TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 12 - Tidak Sesuai Rencana


__ADS_3

"Jangan coret namaku, Papi!" ucap Rei merengek dengan sorot mata menghunus tajam.


Rei sebenarnya mengerti, Papinya sudah sangat lelah dengan hobinya bermain game online yang menghabiskan banyak uangnya. Bahkan keluarganya tidak menurunkan foto mantan kekasih Rei dari tempat penyimpanan sebenarnya, agar Rei ingat dulu ia pernah gagal melangkah ke jenjang pernikahan.


Namun, entahlah permainan game online selalu menjadi tempat yang sangat membuatnya penasaran sehingga sulit bagi dirinya untuk menjauh apalagi melupakan permainan itu.


"Bagus juga, Zenira menggantikanmu sebagai penerima warisan. Dari pada kamu habiskan hartaku untuk permainan game online." ucap Ramon mengancam yang membuat ia tidak berdaya.


"Sudah, Papi! Rei sudah lelah, ia bukannya sudah mendengar keputusanmu. Sekarang biarkan ia tidur." ucap Adelia meminta pada Ramon yang semakin marah.


"Ya sudah, Mami urus dia!" ucap Ramon meninggalkan mereka di ruang keluarga.


Adelia kemudian meminta pelayan mengangkat tubuh Rei menuju kamarnya.


Di kamar suaminya, Zenira menggantikan baju Rei dan menyeka tubuhnya yang penuh akan peluhnya seharian ini.


Rei tidak sepatah katapun dapat berkata-kata lagi, ia yakin apa yang dikatakan Papinya tadi sudah final. Dan kini Zeniralah yang akan menjadi pewaris Papinya.


"Sudah Rei, jangan seperti anak bayi begitu. Dengan atau tanpa warisan Papimu, kamu tetap anak kami." bisik Adelia lembut di telinga Rei. Mencoba membuat Rei lebih tenang.


Rei tidak menjawab, dirinya hanya mau harta Papinya. Entah keserakahan apa yang ada di dirinya, hingga ia tidak pernah cukup dengan pemberian sekedarnya dari orang tuanya.


Zenira yang dari tadi ada di kamar itu, hanya mendengarkan perkataan Adelia.


"Zen, Mami titip Rei denganmu. Kalian bicarakan tentang masalah kalian berdua, siapa tahu setelah sadar, Rei bisa diajak bicara." pamit Adelia bangkit berdiri dari duduknya, pergi keluar dari kamar putranya dan membiarkan sepasang suami istri itu untuk berbincang.


"Iya, Mi. Zenira mengerti, maaf sudah membuat Mami khawatir." jawab Zenira dengan wajah tenang.


Zenira mengantar Adelia sampai depan kamarnya. Lalu ia bergegas menutup pintu kamar dan mulai bicara dengan Rei.


"Kamu dengarkan, keputusan Papimu. Sekarang aku yang akan memegang hartamu! Aku tidak mengerti apa maksudnya ini, tapi aku mohon jadilah laki-laki yang lebih baik setelah ini!" ucap Zenira tegas meminta Rei untuk merubah sikapnya.


Rei hanya diam mendengar apa yang dikatakan Zenira, ia tidak sedikitpun ingin tahu apa maksud Papinya dan Zenira.

__ADS_1


Saat ini yang ia inginkan hanya tidur dan melupakan apapun yang terjadi hari ini.


Matahari bersinar terang, dengan sinar cahayanya memasuki celah jendela kamarnya. Rei menggeliat bangun dari tidur lelapnya, menemukan Zenira yang tidur pulas di sampingnya. Ia tidak sedikitpun menyentuh Zenira yang kini jadi pewaris Papinya.


Rei bergegas bangun meninggalkan Zenira yang masih tidur di ranjang king zisenya, ia segera pergi menuju dapur dan memakan apapun yang ada di sana.


Tora, pelayan yang bekerja di rumah orang tuanya, terus mengawasi majikan mudanya itu, ia tidak berani mendekat karena tahu pasti ia akan kena marah jika berani mendekat.



Tok... tok...tok...



Terdengar suara pintu kamar di ketuk, Zenira baru saja selesai melakukan ritual mandinya.


"Masuk!" ucap Zenira singkat dari dalam kamarnya.


"permisi Neng, Zenira. Mas Rei sedang ada di dapur, sepertinya ia mencari makan untuk sarapan paginya." ucap Tora sopan dan ramah.


"Mau aku buatkan sarapan?" tanya Zenira mencoba menawarkan bantuannya pada Rei.


"Hah! Kamu mau sombong bukan, karena sekarang harta Papi kamu yang pegang!" teriak Rei dengan suara tinggi masih terlihat kesal dengan keputusan Papinya.


"Aku sedang menawarkan bantuanku, Rei. Jangan salah paham!" jawab Zenira ketus dengan memohon.


Rei tidak mau tahu, ia membuka kulkas dan lebih memilih makanan dingin untuk di makannya ketimbang menerima bantuan Zenira, untuk memasakkan sarapan paginya.


"Andai semalam kamu tidak mengadu pada Papi yang bukan-bukan, aku tidak akan kehilangan hartaku. Dasar wanita tukang lapor!" teriak Rei keras membuat Adelia terbangun dari tidurnya.


Adelia menghampiri Zenira yang sangat sedih dengan sikap Rei padanya pagi ini, lalu ia mengajak Zenira menjauh karena merasa dalam keadaan Rei sekarang sulit bagi mereka membuat Rei menyadari apa yang sudah ia katakan.


"Sudah, ayo pergi." ucap Adelia mengajak, ia menarik tangan Zenira pelan.

__ADS_1


Zenira yang tidak tahan akan perkataan Rei, memeluk Adelia dan menumpahkan air matanya, ia menangis tersedu.


"Nak, jangan menangis. Sebenarnya dulu Rei anak yang sangat baik dan penurut. Tapi entahlah teman-teman dekatnya selalu dapat membuatnya semakin jahat seperti ini." ucap Adelia mengusap bahu Zenira pelan.


"Mami, sungguh aku tidak mengerti apa yang terjadi pada Rei." ucap Zenira terisak di pelukan Adelia.


"Iya, Mami tahu. Tapi Mami yakin kamu pasti bisa membuatnya lebih baik." bisik Adelia lembut di telinga Zenira dan menghapus air matanya.


Zenira tersenyum, ia memang ingin sekali membuat pria yang kini menjadi suaminya lebih baik, tapi apa yang harus ia perbuat.


"Nak, sini. Papi beritahu!" bisik Ramon yang ternyata sejak tadi mengamatinya dari jauh.


"Cara merubah Rei, kamu harus menandatangani surat warisan yang Papi berikan untukmu." bisik Ramon lirih di telinga Zenira.


"Baiklah, Pi. Aku bersedia menandatangani surat warisan. yang sudah, Papi berikan untukku." jawab Zenira mengangguk menyetujui.


Tujuan Ramon tentu agar jika suatu hari Rei main curang, uang yang Papinya berikan pada Zenira tidak segera habis karena Rei.


Mendengar ide dari Ramon, Adelia menyetujui. Tapi apakah ini benar-benar bisa membuat Rei menjadi lebih baik, tentu semua tergantung pada Rei bagaimana ia berkeinginan merubah sifatnya.


"Tapi intinya kamu harus mau menerima hak waris ini dulu, dan jangan katakan tentang rencana kita ini pada siapapun." ucap Ramon meminta tegas.


Setelah pembicaraan panjang itu, Ramon memanggil pengacara untuk memuluskan rencananya. Seperti yang sudah Ramon katakan, sebelumnya nama Rei di coret dari hak waris dan digantikan dengan nama Zenira.


"Halo, Adrian! bisa kamu datang ke rumahku. Bawa juga berkas surat hak waris yang sudah aku buat dan tandatangani, seperti yang aku katakan padamu nama Rei coret dan kamu ganti dengan Zenira." perintah Ramon dari balik telpon genggamnya.


"Beres, pak Ramon! Kebetulan saya sedang menuju ke rumah bapak, tidak perlu khawatir semua sudah di selesaikan. Hanya tinggal di tanda tangani saja oleh hak warisnya." balas Adrian dari seberang telpon genggamnya.


Setelah mengatakan itu Ramon mematikan sambungan telponnya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Adrian pengacara Ramon sudah tiba di rumah.


Zenira kemudian menandatangani surat waris itu di depan pengacara Ramon.

__ADS_1


Rei yang merasa sudah gagal dengan rencananya hanya bisa terdiam dan menerima kekalahannya meski dengan hati yang tidak ikhlas.


__ADS_2