
Setelah sepakat akhirnya Rei menghubungi Pak Suryo dan memintanya melepaskan Albert agar dia bisa segera di kirim ke luar negeri dan berhenti mengganggu semua di Jakarta.
Pak Suryo setuju dan membebaskan Albert hari itu juga.
Tatang yang mendengar rencana Alya dan Rei menghampiri. "Nona, kamu di sini?" Sapa Tatang kepada Alya.
"Eh, aku. Albert akan pergi kamu bisa mengawalnya hingga ke bandara untuk bukti bahwa dia benar-benar sudah pergi." Pinta Alya kepada Tatang.
Tatang yang sepakat kemudian berpamitan kepada Rei dan pergi dengan motornya untuk mengawal Albert pembuat masalah itu.
"Syukurlah, semoga ini terakhir kalinya aku mendengar namanya di hidupku!" Gumam Rei yang sangat lelah.
Karena urusannya sudah selesai, Alya langsung berpamitan kepada Rei dan meminta maaf jika saat dia datang tadi dia sempat membuat kegaduhan di depan rumahnya.
"Tak apa, justru aku yang berterima kasih atas kehadiranmu hari ini." Ucap Rei mempersilahkan temannya pulang.
*****
Setelah beberapa minggu akhirnya nama Albert sudah tak lagi terdengar di telinga Rei, dia juga sempat bertanya kepada beberapa temannya dan semua berkata Albert sudah benar-benar menghilang dari peredarannya.
Kini konsentrasi Rei kembali ke outlet kopinya yang terlihat mulai ramai dan selalu di penuhi oleh orderan.
Ramon terlihat puas dengan perjuangan putranya itu, tentu semua ini tak lepas dari kerja keras Zenira istrinya yang tak pernah henti mengawasi dan menyemangati bisnis suaminya itu.
"Hari ini ada supplier baru, kita harus mengeceknya sebelum produknya kita pasarkan!" Perintah Rei kepada karyawannya yang terlihat sibuk sejak pagi.
Zenira tak ingin menganggu Rei, dia hanya mengawasi dari jauh sambil beberapa kali mengecek nota-nota yang bertumpuk di meja kerjanya.
Adelia yang kebetulan lewat di daerah itu memberhentikan mobilnya mampir untuk melihat kondisi outlet kopi Rei hari itu.
"Wah kamu sibuk sekali, Nyonya!" Goda Adelia, mertua Zenira itu saat masuk ke dalam outlet.
Zenira menyambut kedatangan mertuanya itu dan berdiri dari tempat duduknya.
"Mami, masuklah. Tidak sibuk kok, hanya mengecek nota saja!" Jawab Zenira sambil mempersilahkan mertuanya itu duduk tak jauh dari tempatnya berada.
"Rei sangat terlihat sibuk, apa dia sudah makan siang?" Tanya Adelia melempar pandang ke arah putranya.
__ADS_1
"Sudah kok, Mami. Tadi Rei sudah makan bakso kesukaannya!"
"Jangan sering-sering makan bakso. Dia itu pernah kena usus buntu karena kalau makan bakso pakai sambal dan saus terlewat banyak. Usahakan makan sayuran juga ya!" Saran Adelia yang membuat Zenira tersenyum.
Memang Rei terbilang asal dalam memilih makanannya. Terkadang saat sibuk dia sampai lupa makan, itulah sebabnya Zenira selalu mendampinginya jika bekerja di outlet kopi Rei ini.
"Ngomong-ngomong Papi, sudah kemari?" Tanya Adelia dengan lembut.
"Belum, Mami. Apa mungkin masih mencari barang di pasar?"
Saat mereka sedang berbincang tentang Ramon tiba-tiba Rei memegangi perutnya. Dia terlihat sangat kesakitan dan kemudian berlutut.
"Rei, kamu kenapa?" Zenira berteriak panik sambil menghampiri suaminya.
Zenira menghampiri Rei yang masih sangat kesakitan sambil terus memegangi perutnya.
"Biar aku panggil dokter!" Teriak Adelia sambil meraih ponselnya.
Rei langsung di papah hingga sofa segera membaringkan tubuhnya yang tinggi tegap itu, Zenira yang terlihat sangat cemas apalagi wajah suaminya itu terlihat pucat dan sangat kesakitan.
Tak lama dokter Arka datang dan menghampiri Rei, dia meminta yang lain menjauh karena Rei butuh udara segar.
Setelah pemeriksaan cukup lama akhirnya dokter Arka memberitahu Adelia jika putranya itu mengalami sakit perut yang di akibatkan oleh asam lambungnya yang tinggi.
"Kemungkinan, putra ibu kurang tidur dan juga mengkonsumsi kopi terlalu banyak!" Jelas dokter Arka membuatkan resep untuk Rei.
"Benar, Mami. Rei terlalu sering begadang belakangan ini." Ucap Zenira mencoba membenarkan apa yang dikatakan oleh dokter Arka.
"Ah, jangan cari-cari kesalahanku. Aku sedang sakit!" Rengek Rei tangannya memegangi perutnya yang masih sakit.
"Iya sudah, biar Mami belikan obatnya agar kamu lekas sembuh." Ucap Adelia tak mau berdebat panjang dengan putranya.
Rei sangat berterima kasih kepada dokter Arka dan berusaha duduk di sofa sampai Maminya kembali.
Setelah meminum obat yang dibelikan Maminya, Rei kini terlihat lebih baik. Namun karena Zenira masih khawatir akan kondisi suaminya, dia meminta Rei pulang saja bersama dia dan Maminya.
Rei setuju dan berpamitan dengan semua karyawan yang ada di outlet kopinya.
__ADS_1
Tiba di rumah Rei di papah Zenira hingga ke kamar, Zenira meminta Tora mengambilkan air es untuk sekadar mengurangi rasa sakit di perut Rei yang katanya masih saja sangat sakit.
"Baik, Kak Zenira!" Ucap Tora bergegas berjalan menuju dapur.
Tak lama kemudian Tora datang membawa kompresan berisi air es yang di minta oleh Zenira.
"Ayo, biar aku kompres. Kamu dingin di awalnya saja kok, setelah itu kamu pasti akan merasa sangat nyaman!" Ucap Zenira jari jemarinya membantu membukakan kancing kemeja yang di pakai oleh suaminya itu.
Setelah mendapatkan kompresan es itu, Rei merasa lebih baik dan mulai mengantuk.
Zenira yang tahu suaminya itu memang kurang tidur berjalan keluar dari kamar itu dan meminta Tora untuk mengikutinya.
Setelah pintu kamar Rei di tutup Adelia langsung menghampiri Zenira untuk bertanya bagaimana kabar dari Rei setelah minum obat.
"Sepertinya lebih baik, sekarang dia sedang tidur. Kemarin dia tak bisa tidur nyenyak, Mami!" Keluh Zenira berjalan melangkah pergi menuju dapur bersama mertuanya.
"Sebenarnya, Rei itu mikirin apa sih?" Tanya Adelia penasaran.
Zenira menggelengkan kepalanya, memang selama ini Rei tidak pernah bercerita tentang masalah dalam kesehariannya, dia lebih suka merahasiakannya dari Zenira karena dia takut istrinya itu jadi merasa terbebani akan masalah yang sedang dia alami.
"Harusnya kamu menanyakan apa masalah, dia tak pernah sampai seperti ini sebelumnya, Zenira!" Bisik Adelia yang sangat khawatir akan kondisi putranya itu.
"Apa mungkin ada masalah yang dia rahasiakan dariku?" Bisik Zenira dengan pandangan kosong.
Adelia tak berani berkomentar lagi, dia lebih memilih untuk berjalan menuju kulkas dan mengambil sepotong cake yang di belinya beberapa hari yang lalu.
"Kamu mau, Zenira?" Tanya Adelia mencoba mencairkan suasana.
Zenira hanya menggaruk dahinya dan terus menduga-duga apa sebentar yang sedang di pikirkan oleh suaminya itu.
To be continue...
Mampir juga ke novelku yang baru tamat ini yuk! Judulnya Tawanan Ceo Arogan π yang sudah ganti sampul baru nih guys π₯°
Kasih vote, like dan commentnya!! Siapa tahu suka π**
__ADS_1