
Pagi harinya, tubuh ini mulai terasa membaik. Meski selang infus dan selang oksigen masih menempel di tangan dan lubang hidungku. Saat itu, sekitar pukul 06:00. Rasanya aku ingin bangun dari tempat tidur, lalu bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Meski baru satu minggu tidak masuk kuliah, aku merasakan kerinduan yang begitu besar kepada ketiga sahabatku, Citra, Friska, dan Ririn.
Meski bagi mereka aku adalah teman yang baru menjadi sahabatnya selama enam bulan belakangan ini, namun mereka tak pernah membeda-bedakan aku. Mereka selalu terbuka tentang semuanya, seakan-akan aku ini sudah menjadi teman mereka selama bertahun-tahun. Namun tubuhku yang lemas ini menjadi hambatan, dan dengan terpaksa aku harus tetep ada di rumah dan terbaring di atas tempat tidur.
Saat aku mencoba untuk duduk, tiba-tiba Bunda masuk dan langsung menghampiri lalu menyuruhku untuk tetap berbaring.
“Sayang... kamu mau ngapain? Jangan banyak bergerak dulu ahh,” kata Bunda sedikit panik.
“Hanin cuma pengen duduk aja, Bun. Tapi kok badan Hanin lemes banget ya, Bun? dada Hanin juga terasa sesak,” keluhku.
Tiba-tiba Bunda menatap wajahku aneh, Bunda genggam tanganku lalu beliau ciumi sambil meneteskan air mata, dan berulang mengusap rambutku dengan tatapan tak biasa. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Bunda saat ini, sehingga air mata tiba-tiba berjatuhan dan membasahi pipinya. Namun aku bisa merasakan, bahwa ada kesedihan di dalam hati Bunda. Entah apa itu, yang jelas sikap Bunda memperlihatkan seperti tak ingin aku mengetahuinya.
“Bunda sayang,” ujarku sambil menghapus air mata yang membasahi pipinya. “Bunda gak boleh sedih gitu, ahh. Hanin baik-baik aja kok, Bun. Apa yang Hanin rasain sekarang ini tidak terlalu berarti. Nanti juga bakal kembali seperti semula. Bunda jangan sedih! Bunda tau kan kalau Hanin kuat? Hanin pasti sembuh," lanjutku sambil tersenyum penuh keyakinan.
Namun air mata Bunda malah semakin banyak menetes, dan Bunda langsung memelukku erat.
__ADS_1
“Iya Sayang, Iya. Kamu emang harus sembuh! Kamu, harus sembuh, Sayang... harus!” ujar Bunda sambil menatap wajahku lalu mencium keningku.
Dari tatapan dan sikap Bunda, aku bisa melihat ada sesuatu yang aneh. Entahlah, aku merasa ada sesuatu hal yang sedang Bunda sembunyikan dariku. Karena setelah mengatakan itu, Bunda langsung pergi meninggalkanku dengan air mata yang masih berjatuhan dari kelopak matanya.
Kriiiinnngggg...
Aku terkejut! nada dering handphone membuatku yang sedang melamun jadi kaget. Tangan kananku langsung meraih telepon genggam yang aku simpan di sebelah kiri bantal yang aku tiduri. Langsung kulihat layar handphoneku. Di situ tertera panggilan masuk dari Citra.
“Citra,” gumamku saat mengetahui kalau Citra yang menelponku.
Langsung kugerakkan jempol tanganku dengan menyentuh gambar telpon berwarna hijau di ponselku. Kemudian, kugeser ke sebelah kanan dan langsung kutempelkan handphoneku di telinga sebelah kanan.
“Maafin aku, Cit..." kataku sambil meletakkan kembali handphoneku di tempat semula.
Hati merasa tidak enak. Karena aku sudah membohongi sahabat-sahabatku tentang keadaan yang sebenernya. Aku hanya tidak ingin jikalau mereka tahu sahabat barunya ini ternyata penyakitan. Dan aku juga tidak mau kalau mereka menjauhi aku atau mereka mengasihani aku. Aku hanya ingin terlihat normal, layaknya orang biasa di hadapan mereka.
__ADS_1
Aku pikir ketiga sahabatku akan percaya dengan apa yang aku ucapkan di telepon, ternyata tidak. Citra, Friska dan Ririn mencurigai ada sesuatu dibalik absennya aku beberapa hari ini di kampus.
“Gimana, Cit? tuh anak bakal masuk gak hari ini?” tanya Ririn kepada Citra yang baru saja menyimpan phonselnya setelah menghubungiku.
“Gak akan katanya, Rin,” jawab Citra.
“Tuh anak sebenernya kenapa, sih? atau lagi ngapain gitu? Masa iya bolos kuliah terus,” ujar Ririn.
“Dia bilang sih urusannya belum selesai gitu.”
“Ya mungkin bener tuh apa yang Hanin sampein sama lo, Cit. Dia emang bener lagi ada urusan,” ujar Friska.
“Tapi gue ngerasa ada yang aneh, deh.”
Mereka tidak tinggal diam. Hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari alamat rumahku. Karena meski sudah enam bulan lebih kita berteman, aku sama sekali belum pernah mengajak mereka main ke rumah. Wajar saja bila mereka tidak tahu sama sekali di mana alamat rumahku. Mereka pun mencoba untuk mencari alamat rumahku di biodata mahasiswa di kampus.
__ADS_1
Kurang lebih itu yang mereka lalukan saat itu, sesuai apa yang mereka ceritakan kepadaku.
***