
Tidak lama kemudian, Bunda duduk tepat di sampingku yang masih terbaring setelah kejadian tadi. Aku kembali mengenakan oksigen, tanganku pun mengenakan infusan agar tubuhku tidak terlalu lemah karena masih membutuhkan banyak cairan. Aku melihat Bunda menangis di hadapanku. Sepertinya Citra telah menyampaikan permintaanku kepada Bunda.
“Sayang, Bunda mohon jangan siksa Bunda kaya gini. Bunda mohon...” ujar Bunda menangis.
“Bun... Hanin baik-baik aja ko. Hanin mohon ya Bun,” pintaku.
“Bunda takut Sayang, Bunda gak berani.”
“Bun... penyakit Hanin itu udah gak mungkin bisa disembuhkan. Entah hari ini, besok, atau lusa, kemungkinan terburuk itu pasti akan terjadi. Dan bila saat itu tiba, Bunda gak maukan kalau Hanin pergi dengan penyesalan karena satu lagi keinginan Hanin belum terwujud. Hanin mohon Bun... untuk yang terakhir.”
__ADS_1
Bunda malah menangis sambil menciumi tanganku usai aku berbicara seperti itu.
“Kamu tega ninggalin Bunda sendiri? kamu tega bikin hati Bunda hancur?”
“Bun, apa Bunda lupa. Kalaupun Hanin harus pergi, bukan berarti Bunda sendiri. Bunda masih punya ka Hans sama ka Sandra. Bunda gak kesepian, dan Hanin yakin kalau Bunda itu kuat. Tapi Bunda tenang aja, Hanin janji gak akan pernah pergi ninggalin Bunda. Gak akan Bun,” ujarku sambil menangis. Bunda pun memelukku erat.
Setelah mendapatkan izin dari Bunda, ka Hans dan tante Dewi. Akhirnya Citra berhasil membawaku ke pantai, untuk memenuhi keinginanku melihat matahari tenggelam. Karena selama ini aku hanya bisa melihat proses matahari terbit, itu pun dari balkon kamarku saja. Setibanya di pantai, sebelum keluar dari mobil, ka Hans melepas dulu infusan yang masih menempel di punggung tangan kiriku dan menutupnya dengan perban dan sedikit perekat. Namun alat pernafasanku yang sudah rusak membuatku tidak boleh melepaskan selang oksigen di hidungku. Setelah itu, aku meminta Citra dan ka Deva membawaku ke pinggir pantai. Namun tiba-tiba aku melihat Bunda menangis. Lalu aku tersenyum dan menghapus air mata di pipi Bunda.
Bunda sama sekali tidak mengucapkan satu patah kata pun, aku hanya melihat air mata yang terus mengalir membasahi pipi Bunda. Aku mengerti akan rasa takut dan ke-khawatiran Bunda kepadaku saat ini. Namun aku tidak mungkin melewatkan kesempatan ini. Karena ada sesuatu hal yang lebih penting dari sekedar melihat matahari tenggelam yang harus aku selesaikan. Sebelum aku keluar dari mobil, entah kenapa aku ingin sekali menatap wajah Bunda cukup lama lewat pandangan mataku yang mulai buram. Mungkin perlahan aku akan mulai kehilangan penglihatanku, namun kumohon Tuhan jangan dulu kau ambil kemampuanku untuk berbicara. Masih ada yang harus aku sampaikan sebelum semuanya terlambat. Setelah cukup lama menatap wajah Bunda, aku langsung mencium tangan Bunda. Cukup lama kucium tangan Bunda, l alu kulanjutkan mencium kening Bunda, dan setelah itu aku peluk erat Bunda sambil mengatakan.
__ADS_1
“Hanin sayang banget sama Bunda. Terimakasih sudah menjadi Bunda terhebat untuk Hanin. ”
Bunda sudah tidak bisa menahan lagi kesedihannya, ka Sandra yang saat itu ada di samping Bunda mencoba menenangkan Bunda.
“Jagain Bunda ya, Ka!”
Ka Sandra menganggukkan kepalanya sambil menahan tangis. Aku berusaha melemparkan senyuman kepada Bunda dan ka Sandra. Lalu aku meminta ka Deva membawaku yang sudah tidak sanggup berjalan untuk pergi ke pinggir pantai bersama Citra yang memegang tabung oksigen kecil yang harus aku gunakan.
Sementara Bunda, ka Hans, ka Sandra, Friska dan Ririn yang ikut juga, hanya melihat aku dari kejauhan.
__ADS_1
***