseorang berteriak memanggilku.


“Ko kaya ada yang manggil, manggil aku bukan ya?” kataku ragu tanpa berbalik badan ke arah sumber suara.


Namun aku merasakan sebuah langkah mendekatiku.


“Punya kamu?” Suara itu terdengar dekat dibarengi kupluk yang disodorkan di hadapanku. “Bener punya kamu, kan?”


Tanya seseorang itu lagi, yang dari suaranya sudah dapat kupastikan dia seorang laki-laki.


Tiba-tiba aku jadi bengong saat membalikan badan dan melihat orang yang berniat baik mengembalikan kupluk yang terjatuh tadi, Aku malah memandang laki-laki itu. Sementara laki-laki itu malah tersenyum melihatku.


“Heyyy!” tegur laki-laki itu seakan-akan ingin menyadarkan aku yang masih ada dalam lamunan.


Aku terkejut, seakan-akan kembali ke dunia nyata. Aku langsung tersenyum malu. Laki-laki itu kembali menyodorkan kupluk milikku itu, aku pun langsung mengambilnya.


“Em... terimakasih ya,” kataku sambil tersenyum.


“Iya sama-sama.” Laki-laki itu kembali melemparkan senyuman manisnya kepadaku dan langsung berlalu pergi.


Aku jadi senyum-senyum sendiri, jadi salah tingkah deh, hehe


“Ganteng...” kataku sambil tersenyum, namun tiba-tiba Senyum itu hilang dan aku geleng-geleng kepala. “Aduh... ngapain sih bengong di sini, ka Hans udah nungguin. Kasian....” Aku pun bergegas pergi.


***


Di dalam mobil, pada saat dalam perjalanan pulang menuju ke rumah. Ka Hans terlihat memperhatikan aku terus sedari tadi. Nampaknya Ka Hans merasa heran melihat adik perempuannya ini senyum-senyum tidak jelas sejak dari kampus tadi.


“Siang ini cerah banget ya... Mataharinya juga berseri-seri, kayanya Langit lagi bahagia deh,” ujar Ka Hans sambil tersenyum.


“Maksudnya apa tuh, Ka?” tanyaku tanpa ekspresi, Ka Hans malah tersenyum kecil.


“Adenya Kakak yang cantik ini lagi bahagia ya? daritadi Kakak perhatiin kamu senyum-senyum terus...” goda Ka Hans sambil mencolek pipi kananku.


“Ihhh Kakak, apaan sih.” Aku tersenyum malu.


“Cerita dong sama Kakak, bahagianya kenapa nih?”


“Enggak Ka, apaan sih, Kakak.”


Aku mendadak jadi salah tingkah, Ka Hans hanya tersenyum sambil mengelus-ngelus rambutku dan kemudian kembali fokus menyetir mobil. Sementara aku mendekatkan kepala ini ke jendela mobil dan pandanganku melihat ke arah langit di balik kaca jendela mobil yang sedang berjalan menelusuri jalanan kota yang ramai.


Iya... langit hari ini emang cerah, secerah hati aku. Matahari berseri-seri, sama seperti hatiku, dan kayanya Langit sedang berbahagia, seperti halnya hatiku yang amat sangat bahagia karena bertemu dengan seorang pangeran. Hemmm... ihh apaan sih, batinku, sambil senyum dan geleng-geleng kepala. Karena aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang aku pikirkan.

__ADS_1


***


__ADS_2