TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 23 - Membaik


__ADS_3

"Aku kenapa?" tanya Ramon dengan lirih.


"Papi tadi menerima telpon. dari seorang yang tidak dikenal, entah dari siapa tiba-tiba Papi jatuh tersungkur sambil memegangi dada." ucap Adelia menceritakan kejadian sebenarnya.


"Papi sungguh tidak ingat, siapa yang menghubungi Papi, Mi." ucap Ramon menatap Adelia.


"Sudah, Papi tidak perlu memikirkan apapun sekarang. Papi harus istirahat." ucap Rei sambil merapikan selimut yang menutupi dada Papinya.


"Sekarang kamu lebih bijaksana ya, Rei. Tidak salah Papi memintamu segera menikah." ucap Ramon sambil menatap lembut wajah putranya.


"Benar itu Rei, apa yang dikatakan Papimu. salah satu cara agar kamu bisa hidup bahagia, ya segera menikah." ucap Adelia menambahkan tersenyum bahagia di hadapan suami dan anaknya.


Rei tertunduk malu dengan perkataan Mami dan Papinya, entah apa yang dimiliki Zenira selama ini hingga ia tidak berkutik di depannya.


Saat mereka sedang asik berbincang tiba-tiba ponsel Rei berbunyi.


Dret..drett..drettt..


Rei bangkit berdiri dari duduknya berjalan melangkah keluar ruang rawat Papinya untuk menjawab panggilan telpon itu.


"Halo." sapa Rei mengangkat sambungan telponnya dengan suara lembut.


"Sekarang Papimu, besok giliran Mamimu!" balas penelepon Rei. Ia menutup sambungan telpon itu sepihak.


Suaranya seperti tidak asing bagi Rei, ia pun segera tahu jika penelepon tadi adalah Albert. yang memang sudah bebas dari tuntutan yang di layangkan Papinya.


Rei sangat yakin Albert tidak akan melepaskannya semudah yang ia bayangkan, tapi mengapa kini orang tuanya yang menjadi sasaran, sesal Rei.


"Rei, siapa yang menghubungimu, Nak?" tanya Adelia sambil melangkah keluar dari ruang rawat Ramon menghampiri putranya.


"Hanya teman, Mami." jawab Rei tidak mau Maminya cemas.


"Syukurlah. Hei, pulanglah! Kasihan jika Zenira terlalu lama sendiri di rumah." ucap Adelia sambil menepuk bahu putranya itu.


"Baiklah, Mami! Rei pulang dulu esok Rei akan datang lagi." pamit Rei mengangguk sambil mencium punggung tangan Adelia.


Zenira memang sedang marah padanya, tapi entahlah apa mungkin saat ia pulang nanti Zenira mau memaafkan perbuatan masa lalunya dengan Cindy.

__ADS_1


Rei di masa lalu memang tidak berpikir dampak buruk yang ia terima sekarang, sehingga hidup sesuka hati dan akhirnya menyesal di masa sekarang.


Tiba di rumahnya, beberapa ruangan terlihat sudah gelap.


"Bi Emi." panggil Rei dengan suara baritonnya.


"Iya, mas Rei. Ada perlu apa?" tanya Bi Emi tergesa menghampiri Rei.


"Kenapa rumah ini gelap sekali, apa ada lampu ruangan yang putus?" tanya Rei mengeryitkan keningnya.


"Tidak ada, saya mematikan beberapa lampu di ruangan rumah ini. karena permintaan kak Zenira yang menginginkan suasana lebih gelap." jawab Bi Emi menjelaskan dengan menundukkan wajahnya.


"Jangan-jangan ia masih kesal padaku." ucap Rei mencoba menyimpulkan apa yang sedang terjadi.


Bi Emi tidak menjawab ia hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan kembali menuju kamarnya.


Hari itu sudah larut dan Zenira terlihat sudah tidur. Rei tidak mau membuat istrinya itu terbangun.


Rei memilih tidur di sofa tidak jauh dari tempat tidurnya, ia khawatir jika tidur di samping Zenira bangun-bangun kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya.


Waktu pagi telah datang kembali. Rei bangun dari tidurnya dan duduk di sofa itu, ia melihat istrinya masih tertidur dan terlihat belum berubah posisi dari kemarin terakhir ia melihatnya.


"Lalu siapa yang menyelimutiku?" gumam Rei mengeryitkan dahinya.


Tidak mau terlalu lama mengira-ngira, Rei bangkit berdiri dari duduknya bergegas menuju kamar mandi. Ia melihat kimono mandinya sudah siap di sana. bahkan gosokan yang biasa, ia cari sebelum mandipun sudah tertata rapi dengan sabun dan sampoo miliknya.


"Wah masa Zenira yang mempersiapkan semua ini?" batin Rei dalam hati.


Rei bergegas melakukan ritual mandinya dengan hati yang senang. Jika ini semua Zenira yang siapkan berarti istrinya sudah tidak marah lagi padanya, pikir Rei.


Setelah selesai mandi Rei berencana memeluk tubuh istrinya itu. Zenira pasti akan senang jika ia menghampiri dalam kondisi baru selesai mandi, pikir Rei.


Dengan hati senang, Rei keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan kimono mandinya dan segera menghampiri istrinya.


"Mau apa?" tanya Zenira dengan wajah masih marah.


"Bukankah ini semua kamu yang siapkan?" tanya Rei dengan senyuman mengembang.

__ADS_1


"Bukan." jawab Zenira singkat menggelengkan kepalanya.


"Kalau bukan kamu siapa?" tanya Rei penasaran.


"Aku baru bangun, Rei!" jawab Zenira dengan wajah masih sangat mengantuk.


Rei berjalan melangkah ke lemari pakaian, ia berdiri dan mengambil baju di lemari sambil penasaran siapa sebenarnya yang melakukan semua ini.


Zenira yang melihat suaminya kebingungan, tertawa kecil karena tingkah suaminya itu.


Melihat Zenira tertawa Rei akhirnya tahu bahwa memang Zenira yang menyelimutinya dan mempersiapkan perlengkapan mandinya.


"Pasti kamu!" ucap Rei mencoba meyakinkan yang ada di pikirannya saat ini.


"Memangnya siapa yang mau mengurusmu serapi ini kalau bukan aku!" jawab Zenira kesal.


"Maafkan aku, Zen. Aku paham kamu pasti marah mendengar cerita masa laluku." ucap Rei tidak menyangka akan menyebabkan masalah selama ia menikah dengan Zenira.


"Aku sudah memaafkanmu! Aku paham untuk benar-benar mendapatkan cinta sejati, harus bisa menerima semua masa lalu dari pasangannya dan tidak lagi berharap pasangan hidupnya adalah manusia tanpa masa lalu." jawab Zenira tersenyum manis.


Rei merasa lega akan pemikiran Zenira ini, ia kemudian bergegas memakai bajunya karena mereka memang belum sarapan.


"Ambilkan sarapannya kemari, aku masih sangat letih." ucap Zenira merengek manja.


"Baiklah, aku ambilkan sarapanmu. Tunggu di sini, ya!" jawab Rei menuruti permintaan istrinya.


Rei berjalan melangkah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan mereka yang akan di bawanya ke kamar.


"Bi Emi, bisa bantu saya?" tanya Rei yang melihat Bi Emi menyusun menu bubur ayam di meja makan.


"Bisa, mas Rei. Ini sudah saya siapkan 2 mangkok bubur ayam, kerupuk dan 2 kotak susu kemasan." jawab Bi Emi dengan cekatan menyusun mangkok bubur di atas nampan.


Rei bergegas membawa nampan berisi sarapannya yang sudah di siapkan Bi Emi menuju kamarnya.


Sikap Rei ini benar-benar membuat BI Emi sangat takjub. Ia tersenyum sumringah melihat sikap majikannya itu.


Zenira yang melihat pelayanan suaminya hari ini terlihat sangat senang, ia bergegas berharap Rei akan terus seperti ini padanya. Meski bisa saja ia berubah karena suatu masalah di kemudian hari.

__ADS_1


__ADS_2