
Para perawat berlari keluar masuk ruangan. Membawa banyak kantung darah. Tak lama terdengar suara tangisan bayi.
''Mas, cucu kita sudah lahir mas'' ucap Mia bahagia
''iya Mih'' Doni juga bahagia mendengar tangisan bayi, Doni langsung memeluk istrinya karena bahagia cucu nya telah lahir.
Dokter keluar dari ruangan operasi ''keluarga pasien'' sahut Dokter
''iya dok saya'' ucap Doni menghampiri dokter. ''bagaimana keadaan anak saya dok?'' tanya Doni kuatir
''Maaf pak bu'' ucap Dokter lirih
''maksud dokter apa?'' Doni kecewa dengan jawaban dokter yang menangani operasi Diana.
''Sekali lagi saya minta maaf pak, karena saya tidak bisa menyelamatkan ibunya, saya hanya bisa menyelamatkan anaknya saja. Saya dan para dokter bedah lainnya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan anak anda, tapi Tuhan berkehendak lain. '' jelas dokter menundukkan kepala dengan perasaan menyesal
__ADS_1
Deg
Seakan dunia berhenti berputar mendengar penjelasan dokter, Doni Mia dan Riki diam mematung mendengar pernyataan dokter tentang kabar duka. Air mata yang tadinya bahagia mendengar tangisan cucunya kini berubah menjadi air mata duka yang mendalam bagi mereka bertiga.
''tidak, Diana Mas... Diana... '' Teriak Mia langsung memeluk suaminya. Mia menangis di pelukan suaminya, air matanya terus menetes tak bisa di bendung lagi.
Doni tak kuasa menahan air mata, Doni pun memeluk istrinya sangat kuat. Mencoba menenangkan istrinya namun Doni sendiri juga lemah.
Mereka saling berpelukan menguatkan satu sama lain. Hati mereka hancur dan sakit mendengar kabar duka anaknya. Doni tak bisa berbicara, bibirnya enggan untuk mengucapkan satu kata pun untuk menenangkan istrinya. Dadanya sesak dan sakit, Doni melepaskan pelukannya dari istrinya. Doni menatap sendu wajah sang istri, dan menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak, berharap sakit di dadanya hilang. Doni menghela napas beberapa kali, agar tak terlalu sesak. Lalu melihat istrinya yang sudah duduk di lantai,bersandar di bangku dengan wajah di tutupi tangannya.
Mia mengangguk dan berdiri di bantu Doni dan Riki. Mereka bertiga berdiri di depan pintu ruangan, tangan Mia bergetar memegang gagang pintu. Mia enggan untuk masuk, tak kuat jika melihat anaknya. Air mata Mia tak berhenti menetes,mengalir lagi membasahi pipinya yang mulai keriput. Dengan langkah pelan Mia masuk di papah Doni dan Riki.
Mia mengedarkan pandangannya, lalu berhenti di sudut ruangan. Mia melihat dua perawat yang sedang menggendong cucunya yang sudah berhenti menangis , ternyata cucunya kembar. Mia tersenyum miris saat melihat wajah kedua cucunya.
Mia mencium kedua cucunya, Lalu melihat tempat pembaringan yang disana terdapat tubuh anaknya yang sudah di tutup kain putih. Mia dan Doni mendekati tempat pembaringan itu, Mia menatap suaminya sendu di angguki oleh Doni,menandakan bahwa dia setuju kalau istrinya mau membuka kain putih tersebut.
__ADS_1
Mia membuka kain putih yang menutupi tubuh anaknya, dilihatnya wajah pucat Diana penuh luka. ''tidak.... Sayang jangan tinggalkan Mami nak, mami mohon bangun nak, bangun.... Kamu ga kasian kepada anak kamu, mereka masih membutuhkan kamu nak. Mami mohon... Diana buka mata kamu sayang... Hiks hiks '' Mia menangis histeris sambil mengguncang guncangkan tubuh Diana.
''Diana... Buka mata kamu nak, kamu ga kasihan sama anak yang masih membutuhkan kamu'' teriak Mia
''Mas... Lihat mas anak kamu, anak kamu jahat mas ga mau bangun dan membiarkan mami nya menangis''. Mia berteriak histeris
Doni mencoba menenangkan istrinya yang sudah kehilangan kendali.
''Diana... Ayo bangun nak bangun... Buka mata kamu''. Mia terus menguncang guncangkan tubuh Diana.
''Mas lihat mas... Aku ku tidurnya sangat pulas sekali mas, dia bahkan tak mendengar maminya sejak tadi memanggil manggil namanya''. Lirih Mia semakin lemas.
''Mas, Diana gak bangun mas... Diana mas... '' Mia berbalik memeluk suaminya lalu terjatuh pingsan.
Doni dengan segera menggendong istrinya dan membawa Mia pergi dari ruangan tersebut.
__ADS_1