
Diana masih kepikiran soal wanita semalam yang menyapanya dilobi restoran. Dia mengatakan kalau suaminya bernama Rendy bukan Riki atau mungkin ia salah dengar, atau salah orang. Sejak pulang dari Restoran Diana terus melamun memikirkan si wanita tadi. Sampai tak mendengar panggilan dari Riki sejak tadi.
''Ana... Diana... Hey Ana...! '' panggil Riki beberapa kali tapi Diana tak mendengar nya. Lalu Riki menghampiri Diana, menepuk lengannya pelan. Sampai Diana melonjak kaget dan langsung menatap Riki. ''Ana, kamu tidak apa-apa? Sejak tadi aku lihat kamu melamun terus seperti ada yang kamu pikirkan'' tanya Riki dan duduk di samping Diana
''Mas kamu ngagetin aja, aku tidak apa-apa ko mas'' sahut Diana
''benarkah'' tanya Riki memastikan
''hemm'' Diana mengangguk membenarkan ucapan Riki
''Baiklah, kalau kamu benar-benar tidak apa-apa, soalnya dari tadi aku panggil kamu tapi kamu diam saja'' ujar Riki sambil berdiri lalu naik ke atas ranjang merebahkan tubuhnya yang sudah lelah.
''maaf mas, hanya saja aku kepikiran sama Papi dan Mami. Aku merindukan mereka'' ucap Diana bohong dan menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga.
''kira mas, kamu melamunin apa?''
''Mas, boleh ga aku besok main kerumah Mami dan ngajakin sikembar juga, mungkin Mami sama Papi juga merindukan mereka'' ucap Diana sambil memeluk lengan Riki manja.
''boleh, nanti di antar oleh supir ya'' ujar Riki mengijinkan Diana pergi untuk menemui orang tuanya. Diana mengangguk senang dan langsung memeluk tubuh Riki. Riki hanya tersenyum melihat kelakuan Diana yang menurutnya seperti anak kecil.
''aku juga ingin menanyakan masalalu ku sama Mami, dan ingin tau siapa Rendy. Nama itu tak asing bagiku, nama yang dulu pernah aku rindukan. Apa dia mantan kekasihku? '' batin Diana
Lalu mereka tidur dengan lelap, dengan Diana memeluk Riki.
__ADS_1
.
.
.
''Tidak.... Tidak... Aku mohon jangan tinggalkan aku. Jangan pergi jangan tinggalkan aku hiks... Aku sayang kamu, aku cinta kamu... Tolong jangan pergi'' tangisnya pecah sambil memohon dan tangan satunya memegangi perutnya
''maaf.. aku harus pergi, karena orang tua mu tak merestui hubungan kita Di...'' ucap seseorang langsung pergi
''tidak aku mohon jangan pergi, jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu'' teriak Diana dan berlutut memohon kepada orang itu agar tak pergi meninggalkannya
Orang itu berbalik badan melihat Diana yang sedang berlutut memohon padanya agar tidak pergi. ''Diana'' Diana menoleh menatap mata yang meneduhkan penuh dengan air mata. ''jaga dirimu baik-baik, jaga anak kita. Maaf aku harus pergi karena cinta kita tak akan pernah bisa bersama dan keadaan lah yang memaksa kita untuk berpisah. Ini salah ku Diana, karena mencintai orang yang salah dan menempatkan hatiku di sana hingga saat akan ku ambil lagi cinta itu malah tumbuh dengan kuat di sana. Aku mencintaimu Diana tapi aku tak bisa bersama mu lagi. Semoga kamu bahagia, itulah Doa ku yang selalu aku panjatkan untukmu. SELAMAT TINGGAL DIANA PUTRI KUSUMA'' ucapnya lalu pergi dan menghilang di telan kegelapan.
''Diana... Ana bangun sayang, bangun'' ucapnya membangunkan Diana
''Huh huh huh... Mas... Mas Riki.. Hiks hiks.. Mas Riki'' Diana membuka matanya dan langsung memeluk Riki, tubuh Diana basah oleh keringat dan langsung menangis
''kamu kenapa sayang? Kamu mimpi buruk?'' tanya Riki, ia kuatir melihat Diana berteriak dan menangis.
Diana mengangguk pelan, dan masih memeluk Riki. ''aku, aku mimpi aneh mas... Laki-laki itu datang lagi di mimpiku mas'' ucap Diana melepaskan pelukannya
Riki menaikan satu alisnya '' maksudnya '' tanya Riki heran
__ADS_1
''aku tidak tau siapa dia mas, tapi dia bilang. Dia mencintaiku mas'' jelas Diana. '' mas siapa aku?'' tanya Diana menatap Riki intens
Riki gelagapan saat Diana menanyakan siapa dirinya. Riki jelas tau siapa Diana dan status Diana saat ini. ''ma-maksud kamu apa Ana?'' ucap Riki gugup
''kenapa mas gugup, aku hanya menanyakan siapa aku mas?'' tanya Diana lagi masih menatap Riki dengan serius
''ya kamu Diana, kamu istri aku Ana. Kenapa kamu bertanya seperti itu?'' jawab Riki menaikan nadanya sedikit berteriak dan menutupi kegugupannya. Riki lagi lagi harus membohongi Diana. Ia bingung dengan keadaan yang seperti ini selalu membuatnya serba salah.
''mas, kenapa kamu berteriak? Apa pertanyaan aku salah hingga kamu membentak aku mas''. Lirih Diana menundukan kepalanya, ia menangis.
''shiit....'' umpat Riki kesal, lagi lagi ia harus melihat Diana menangis. ''Kenapa sih wanita kalau di bentak sedikit saja langsung menangis. Ga mau di salah kan walau dirinya salah, dan inginnya selalu di mengerti. Arrgggggg'' batin Riki kesal dan pada akhirnya Riki hanya bisa pasrah dan mengalah.
''maaf, mas hanya ga suka kamu bilang seperti itu. Seperti tidak percaya sama mas, makanya mas kesal dan bentak kamu Ana'' ucap Riki meminta maaf pada Diana
''mas kesal sama aku, mas benci dong sama aku. Aku beban ya buat mas, makanya mas kesal dan marah sama aku'' ucap Diana menangis lagi
''bu-bukan itu maksud mas, tapi mas pusing'' ucap Riki membela dirinya sendiri agar Diana tak salah paham lagi
''tuh kan bener... Aku beban buat mas hiks'' cicit Diana
''udah ya Ana jangan nangis lagi. Nanti mama dengar kita terus bangun''.
''jadi aku pengganggu ya, mas jahat'' teriak Diana lalu pergi meninggalkan Riki sendiri di kamar
__ADS_1
''Arrgggggg '' Riki mengacak rambutnya frustrasi dan melihat kepergian Diana.