
Zenira yang melihat Rei datang bertanya apa yang terjadi sehingga Mami berteriak sangat keras.
"Ada paket misterius untuk Mami, tapi tidak ada nama pengirimnya." jawab Rei menceritakan paket yang dia menduga dikirimkan Albert untuk Maminya.
"Albert ? apa benar Albert yang mengirim paket itu?" tanya Zenira terlihat sangat kaget dan tidak percaya pria itu masih saja memikirkan cara untuk membalas dendam pada keluarga suaminya.
"Entahlah, aku pun tidak tahu apa sebenarnya ia inginkan dariku." jawab Rei sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Rei, apa kamu tidak ingin melakukan perjalanan dengan Papi dan Mamimu, ya sekedar liburan singkat. Mereka pasti sangat membutuhkan waktu untuk beristirahat dari semua masalah yang terjadi beberapa waktu ini!" ucap Zenira memberi saran pada suaminya.
Rei tersenyum, memang belakangan ini masalah bertubi-tubi di dalam keluarganya dan terlihat mereka semua memang sangat membutuhkan liburan sekadar dua atau tiga hari.
Dia kemudian mulai mencari-cari tempat berlibur yang dekat dengan Bandung dan berbiaya tidak terlalu mahal.
Salah satu tempat yang dia tuju adalah Lembang, tempat ini tidak jauh dari rumah Zenira namun seperti terlupakan.
Tempat ini sangat sejuk dengan biaya untuk liburan ke Lembang tidak terlalu mahal sehingga sangat cocok untuk mereka.
"Aku pesan kamar hotel, bagusnya berapa kamar?" tanya Rei pada Zenira.
"Pertanyaan yang konyol, tentu saja kita hanya perlu dua kamar. karena Papi pasti tidur dengan Mami dan kita pasti tidur bersama." jawab Zenira menautkan kedua alisnya.
Mendengar perkataan istrinya itu, Rei kemudian memasang wajah sedih dan berkata pada Zenira.
"Mengapa aku menanyakan berapa kamar yang diperlukan karena aku masih merasa Tyra ada di antara kita." ucap Rei menjelaskan.
Zenira kemudian mengusap punggung Rei dengan lembut, dan memintanya mengikhlaskan kepergian adiknya itu. Memang tidak mudah bagi siapapun menerima kematian yang terasa sangat cepat itu.
Rei tersenyum dan memeluk lembut istrinya itu, dia kemudian memberitahu beberapa tempat yang mereka bisa sewa untuk liburan mereka nanti.
Zenira menunjuk pada satu hotel yang menawarkan banyak fasilitas hotel dan kebetulan lokasinya tidak jauh dari beberapa tempat wisata yang terlihat sangat asri.
"Bagusnya kapan, ya aku memberitahu Mami rencana kita ini?" tanya Rei pada Zenira sambil menatap lekat Zenira.
"Besok saja, sekarang mereka pasti sedang beristirahat!" ucap Zenira sambil menarik selimutnya untuk bergegas tidur.
__ADS_1
Rei menghela napas panjang kemudian mematikan televisi dan lampu kamar untuk bergegas tidur.
Pagi ini Zenira bangun lebih awal karena dia harus menyiapkan rencana berliburnya dengan suami dan juga mertuanya.
Sarapan sudah siap dan Rei bergegas turun dari kamarnya untuk sarapan pagi.
Tora terlihat sudah sibuk dengan semua piring dan sendok yang harus segera dia tata sebelum nyonya dan tuannya turun.
"Kita sarapan apa?" saat tiba di ruang makan dan melihat Tora masih saja sibuk.
"Saya masakan nasi goreng, ya?" jawab Tora menawarkan menu pagi ini.
Rei mengangguk dan meminta Tora sedikit mempercepat langkahnya menuju dapur dan tidak lama kemudian menyajikan nasi goreng yang terlihat masih sangat panas itu.
"Kenapa kamu buru-buru, tidak seperti biasanya?" tanya Rei saat melihat tangan Tora gemetar.
"Ma-maaf, mas Rei. saya kesiangan." jawab Tora memberitahu alasannya telat mempersiapkan makan pagi.
"Ada apa, kamu tidak seperti ini sebelumnya?" tanya Rei penasaran.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Rei menyelidik.
"Entahlah, mas Rei." jawab Tora menundukkan wajahnya.
Rei kembali mencurigai Albert si penyebab kerusuhan di rumahnya. Bahkan soal Cindy datang ke rumah, karena informasi dari Albert.
"Ada apa ini, kenapa kalian belum menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga?" tanya Adelia yang baru saja masuk ke ruang makan.
Rei menceritakan apa yang semalam di alami oleh Tora. Adelia kemudian memiliki dugaan yang sama dengan Rei bahwa penyebab semua ini adalah Albert.
"Pasti dia, siapa lagi?" ucap Adelia menyakinkan Rei.
Kring..kriing..
__ADS_1
Ponsel Tora kembali berbunyi, Rei langsung meminta Tora menunjukkan nomor ponsel yang tertera di layar ponselnya untuk mengetahui siapa kiranya yang menelponnya.
"Nomor ponselnya tidak aku kenal, tapi aku yakin ini perbuatan, Albert!" geram Rei kesal.
Adelia mengangguk dan meminta pelayan setianya itu memblokir saja nomor yang tertera itu.
"Baik, nyonya. Biar saya blokir sekarang." jawab Tora mengikuti perintah nyonyanya.
Baru saja nomor itu di blokir tiba-tiba masuk lagi panggilan dengan nomor yang berbeda.
"Ini benar-benar niat, ya yang neror, ya sudah matikan saja ponselmu nanti kalau ada yang penting biar suruh telpon ke nomor telpon rumah saja." perintah Rei yang melihat Tora semakin tidak tenang.
Tora mematikan ponselnya dan bergegas ke dapur untuk mengerjakan sisa pekerjaannya yang belum juga selesai dia kerjakan.
"Ada-ada saja, ya?" tanya Adelia sambil memulai sarapan paginya.
Zenira yang baru tiba di dapur menanyakan kepada Mami mertuanya itu apa yang baru saja terjadi di rumah itu, sehingga mereka terlihat sangat sibuk.
"Ada yang neror, Tora! Dia sampai nggak bisa tidur nyenyak tadi malam." ucap Rei sambil menyajikan sarapan pagi di piring makan Zenira.
"Ah, ada-ada saja!" jawab Zenira sambil memulai sarapannya.
"Mas Rei, tolong!" teriak Tora dari dapur.
Rei yang kaget bergegas beranjak pergi menuju asal suara Tora dan segera mengecek apalagi yang terjadi kali ini.
"Tolong, mas Rei. Tadi ada orang masuk ke kamar saya." ucap Tora sambil menunjuk ke arah pagar belakang rumah.
"Coba kita cek CCTV, semoga ada gambar pelaku yang tertangkap kamera." ucap Rei memberikan saran sambil melangkah berjalan ke pos keamanan.
Petugas keamanan dengan sigap segera mengecek gambar CCTV yang ingin dilihat Rei, dari CCTV itu tertangkap seseorang dengan wajah tertutup kain terlihat masuk tergesa ke kamar Tora dan seperti mengambil sesuatu dan berlari dengan memanjat tembok.
"Coba cek, apa yang hilang Tora." ucap Rei meminta kepada Tora yang terlihat masih kaget itu.
Tora segera masuk ke dalam kamarnya dan benar saja sebuah celengan milik Tora raib di ambil maling.
__ADS_1
"Ini benar-benar aneh, kalau dia tidak mengenalmu mana mungkin dia tahu kalau kamu punya simpanan uang di kamar." ucap Rei menyimpulkan.