
PUK
Tepukan tangan di pundak membuat seseorang terkejut di lamunannya. "kenapa?" Tanya orang yang tadi menepuk pundaknya.
"emmm... Aku gapapa ko Mas" jawabnya pelan, lalu meliriknya dengan senyum tipisnya.
"kamu dari tadi diam saja, apa ada yang sedang kamu pikirkan? "tanya nya lagi,keinginan tahunya membuncak karena ia ingin tahu apa saja yang sudah Roy bicarakan kepadanya, hingga sejak tadi Diana melamun terus, membuat nya penasaran dan juga takut.
" Mas" panggil Diana
"eum"
Diana mendekati Riki dan duduk di atas paha Riki, Diana mengalungkan tangannya di leher Riki. Diana memandang wajah Riki dan menatap matanya mencari sesuatu yang ingin Diana cari dengan tatapan mautnya,membuat Riki menegang dan gugup. Jantung Riki terpacu begitu cepat seolah akan loncat dari tempatnya,dan tak bagus jika terlalu lama seperti ini untuk kesehatan jantungnya.
Riki mencoba memalingkan wajahnya ke kiri tapi dengan sigap Diana menahannya dan menangkupkan kedua tangannya di wajah Riki, seolah tak mengijinkan menatap kearah lain. Ingin menolak tapi suaranya seperti tercekat di kerongkongan dan hanya mampu menelan salivanya.
Perlahan-lahan Diana mendekati wajahnya, Cup cup cup. Tiga kali kecupan mendarat di bibir Riki,membuat Riki semakin menegang dan jantungnya pun semakin berdetak kencang tak karuan,kegugupan Riki semakin ketara, dan Diana menangkap semua itu. Diana menyunggingkan senyumnya tipis, sangat tipis bahkan Riki pun tak sadar akan hal itu. Diana mengulanginya lagi bahkan menekannya lebih lama dan memainkan. Riki pun tak menolaknya dan masih diam terpaku dengan perlakuan Diana.
Diana merasakan getaran di kaki Riki, dan keringat di dahi Riki. Padahal di kamar sejak tadi AC menyala, tak akan panas malahan terasa dingin. "Mas, kenapa kamu gugup seperti itu. Apa aku salah mencium bibirmu yang masih terasa manis itu" ujar Diana setelah melepaskan ciumannya dari bibir Riki.
"eumm, mas hanya kaget saja sayang. Tidak biasanya kamu bersikap seperti ini" ucap Riki mencoba menetralkan jantungnya yang sepertinya akan loncat dari tempatnya. Ini hal yang pertama bagi Riki.
__ADS_1
"oh... Tapi aku merasa kita selalu seperti ini mas, apa aku salah" ucap Diana heran.
"ah.. Iya tapi jangan tiba-tiba Ana,kamu membuatku jantungan saja" ucap Riki semakin gugup.
"kenapa? Mas ga mau ya" cicit Diana dan memalingkan wajahnya seolah kecewa dengan jawaban Riki.
"ti-tidak, mas mau kok Ana" sahut Riki tak tega jika melihat Diana merenggut seperti itu.
"baiklah" ujar Diana semangat lagi dan langsung menciumi Riki. Dan kali ini Riki mencoba mengikuti permainan Diana, Riki melingkarkan tangannya di pinggang Diana, seolah tak boleh berhenti.
''eumm'' ucap Diana menikmati permainan yang ia buat.
Lalu setelah itu... Ahhh silahkan kalian traveling sendiri ya... Hihihi
Matahari nampak nya sudah muncul dan menyinari bumi serta memberikan kehangatan di pagi hari dan membuat nyaman, seolah olah enggan untuk beranjak dari dalam selimut seperti yang di rasakan oleh Riki dan Diana saat ini.
Permainan semalam membuat mereka lelah dan masih mengantuk,bahkan Riki melupakan bahwa pagi ini ia akan ada Rapat penting dari kolega bisnisnya yang ada di luar negeri.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar nyaring di kamar Riki, dan teriakan seorang wanita. Memaksa Riki dan Diana harus segera terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
''Riki, Diana bangun. Ini sudah hampir siang kenapa kalian masih tidur. Lihat jam berapa sekarang?, apa kamu lupa Riki? Hari ini kamu ada janji'' teriak seorang wanita yang tiada lain adalah Caroline mamanya Riki.
Tiba-tiba saja Riki tersentak bangun, dan buru-buru ke kamar mandi. Mengingat dirinya ada janji dengan orang penting. ''astaga... Aku lupa'' cicit Riki berlari kekamar mandi.
Diana juga terbangun karena merasakan pergerakan dari kasurnya. ''jam berapa ini?'' gumam Diana sambil melirik jam di dinding kamarnya. ''ah.. Badanku sakit semua, bahkan semalam aku tidur hampir jam 3'' cicit Diana yang masih duduk di kasurnya. Lalu beranjak membuka pintu lemari pakaian dan menyiapkan pakaian untuk Riki ke kantor.
Sambil menunggu Riki mandi, Diana merapikan kamarnya dan memunguti pakaian yang berserakan di lantai. Tak lama Riki keluar dengan memakai handuk di bawah pinggangnya, rambut nya yang basah membuat ia semakin tampan dan gagah.
Glek
Diana menelan salivanya saat melihat Riki, ia mengingat permainan semalam hingga membuat nya kelelahan, bahkan tak memberinya untuk beristirahat sebentar saja. Diana tersadar akan hal itu, dan kini ia mencoba menetralkan pikirannya. ''Mas, bajunya sudah saya siapkan'' ucap Diana memalingkan wajahnya yang sudah bersemu merah seperti tomat. Dan di balas anggukan oleh Riki.
.
.
.
.
Maaf baru bisa up lagi, ah karena banyak kerjaan jadi ga sempat terus,maaf ya.
__ADS_1
Jangan lupa Like dan vote nya.