
Alice sedang cemberut karena sang suami yang selalu berbuat seenaknya. Seperti hari ini dari pagi sampai malam jung hwan tidak lepas darinya. Bagaikan bayi koala yang selalu menempel pada induknya.
Apalagi hari ini dirinya libur membuat alice pusing.
"Sayang.... bisakah kamu melepaskan tanganmu itu dari sana !" ucap alice memohon sambil ekor matanya menunjuk tangan jung hwan yang ada di sebelah dadanya
"kenapa ?
tanganku semenjak tadi diam.... " jawab jung hwan sekenanya sambil menatap alice
"bisa-bisa aku mati muda bila kamu seperti ini terus oppa.... " ucap alice kesal
cup...
jung hwan mengecup bibir alice kilas...
" sayang..... iih..... " geram alice kesal
"panggil aku oppa lagi aku tidak segan-segan membawamu ke kamar sayang....
dan kupastikan kamu tidak akan bisa berjalan besok !" ancam jung hwan.
Alice melipat wajah cantiknya sambil cemberut. Dirinya ingat akan ancaman jung hwan 2 minggu setelah menikah. Alice benar-benar tidak bisa berjalan karena jung hwan terus menggempurnya siang-malam.
Entah, mengapa jung hwan tidak pernah bosan jika menyentuh dirinya.
Di saat dirinya berhalangan pun jung hwan punya seribu satu cara agar bisa melepaskan hasratnya.
"kamu masih punya tangan, mulut dan kedua aset besarmu sayang...
__ADS_1
jadi puaskan suamimu ini !" ucap jung hwan mengancam
Alice mengenggelengkan kepalanya saat ingat kata-kata jung hwan itu.
"kenapa kamu menggelengkan kepalamu ?" tanya jung hwan saat melihat alice menggeleng-gelengkan kepalanya
"ah, aku ?" tanya alice
"tidak..... tidak..... hanya ingat sesuatu !" tambahnya gugup
"ingat apa ?" tanya jung hwan penasaran
"mmh, itu.... persediaan di kulkas sudah habis sayang...
ah, iya..... benar itu..... " ucap alice mencari alasan
"kalau begitu, sekarang kita ke supermarket !" ajak jung hwan
asiik....... " ucap alice girang.
Alice segera berdiri dan menarik tangan jung hwan untuk segera pergi.
Bukan tanpa alasan alice merasa senang bisa keluar dari massion.
Pasalnya, setelah menikah alice benar-benar terkurung di rumah. Sebulan menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga yang baik dan tidak diperbolehkan untuk bekerja. Karena, jung hwan merasa masih sanggup memberi makan dan juga masih bisa memenuhi keinginan alice.
Jung hwan malah menyuruh alice belajar melukis, merangkai bunga dan menjahit agar dirinya tidak bosan di rumah.
"Kamu menggemaskan sayang.....
__ADS_1
aku jadi tidak ingin keluar rumah !
malah ingin menghabiskan hari libur ini di dalam kamar saja !" ucap jung hwan sambil memeluk alice dari belakang
Alice segera membalikkan tubuh sambil memanyunkan bibirnya.
"Sayang.... aah... jangaaaan...
Sebelum menikah kamu selalu membawaku jalan-jalan tapi, kenapa saat sesudah menikah aku seperti tahanan...mmmmm" rajuk alice sambil memanyunkan bibirnya yang mirip bebek
"sayang.... sungguh... ah.... jangan seperti itu !
alu sungguh tidak kuat....
1 ronde dulu, baru kita ke supermarket... " ucap jung hwan sambil menggendong alice seperti memanggul karung beras
"eh.... eh..... ngg mau....
yank iiih..... sayang.... turunin....ih.... " ronta alice ingin turun
"ngg ada penolakkan, ngg ada tawar menawar !" ancam jung hwan.
Dengan ancaman jung hwan, alice pasrah saat suaminya itu membawanya ke dalam kamar.
Siang yang cerah mereka lalui dengan panas. Tetesan keringat pun tidak mereka hiraukan, gairah yang menggebu membuatnya semakin mempercepat tempo permainan mereka dengan berbagai macam gaya.
"Tubuhmu canduku sayang..... " ucap jung hwan di sela-sela permainannya
"aah..... ah...mmmm.....mhh.....mmh..... " desah alice
__ADS_1
"aaah...... " desahan panjang jung hwan saat sesuatu yang mendesak keluar telah datang.