
Karena paham dengan permintaan Rei, Albert bergegas berjalan menuju mobilnya.
Bi Emi, yang melihat majikan mudanya sangat senang, sudah kedatangan teman lamanya. Ia bergegas membukakan pintu rumah dan membiarkan Rei pergi tanpa berpamitan dengan Zenira.
Tidak lama kemudian, Rei pergi bersama Albert.
"Rei, dimana kamu." panggil Zenira yang baru bangun dari tidur siangnya, ia berjalan menuju dapur dan bertanya pada Bi Emi ke mana suaminya pergi.
"Bi Emi, Mana Rei? Aku tidak melihatnya." tanya Zenira yang baru tiba di dapur menemui Bi Emi.
"Mas Rei, sedang pergi dengan teman lamanya, dan akan segera kembali sebelum makan malam." jawab Bi Emi menjelaskan dengan sopan.
Zenira yang menyangka, Rei akan pergi untuk urusan bisnis. Tidak banyak bertanya lagi pada Bi Emi. Ia lebih memilih untuk kembali ke kamarnya sambil menunggu kepulangan suaminya.
Braaak...
Rei membanting pintu, saat itu jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan Zenira terlihat sudah mengantuk.
Arghh...Aaah...
Rei berteriak kencang, membuat Zenira berjalan tergesa menghampiri suaminya.
"Ada apa? Kenapa teriak-teriak, Rei?" tanya Zenira yang terlihat sangat kesal dengan sikap suaminya.
"Diam kamu, AAAH!" teriak Rei lagi menghempaskan tangannya meluapkan emosinya.
Saat pulang Rei terlihat sedang tidak baik-baik saja, dengan baju yang berantakan. ia tidak berhenti membanting apapun yang menghalangi jalannya.
"Kak Zenira, lebih baik kembali ke kamar saja. Mas Rei, biar saya yang mengurus." ucap Bi Emi meminta, ia tidak ingin secepatnya Zenira tahu sifat buruk dari Rei.
"tidak mau. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Rei." jawab Zenira tegas, ingin melangkah menghampiri suaminya tapi di cegah Bi Emi.
"Mas Rei, pasti kalah main game online lagi!" bisik Bi Emi yang membuat Zenira semakin marah.
__ADS_1
Melihat kondisi suaminya itu, Zenira bergegas menghampiri Rei.
"Rei! Kamu sadarlah, kita sudah menikah. Aku mau kamu berubah, tidak bermain game online dan minum-minuman lagi." ucap Zenira yang sangat polos.
"Pergi kamu, kamu siapa melarangku!" teriak Rei mengayunkan tangannya ke wajah Zenira.
"Plaak!" tangan Rei mendarat di pipi istrinya itu.
Zenira tidak menyangka Rei kini sudah berani main tangan padanya.
"Awww...kamu keterlaluan, Rei! aku mengira selama ini kamu adalah sosok pria baik. Tapi aku, sudah salah menilaimu selama ini." pekik Zenira kaget dan menangis terisak, sambil terus menunduk menahan sakit hati yang sungguh tidak tertahankan ini.
"Bagaimana bisa, Rei yang begitu lembut bisa sampai menamparku begini." gumam Zenira masih terisak, butiran cairan bening itu keluar dari matanya mengalir deras tidak berhenti.
Rei terus berteriak meluapkan kekesalan di dadanya, sedang Zenira hanya bisa berjalan masuk ke kamarnya dengan air mata berlinang.
"Tidak bisa di biarkan, Rei belum tahu aku siapa!" gumam Zenira membereskan barang-barangnya.
Zenira sebenarnya tidak tahu harus pulang ke mana, namun karena ia ingat Mamanya masih menginap di rumah orang tua, Rei. diapun memutuskan untuk pergi ke sana. Ingin rasanya ia mengadu semua yang sudah di lakukan Rei padanya malam ini.
Bi Emi yang melihat Zenira bergegas berkemas, mencoba menghalangi langkah Zenira. Namun, langkahnya kalah cepat. Zenira bergerak lebih gesit darinya.
"Kak Zenira, kamu mau kemana?" tanya Bi Emi mencegah yang tidak dihiraukan Zenira.
Bi Emi tergesa berlari kecil menuju ruang tengah, menemui Rei.
"Mas Rei. Zenira baru saja pergi membawa semua bajunya." ucap Bi Emi yang ketakutan.
"Terserah ia mau kemana, aku sudah tidak peduli! Uangku lebih penting dari Zenira." teriak Rei yang kesal mendengar kabar dari Bi Emi.
Tidak membutuhkan waktu lama, Zenira sudah sampai di rumah kediaman orang tua Rei, dengan pipi yang masih memerah karena tamparan suaminya.
"Kenapa pipimu, Nak?" tanya Adelia yang begitu cemas melihat pipi Zenira.
"Rei menamparku, Mi. Ia baru saja kalah permainan game online." jawab Zenira menjelaskan dengan terisak, menundukkan wajahnya.
"Bagaimana bisa Rei kembali bermain game online dengan taruhan menggunakan uang yang besar." tanya Adelia mengeryitkan keningnya, sambil mengompres pipi Zenira.
"Entahlah, Mi!" jawab Zenira singkat, mengangkat tangannya sibuk mengusap air matanya. yang mengalir deras tidak berhenti.
Adelia teringat jika kemarin putranya itu meminta uang, untuk melunasi hutang orang tua Zenira.
Zenira membenarkan bahwa uang yang di minta Rei, untuk melunasi hutang orang tuanya. Tapi tidak sebanyak yang di minta Rei.
"Ah, pantas saja ia bisa bermain game online. Pasti uang itu yang ia gunakan." ucap Adelia mencoba menyimpulkan.
__ADS_1
Ramon yang diberitahu Adelia soal Rei, yang kembali bermain game online menjadi menyesal.
Zenira terlihat tidak terlalu setuju tentang perkataan Papi mertuanya, baginya kini bukan tentang siapa yang menerima warisan tapi bagaimana cara memperbaiki Rei.
"Jika begitu, tidak mau aku memberinya seperpun warisanku, lebih baik aku memberinya pada Zenira saja!" ucap Ramon geram.
"Memang Rei salah, karena senang bermain game online yang menghabiskan banyak uangnya. tapi tentulah Rei tetap anak Papi yang harus di beri kesempatan untuk hidup lebih baik." ucap Zenira membela Rei walau Rei sudah membuat hatinya sakit.
Mendengar perkataan Zenira. Ramon dan Adelia sangat terharu. Zenira memang orang baru dalam keluarga mereka, namun kedewasaan Zenira benar-benar membuat mereka sangat salut.
"Syukurlah Rei bisa mendapatkan istri sepertimu, Zenira. Semoga rumah tangga kalian bisa langgeng." ucap Adelia mendoakan sambil memeluk Zenira.
Braaak...
Terdengar suara pintu rumah di dobrak seseorang.
Zenira terlihat sangat kaget dibuatnya, ia bangkit dari duduknya mencoba melihat siapa yang datang malam-malam dengan membanting pintu.
"Beraninya kamu datang ke sini, tanpa ijinku!" teriak Rei dengan suara baritonnya, terlihat sangat marah.
"Rei, istirahatlah dulu di kamar. Jangan buat keributan di sini!" perintah Adelia tegas. ia bergegas menghampiri, Rei yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
"Mami jangan bela, Zenira! Dia sudah menjadi istriku." teriak Rei menaikkan intonasi suaranya lebih keras.
Melihat kondisi putranya sedang tidak baik-baik saja, Ramon menghampiri Rei.
"Mau kamu apakan, Zenira!" teriak Ramon tegas, juga menaikkan intonasi suaranya.
"Papi, jangan ikut campur!" ucap Rei semakin marah, ia bahkan memarahi Papinya sendiri.
"Rei, jangan!" teriak Zenira mencoba mencegah suaminya berbuat lebih jauh.
Beruntung Zenira melerainya, sehingga Rei bisa di cegah untuk tidak melakukan kekerasan.
"Kenapa kamu mau memukul, Papimu? Coba saja!" ucap Ramon menantang sambil berjalan menghampiri Rei.
"AAH!" teriak Rei yang semakin tidak terkontrol.
"Sudahlah, kalau kamu semakin tidak bisa mengontrol dirimu sendiri. Biar besok aku meminta pengacara mencoret namamu di surat warisku dan menggantikannya dengan nama istrimu." ucap Ramon tidak terima anaknya semakin tidak bisa di nasehati.
"Apa! tidak, Papi! Jangan lakukan ini padaku!" teriak Rei dengan suara keras semakin menggila.
__ADS_1