Sunshine

Sunshine
Bab 6


__ADS_3

Malam ini cukup jadi malam yang tidak baik untukku. Tiba-tiba saja saat aku sedang tiduran sambil menghayalkan wajah tampan ka Deva, ka Sandra masuk dengan wajah garangnya yang tampak seperti seekor singa yang akan menerkam sang mangsa. Ka Sandra melemparkan gitar kesayangannya dengan kondisi senar yang berantakan ke atas tempat tidurku. Ka Sandra pasti marah besar kepadaku, karena senar gitarnya putus.


Sore tadi tanpa sepengetahuan ka Sandra, aku meminjam gitar ka Sandra untuk latihan bermain gitar. Inginnya aku izin terlebih dulu, namun saat itu ka Sandra belum pulang kuliah. Dan waktu aku sedang menggunakannya, entah kenapa tiba-tiba senar gitar ka Sandra putus.


"Pasti elo kan yang ngerusakin gitar gue!" bentak Ka Sandra kepadaku.


Ingin rasanya aku mencoba untuk menjelaskan kepada Ka Sandra alasan kenapa gitarnya bisa jadi seperti itu, namun Ka Sandra yang terus ngomel sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk bicara. Ka Sandra terlihat amat sangat marah kepadaku, sampai-sampai Ka Sandra langsung pergi ke kamarnya setelah memarahi aku dengan amarah yang masih menggunung di dalam hatinya.


Aku mencoba mengikuti Ka Sandra ke kamarnya, yang posisinya bersebelahan dengan kamarku, sambil terus meminta maaf selama berjalan menuju kamar Ka Sandra. Namun Ka Sandra sama sekali tidak merespon kata maafku, dia hanya diam seribu bahasa. Ka Sandra duduk di atas tempat tidur, dan aku berdiri lima langkah tepat di hadapannya. Namun entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja rasa sakit di kepala ini mendadak muncul lagi.


"Keluar lo! maaf lo gak berarti."


"Ka... aku janji bakal betulin gitar Kakak. Tapi Kakak harus maafin aku dulu ya," pintaku sambil mencoba menahan rasa sakit yang semakin terasa menyerang kepalaku.


Namun Ka Sandra sama sekali tidak merespon ucapanku. Dengan rasa sakit yang semakin terasa hebat, aku masih tetap berdiri di hadapan Ka Sandra dan menunggu maaf darinya. Namun sakit di kepala ini tidak bisa diajak kompromi, tubuhku dibikin sempoyongan sampai kehilangan keseimbangan dan akhirnya aku jatuh terduduk di lantai. Entah apa yang ada di pikiran Ka Sandra saat itu, yang jelas secara reflexs saat aku terjatuh tadi Ka Sandra langsung menghampiriku, seakan-akan Ka Sandra khawatir dengan keadaanku.


"Ekh... lo kenapa, sih?" ujar Ka Sandra jutek sambil mencoba membantu aku untuk berdiri dan mengajakku melangkah menuju ke tempat tidurnya.


"Ka, kalau gak keberatan bawa aku ke kamar aja ya, Ka!" pintaku kepada Ka Sandra sambil mencoba menahan sakit di kepala ini yang semakin lama semakin menjadi-jadi.


Dengan sedikit terpaksa, Ka Sandra merangkul aku dan memapahku berjalan menuju ke kamarku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kamar Ka Sandra. Rasanya aku ingin cepat sampai di kamar dan segera merebahkan tubuh ini di atas tempat tidurku. Ka Sandra pun membukakan pintu kamarku lalu membawa aku yang terus meringis kesakitan masuk menuju tempat tidur, lalu Ka Sandra merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.


"Nyusahin banget sih lo!" keluh Ka Sandra yang sedikit kecapean, setelah membantu aku masuk ke dalam kamar.


Dengan muka juteknya, Ka Sandra langsung mencoba membalikkan badannya dan hendak pergi seolah-olah tak peduli kepadaku. Namun sebelum sempat melangkahkan kaki, aku mencoba meraih tangan kanan Ka Sandra lalu menahannya sejenak.

__ADS_1


"Makasih ya, Ka... tolong jangan kasih tau siapa-siapa ya kalau sakit ini datang lagi. Apalagi Bunda..." pintaku memohon kepada Ka Sandra.


Lalu aku menghadap ke sebelah kiri tempat tidur, aku meringis kesakitan sambil meremas kepalaku dan berharap perlahan-lahan rasa sakit ini hilang. Rasa kesal sempat hinggap dalam hati, karena sudah cukup lama tiba-tiba sakit ini kembali muncul. Ka Sandra masih memperhatikan aku yang sedang meringis kesakitan, batinnya nampak merasakan sesuatu, namun tidak bisa diungkapkan.


"Arrrrggggggg..." merasa kesal, lalu pergi meninggalkanku yang semakin meringis kesakitan.


***


Setelah larut malam, sekitar pukul 23:30 aku merasa lebih baik. Saat aku hendak pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Tiba-tiba saja aku tidak sengaja memergoki Ka Hans dan Ka Sandra sedang beradu mulut, karena Ka Sandra baru pulang selarut ini, padahal Ka Hans sudah menyuruh Ka Sandra untuk menjaga aku.


"Itu anak emang bisanya cuma nyusahin orang aja kan! Aku punya kehidupan sendiri Ka, bukan cuma buat ngurusin anak yang penyakitan itu doang," ujar Ka Sandra.


"Dia itu adik kamu, San! Dan jangan pernah ngerasa kalau kamu doang yang terusik. Kalau Kakak dan Bunda punya pikiran yang sama kaya kamu, Kakak sama Bunda juga merasa terganggu. Kakak harus rela mengorbankan tugas Kakak di rumah sakit bahkan sampe dapet teguran, semua itu demi Hanin. Bunda rela mengabaikan restaurantnya dan mengeluarkan banyak uang untuk pengobatan yang mahal itu, cuma demi Hanin. Tapi kita gak pernah mengeluh sedikit pun... kita ikhlas, kita ngelakuin ini karena kita sayang dan pengen Hanin sembuh. Tolong kamu ngerti!" tegas Ka Hans.


Setelah kejadian itu. Aku jadi pemurung, dan selalu mengurung diri di kamar. Aku sama sekali tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa termasuk Bunda, sampai-sampai di depan pintu kamarku, aku menempel tulisan 'Aku tidak mau diganggu' agar tidak ada yang masuk ke dalam kamarku. Kecuali bi Minah, itupun hanya untuk mengantarkan makanan dan obat saja. Namun aku lupa satu hal, Bunda memiliki satu kunci kamarku, Bunda berhasil masuk dan menghampiriku yang saat itu sedang menangis.


"Aku bilang aku gak mau diganggu, Bun!" Ujarku kepada Bunda yang semakin mendekatiku.


Bunda duduk di sampingku lalu membelaiku dan mendekapku. Aku rasa Bunda cukup mengerti bagaimana cara menenangkanku. Dengan lembut Bunda bertanya kepadaku.


"Sayang... udah dua hari kamu gak keluar kamar. Udah dua hari juga Bunda menahan rindu untuk ketemu sama kamu. Jangan marah gini terus dong Sayang, kamu cerita sama Bunda. Apa yang terjadi? Kasih tau Bunda, Sayang."


"Hanin pengen mati aja, Bun... Hanin pengen mati aja..." rengekku.


Mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulutku, Bunda tertegun dan malah menangis.

__ADS_1


"Kamu ngomong apa? Apa kamu tega ninggalin Bunda, Sayang? kamu tega bikin Bunda menderita tanpa kamu!"


"Hanin cuma bisa nyusahin Bunda, Hanin cuma bisa ngabisin uang Bunda. Penyakit Hanin ini cuma bikin susah Bunda sama kakak-kakak Hanin. Hanin pengen mati aja, Bun. Biar gak ada lagi yang keganggu gara-gara Hanin."


"Sayang... Bunda sama sekali gak pernah merasa seperti itu. Bunda akan selalu berusaha untuk menjaga kamu. Uang... uang bukan segalanya Sayang. Bahkan Bunda rela kehilangan semua uang Bunda demi kesembuhan kamu, demi mengusir penyakit kamu.... Jangan pernah lagi bikin hati Bunda sakit dengan kata-kata seperti itu, Bunda yakin kamu pasti sembuh Sayang. Bunda yakin," ujar Bunda memelukku sambil menangis.


Aku bener-bener tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya bisa menangis dalam pelukan Bunda.


Namun ada yang sangat aku sesali. Semenjak pertengkaran malam itu, ka Sandra pergi dari rumah dan sampai hari ini dia belum pulang-pulang. Mungkin karena di rumah ini ka Sandra adalah orang yang sering dimarahi dan disalahkan. Meski ka Sandra jutek dan sering kasar kepadaku, namun hari demi hari yang kulalui tanpa ka Sandra cukup terasa aneh. Serasa ada yang hilang di rumah ini. Merasa jadi penyebab kepergian ka Sandra dari rumah, membuatku kepikiran untuk pergi juga dari rumah. Karena menurutku, bila aku tidak ada di rumah, ka Sandra tidak akan merasa di nomor 2 kan terus. Meski dengan rasa takut, aku memberanikan diri bicara dan meminta izin kepada Bunda untuk ikut tinggal bersama ketiga sahabatku. Mendengar itu, Bunda sangat kaget sekali.


"Tinggal sama teman kamu, Sayang?" tanya Bunda cukup kaget.


Aku menganggukkan kepala, namun tiba-tiba saja wajah Bunda berubah menjadi sedih dan meneteskan air mata.


"Kamu gak bahagia ya Sayang tinggal sama Bunda?"


"Ko Bunda ngomong kaya gitu?"


"Buktinya kamu pengen pergi dari rumah dan menjauh dari Bunda."


Bunda menangis, aku jadi semakin tidak enak. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat Bunda bersedih. Aku pun mencoba menjelaskan maksud aku yang ingin tinggal bersama teman-temanku. Bukan karena aku tidak bahagia bersama Bunda, tapi karena aku ingin merasakan suasana yang belum pernah aku rasakan, aku ingin sekali belajar hidup mandiri. Untuk bisa merasakan hidup normal seperti remaja pada umumnya. Namun tetap saja Bunda tidak mengizinkan aku untuk pergi.


Tapi untung saja ada ka Hans, kakakku yang satu ini emang selalu menjadi penyelamat. Ka Hans berhasil membujuk Bunda sehingga Bunda mengizinkan aku untuk tinggal bersama Citra, Friska, dan Ririn. Dengan syarat, aku harus menjaga kesehatan dan jangan sampai telat minum obat. Dan bila sesuatu terjadi kepadaku, ka Hans lah orang pertama yang akan Bunda salahkan. Aku pun menyanggupi syarat yang Bunda berikan kepadaku. Dan aku janji tidak akan mengecewakan ka Hans. Aku senang sekali mendengar itu, karena mulai besok waktuku bersama sahabat-sahabatku bisa lebih lama lagi. Dengan rasa bahagia, aku langsung memeluk erat Bunda dan berterimakasih kepada Bunda dan ka Hans pastinya.


***

__ADS_1


__ADS_2