
"Bukan siapa-siapa hanya teman mengucapkan selamat atas pembukaan kedai." jawab Rei mencoba menenangkan Zenira.
"Baiklah, kalau benar sudah selesai. kita pulang sekarang saja, sebelum hujan turun." ucap Zenira mengajak.
Mereka pun bergegas pulang karena hari terlihat mulai mendung. Mereka pulang dengan satu mobil. dua puluh menit kemudian mereka sudah tiba di rumah.
Setiba di rumah, Rei tidak berani memandang wajah Zenira. Ia tahu betul istrinya kini akan segera tahu rencananya jika dirinya terlihat kebingungan seperti ini. Zenira bergegas melangkahkan kakinya menuju kamarnya, baginya hari ini sangatlah melelahkan.
"Aku mau tidur saja ya." pamit Zenira melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Rei melihat situasi ini saatnya menghubungi Albert kembali, ia bergegas menghubungi Albert dengan mencari nomor ponselnya yang di blokir Zenira.
"Halo, Albert. Tunggu ya, jangan pergi dulu! Aku akan menghubungimu jika aku sudah ada uang." kata Rei dari balik telpon genggamnya.
Zenira yang mendengar perkataan Rei dari balik dinding kamar segera keluar dan menghampiri suaminya itu.
"Apa maksudmu?" tanya Zenira segera tahu rencana Rei.
"Ini teman bisnisku." jawab Rei tenang membela diri.
"Jelas-jelas aku mendengar kamu menyebut nama, Albert." ucap Zenira tidak terima dengan pembelaan suaminya itu.
"Ya sudah, kalau kamu tidak percaya!" teriak Rei yang merasa terpojok.
Zenira kemudian menangis, ia berlari kecil menuju kamarnya, sedang Rei yang merasa bersalah segera mengejarnya. Maksud hati Rei ingin menarik tangan Zenira, apa daya ia justru mendorong istrinya yang sedang berbadan dua itu.
"Aww!" teriak Zenira saat terjatuh di lantai.
"Zenira maaf, aku tidak sengaja." ucap Rei menyesal tidak sengaja mendorong Zenira.
Rei bergegas menolongnya. namun, terlambat darah dari perut Zenira sudah mengalir dengan deras. Ia hanya bisa terdiam tidak berdaya melihat Zenira mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya, untungnya Bi Emi dengan sigap menghubungi pihak rumah sakit terdekat memanggil ambulance, dan tidak lama kemudian tiba di rumah.
Rei hanya bisa menyesali apa yang sudah dia perbuat, sambil terus menggenggam tangan Zenira memberikan kekuatan yang terlihat semakin lemah saja.
"Zenira, maafkan aku!" bisik Rei lembut di telinga Zenira. saat Zenira di bawa dengan mobil ambulance menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Zenira segera di tangani dan seperti yang sudah diprediksi sebelumnya. Zenira kehilangan calon anaknya.
"Zenira, menantuku!" ucap Adelia menangis yang sudah tiba di rumah sakit.
"Ada apa ini! Kenapa lagi dengan Zenira, Rei?" tanya Adelia apa yang sebenarnya terjadi hingga kecelakaan mengerikan ini bisa sampai terjadi pada Zenira.
"Maaf, Mi. Ini semua salahku, aku teledor hingga terjatuh ke lantai saat sedang berbincang dengan Rei." ucap Zenira menjelaskan dengan suara lirih.
"Ya sudah, asalkan kamu sehat. Mungkin memang bayi ini belum menjadi rezeki kalian." ucap Adelia menghibur hati Zenira.
Zenira tersenyum, namun tetap tidak menyangka kejadian ini harus terjadi padanya. Dia kini mengerti kenapa Mamanya dulu selalu berkata jika memang masalah itu bisa dianggap tidak ada lebih baik kita tidak membahasnya.
Namun ia terlanjur marah untuk masalah yang tidak seharusnya ia ungkap sehingga harus kehilangan calon anaknya dengan cara seperti ini.
"Zenira, maafkan aku!" bisik Rei yang terus berusaha yang membuat istrinya itu mau memaafkannya.
Zenira hanya tersenyum sambil menghapus air matanya yang mulai membasahi pipinya.
"Ada Mami nanti kita bahas di rumah, ya! Ini salahku juga, padahal kamu hanya menerima telpon saja. kenapa aku harus marah seperti tadi!" ucap Zenira menyesal sambil memeluk suaminya.
Tapi saat mereka mulai berbaikan sekali lagi Tyra mencoba membuat masalah.
"Mami tadi itu, Zenira ribut dengan kak Rei. Karena Albert menelponnya!" hasut Tyra pada Maminya.
"Kenapa kamu terlihat lebih tahu dari mereka, Tyra!" bentak Adelia yang tidak senang dengan perkataan Tyra.
"Itulah yang terjadi, Rei masih suka kumpul dengan teman-temannya dan masih bermain game online, Mami!" ucap Tyra yang membuat Adelia kembali memasang wajah kesal pada, Rei.
Termakan hasutan dari Tyra, Adelia menghampiri Zenira dan Rei. Adelia menjatuhkan bokongnya duduk di sofa dekat brankar Zenira, ia seperti ingin tahu permasalahan yang sebenarnya antara Rei dan Zenira.
Adelia yang menghampiri Rei kemudian berbisik.
"Kalian harus hati-hati pada Tyra, meskipun bersaudara ternyata ia tidak sebaik seperti yang kita kira." ucap Adelia dengan suara lirih.
"Kamu dengar perkataan Mami, Rei! Aku mau kamu tidak terlalu dekat dengan, Tyra." ucap Zenira yang sudah mengetahui semuanya.
__ADS_1
Zenira sangat yakin awalnya Tyra mencoba mengacau hari ini dengan mendatangkan Emilie tapi ternyata mantan kekasih Rei tidak benar-benar mau ribut di depan keluarga Rei.
"Aku tidak menyangka sekarang, Tyra jadi seperti itu." jawab Rei seperti orang berbisik. Ia tidak menginginkan Tyra tahu tentang apa yang sedang mereka bicarakan.
"Baguslah kalau kalian sudah tahu. Mami pulang dulu ya. Zenira, kamu harus istirahat yang cukup." pamit Adelia meminta sambil berjalan melangkah meninggalkan ruang inap Zenira, yang terlihat masih sangat lemah.
"Tyra, kamu ikut dengan Mami pulang." ucap Adelia mengajak yang tidak mau Tyra membuat masalah lagi, di saat Zenira sedang butuh istirahat.
"Baiklah, ayo kita pulang sekarang, Mi." jawab Tyra bangkit berdiri dari duduknya, terpaksa ia mengikuti kemauan Maminya pulang.
Sedang sopir terlihat membawakan beberapa baju yang di minta Rei untuk keperluannya selama di rumah sakit menjaga Zenira hingga kondisi Zenira lebih baik.
Setelah hampir satu minggu Zenira di rawat di rumah sakit akhirnya ia di ijinkan pulang. Zenira kini lebih tenang meski harus tetap menjaga tubuhnya.
Rasa bersalah Rei kepada Zenira ini ternyata menjadikannya lebih lembut pada Zenira.
Dret..drett..drettt..
Ponsel Zenira berbunyi dan bergegas mengangkatnya.
Betapa kagetnya Zenira saat tahu panggilan telpon itu dari Mamanya, yang menanyakan kabarnya tentang kondisi kesehatannya saat ini. Mamanya mengatakan tidak bisa datang dalam waktu dekat ini ke Jakarta.
Zenira kembali murung dan Rei bergegas menghampirinya.
"Kenapa?" tanya Rei dengan wajah ikut sedih.
"Mama tidak jadi datang." ucap Zenira menundukkan wajahnya.
Rei hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Zenira yang begitu sedih, ia berkata pada istrinya jika Mamanya tidak bisa datang hari ini masih bisa datang di hari esok.
"Sudahlah, tidak usah sedih lagi. Mama akan datang di waktu yang tepat saat kita membutuhkannya." ucap Rei menghibur hati Zenira.
"Lagi pula belakangan ini kita mengalami banyak cerita yang membuat kita tidak mampu untuk menghindarinya, jadi wajar saja." ucap Rei mengingatkan mencubit pipi tembem Zenira gemas.
"Iya, Rei. Ini cobaan hidup yang harus kita hadapi, bukan untuk dihindari. Aku mengakui kekalahanku ini, tentu ini bukan akhir dari semuanya.Tapi tentu ini harus segera di perbaiki." ucap Zenira tersenyum bahagia.
__ADS_1