TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 43 - Orang Baru


__ADS_3

"Iya, Pak maaf!" Ucap sopir sambil menurunkan muatannya.


Saat dus-dus besar berisi kopi sudah di turunkan, Alex teman Rei datang menempati semua janji mereka kemarin.


Rei menunjukkan kopi yang dia tawarkan kepada Alex..


"lihatlah, terlebih dahulu. Kamu pasti suka!" Ucap Rei mengambil beberapa biji kopi yang masih berada di dalam dus besar.


Alex nampak puas dengan biji kopi yang di tawarkan oleh Rei.


"Yang ini kopinya nanti pasti sedikit manis, kamu benar-benar mahir memilih kopi!" Puji Alex kepada Rei yang nampak senang dengan tanggapan Alex itu.


"Baiklah, kalau begitu bagaimana proses pembeliannya?" Tanya Rei.


"Aku akan beli tujuh dus besar ini dan membayarnya secara tunai, setelah ini habis, aku akan kembali lagi kemari untuk mengecek lagi kopi yang datang kemudian hari!" Ucap Alex sambil menunjuk ke arah biji-biji kopi di hadapannya.


Rei tersenyum puas, saat ini yang dia butuhkan memang orang-orang seperti Alex yang paham kopi dan bersedia membayarkan pembelian kopinya secara tunai.


Setelah sepakat Alex membayar semua barang yang di belinya dan meminta karyawan Rei membantunya menaikkan semua kopi itu ke mobil pick up yang di bawanya.


"Tolong carikan aku barang seperti ini lagi ya, kalau sukses tentu aku tak akan melupakanmu, Rei!" Ucap Alex membuat Rei tersenyum lega.


Alex yang telah selesai membeli kopi dari Rei bergegas pergi, mereka berjanji akan kembali bertemu setelah kopi yang di bawa Alex telah habis terjual.


Rei kembali ke kantornya untuk menanyakan kondisi Zenira yang saat dia tinggalkan tadi masih tertidur.


Rei mengirimkan pesan singkat WA kepada Maminya namun tak mendapatkan jawaban.


"Kemana saja mereka ini, giliran ada yang penting tak jawab pesanku!" Gumam Rei kesal.


Saat Rei masih sibuk dengan ponselnya tiba-tiba seseorang dari masa lalu Rei datang ke cafe itu.


"Hai, Rei. kamu masih ingat dengan aku!" Sapa Devga, pria yang tiba-tiba kembali ke hadapan Rei.


"Ah, mau apa kamu ini!" Ucap Rei kesal.


"Kenapa kamu tidak suka dengan kedatanganku, tadi aku lihat saat Alex, datang kamu menyambutnya dengan senang."

__ADS_1


"Tentu saja kamu berbeda, Devga. Duh kamu ini, bikin kesal saja."


"Kenapa kamu kesal melihatku, apa salahku padamu. Kamu ini, aneh!" Ucap Devga sambil menutup pintu kantor tempat Rei bekerja.


"Pergilah, aku enggan melihat wajahmu!" Ucap Rei kesal.


"Kamu ini kenapa sih?" Tanya pria yang ternyata bernama Devga.


Devga memang teman lama Rei yang juga mantan kekasih dari adik Rei, Tyra. Mereka sebenarnya sudah putus dari beberapa tahun yang lalu namun masih saja berhubungan baik dengan keluarga Rei.


"Mau apa kamu di sini, kamu tau aku tak suka denganmu kan?" Ucap Rei dengan kesal.


"Kenapa kamu jadi begini sih, aku ini salah apa?" Tanya Devga yang malah masuk ke kantor tempat kerja Rei untuk berbincang.


"Entahlah, wajahmu selalu saja membuatku kembali teringat akan mendiang adikku, Tyra. Ah kamu cuma bikin aku kesal saja. Pergilah!" Usir Rei sambil membanting gelas yang ada di depannya.


"Aku nggak mengerti denganmu, tadi waktu Alex datang kamu begitu ramah kepadanya, tapi kenapa kepadaku kamu begitu galak!" Ucap Devga menjatuhkan bokongnya duduk di meja tempat Rei bekerja.


"Tentu saja dia berbeda, mana ada kenangan Tyra pada Alex. Mereka bertemu saja tak pernah." Ucap Rei mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kamu sepertinya lupa ini hari apa?" Tanya Devga dengan mata yang masih sipit saja.


"Kamu mau apa, cepat katakan jangan bikin aku penasaran seperti ini!" Tegas Rei sambil berdiri di depan Devga.


"Kamu ingat, dulu kamu pernah bilang aku tak boleh meniup lilin ulang tahun, Tyra karena kamu kakaknya makanya aku kemari." Ucap Devga yang membuat Rei mengeryitkan dahinya.


"Kamu ini bicara apa sih, aku nggak paham?" Ucap Rei sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Devga berjalan keluar dari kantor tempat mereka berbincang, kemudian dia mengambil sebuah kotak besar dari mobilnya. Setelah kotak itu di bawanya, Devga kemudian kembali lagi menuju ke samping Rei dan menaruh kotak besar itu di meja kerja Rei.


"Bukalah!" Perintah Devga pada Rei.


"Ah, kamu pasti mau mencelakaiku!"


"Heh, seburuk apa hubunganmu denganku hingga aku punya alasan untuk mencelakai mantan kakak iparku, Buka!" Tegas Devga.


Rei yang tadinya tak mau membuka kotak itu akhirnya mengalah dan membuka kotak besar yang ternyata berisi sebuah kue ulang tahun dengan tulisan Tyra di atasnya.

__ADS_1


Rei terdiam, dia baru ingat jika hari ini adalah hari ulang tahun adiknya yang baru saja meninggal.


"Kamu masih ingat pada, Tyra!" Ucap Rei dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu saja meski dia sudah lama menjadi mantan kekasih buatku, yakinlah di hatiku masih terukir nama adikmu yang cantik itu!" Bisik Devga membuang napas panjangnya.


Selain mengingat hari ini adalah hari ulang tahun Tyra, Rei juga teringat dulu dia pernah memarahi mantan kekasih adiknya itu karena meniup lilin ulang tahun milik Tyra saat Tyra belum hadir di acara ulang tahunnya. Rei berkata yang seharusnya yang meniup lilin ulang tahun saat Tyra tidak ada adalah dia karena Rei adalah kakak dari Tyra.


Karena alasan itulah Devga datang ke cafe Rei hari ini, dia ingin Rei yang meniup lilin ulang tahun untuk adiknya yang baru saja berpulang tahun itu.


"Kamu masih saja ingat akan kata-kataku hari itu?" Tanya Rei sambil mengusap air matanya.


"Kamu yang minta kan, jadi tentu aku akan mengingatnya!" Ucap Devga sambil menyalakan lilin yang mengelilingi kue ulang tahun Tyra.


Setelah semua lilin menyala, Devga meminta Rei berdoa untuk Tyra dan meniup lilin ulang tahun itu.


Rei nampak memejamkan matanya, dia kemudian berdoa semoga adiknya, Tyra bisa menemukan ketenangan yang tidak dia temukan di dunia ini.


Selesai berdoa Rei langsung meniup lilin ulang tahun itu dengan penuh keharuan.


"Bagaimana kalau kamu ikut pulang ke rumah Mamiku, dia pasti senang jika tau kamu datang membawa kue ini untuk merayakan hari ulang tahun, Tyra!"


Devga menggelengkan kepalanya kuat-kuat, sebenarnya dia tau Mami Rei akan senang karena dia mampir ke rumahnya, tapi entahlah semenjak Tyra meninggal dia selalu sedih jika mengetahui kondisi keluarga Rei yang begitu kehilangan sosok Tyra.



~To be continue..



Terima kasih atas dukungannya, untuk pembaca yang baik hati. Jangan lupa mainkan jempolnya Like, Vote, Comment and Subscribe sebanyak-banyaknya😍😍😍



Mampir ke karya author yang lainnya yuk, sambil nunggu Up. Klik aja profil author ❤️🖤


__ADS_1


__ADS_2